[Ulasan Buku] Demi Hidup Lebih Baik

Alhamdulillah, buku yang saya beli pada tanggal 27 Shafar 1432 H lalu, bisa saya selesaikan 16 Rabiul awwal kemarin. Buku setebal 186 halaman ini disesaki oleh sebagian besar narasi ust. Anis Matta dalam kelompok pengajian Al-Bahri, dimana dalam pengajian tersebut, Ust. Anis Matta merupakan penceramah tetap. Sebagai tambahan, dibagian kedua dalam buku ini, juga terdapat sumbangan materi yang disampaikan oleh ustadz-ustadz lain semisal Ust. Aunurafiq  Fadlan, Ust. Ahzami Sami’un Jazuli.

Bagian menarik disini mungkin tentang ‘kehadiran’ buku ini. Penyuntingnya, Ust. Herry Nurdi, merasa sayang akan materi-materi berbobot yang disampaikan dalam pengajian (Al-Bahri) tersebut untuk dibiarkan mengalir begitu saja tanpa dimampatkan menjadi sebuah buku yang kelak memang diniatkan bersifat lebih langgeng. Apa sahabat seperti mengingat-ingat sesuatu dengan membaca alasan kehadiran buku ini?  Ya. Memang membaca pengantar buku ini membuat saya, mengingat pengantar yang juga diberikan oleh Deka Kurniawan dalam ‘Arsitek Peradaban’ (kumpulan esai penggugah jiwa), sebuah kumpulan tulisan Ust.Anis Matta yang lebih dahulu terbit. Hanya sedikit berbeda kondisi, Ust. Herry Nurdi mentranskip narasi-narasi yang didapatkannya dalam kelompok pengajian Al Bahri, menyuntingnya dan menyulapnya menjadi sebuah buku. Sedangkan Deka Kurniawan mengumpulkan esai-esai berseri Ust. Anis Matta dari rubrik ‘Syazarot’, dalam majalah lawas “Inthilaq”.

Kita (bagi sahabat yang juga telah menikmati “Arsitek Peradaban”) telah melihat kekhususan buku Arsitek Peradaban yang isinya membidik kebangkitan peradaban. Bila melihat cerita sang penyunting, esai-esai tersebut memang berlatar situasi dimana saat itu tarbiyah sedang mengalami masa awal ‘pembangunan’. Sedang buku ini (bagaimana saya bisa tepat menggambarkannya ya?) berisikan materi yang bermanfaat secara ruhiyah dan penuh hikmah. Buku ini merekam pemikiran dan agenda-agenda dakwah, analisa tentang manusia dan kehidupannya, bahkan banyak hal yang bersifat panduan praktis bagaimana menjalani keseharian, seperti dituturkan penyunting dalam bagian pengantarnya. Buku ini memang tidak sekhusus buku “Arsitek Peradaban”.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama tidak lebih spesifik dibandingkan bagian kedua yang mengangkat narasi-narasi bertemakan ‘syahadat’ dan narasi tambahan lain yang bertemakan ma’rifatullah, ‘membersamai’ Rasulullah dalam kehidupan, menjadi terhormat bersama Al-Qur’an hingga ditutup dengan narasi berjudul ‘Islam, Jalan Lurus Keselamatan’. Narasi-narasi pada bagian pertama bersifat umum. Bahkan pada awal buku ini, narasi yang tersaji bertema ‘siasat setan menyesatkan manusia’ dan pada bagian pertama buku inilah diangkat tema perjalanan sejarah tauhid juga diangkat narasi teknis tentang gaya hidup.

Membaca buku ini, meskipun isi dari 22 narasi didalamnya tidak mengalir dalam satu arus ‘tema besar’ yang sama, tetap membuat saya menikmati tiap tulisannya. Selain dari kecenderungan saya yang menyukai karya-karya Anis Matta, buku yang tidak begitu mengkhususkan satu ‘tema besar’ ini justru seperti saling melengkapi dalam mencapai tujuan yang menjadi judul buku ini “Demi hidup Lebih Baik”.

Untuk judul itu, saya merasa memang pas. Demi Hidup Lebih Baik, fragmen kehidupan yang kita jalani saat ini, sejatinya tidak banyak dari kita yang memahami dengan pemahaman seharusnya. Karena banyak hikmah yang masih terhalangi atas ‘terbatas’nya kapasitas diri kita. Demi Hidup Lebih Baik, kita harus bernegosiasi secara benar dengan hakikat banyak hal dalam kehidupan. Dan detil-detil kehidupan itu, perlu kita penuhi haknya dengan pemahaman yang sesuai (bukan sekehendak kita). Dan untuk memenuhi hak itu, belajar dari mereka yang memiliki ilmu jauh lebih luas dan dalam adalah sebuah kebutuhan. Seperti dikatakan dalam buku ini, bahkan berislam tidak bisa pelajari secara autodidak. Karena berIslam secara autodidak membuka kemungkinan untuk kita berperanga muslim sesuai dengan hawanafsu dan selera kita. Dan dituturkan oleh Rasulullah, berIslam seperti itu adalah proses yang tidak benar. “Tidak beriman salah seorang diantara kamu, sampai kalian menjadikan hawanafsunya mengikuti apa yang aku bawa, Islam.”

Mohon maaf bila penuturan review saya atas buku ini terasa berantakan sekali. Semoga review ini bermanfaat. Dan semoga keberkahan dilimpahkan kepada sang penyunting buku dan pemberi narasi-narasi yang menjadikan kehadiran buku ini.

Advertisements

3 thoughts on “[Ulasan Buku] Demi Hidup Lebih Baik

    1. faraziyya

      wah wah, iya, insyaAllah segera menuju TKP.

      wordpress cukup susah? kalo saya karena lebih dulu ketemu WP jadi merasa yang sulit lah ngelola blogspot. oia, knp ngga gabung dimultiply?
      disana lebih banyak teman-teman dari STAN.

  1. Pingback: al Faza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s