habit-tidak-baik: sulit tidur

Ini habit yang sangat tidak baik. Jauh sekali dari sunnah Rasulullah yang menganjurkan umatnya untuk tidur diawal ba’da isya dan terbangun di jeda-jeda pertigaan malam. Habit yang sudah lama menjangkiti diri.

Saya ingat sekali, akhir tahun 2007 adalah saat bermulanya habit ini. Benar saja itu kata bijak bahwa suatu kebiasaan bisa bermula dari pemaksaan. Akhir tahun 2007, itulah yang terjadi, yakni saya terpaksa lebih lama terjaga dimalam hari demi menyelesaikan laporan-laporan praktikum yang mampu mengeritingkan jari-jari. Bersamaan dengan itu pula, saya mengenal kopi sebagai sahabat baik untuk terjaga bersama lembaran-lembaran laporan praktikum.

Ketika pindah kampus pun, habit itu berlanjut. Bukan lagi mengerjakan laporan praktikum yang menjadi aktivitas pengalih dipanjangnya malam, melainkan hal-hal yang bahkan kadang tidak begitu mendesak. Masalahnya habit itu menjelma menjadi warna saya. Meski bukan lagi laporan yang menjadi teman, kegiatan browsing hingga blogwalking menjadi pengganti teman diujung malam hingga dini hari.

Kurang dari satu tahun belakangan, yakni awal tahun 2010, habit itu berlanjut (meski untuk alasan berbeda). Karena dimasa-masa itu, Mama menderita sakit berkepanjangannya yang  memasuki kondisi mulai mengkhawatirkan. Saya ingat sekali, saat-saat itu ia tidak pernah bisa lelap. Selalu terjaga. Matanya mungkin tertutup, tetapi ia tidak tidur. Karena sesak yang menyerangnya, kesulitan bernapas hingga menghalangi aktivitas tidurnya. Itu terjadi untuk waktu yang cukup lama. Dan dimasa-masa itu, aku sendiri tiada bisa tertidur (coba kalian diposisiku menyaksikan kegelisahannya karena tidak bisa tidur, benar sulit rasanya untuk lelap sementara ia tidak). Malam-malamku selalu habis berada diruang tamu, entah dengan menyambi surfing internet atau menghabiskan buku-buku. Sampai aku memastikan bahwa ia telah tenang (dalam usahanya untuk tertidur), maka aku mencoba untuk tidur perlahan.

Kini, habit itu masih menjadi dirinya dalam diri saya. Belakangan mungkin karena suksesnya keheningan ujung malam membuat saya nyaman melahap lembar demi lembar buku bacaan. Dan kantuk itu semakin mudah saya abaikan.

Ini sangat tidak baik. Saya mulai tahu tubuh saya beradaptasi untuk sesuatu diluar kewajaran. Ingin menghentikan habit ini, tapi juga dalam banyak hal saya membutuhkan habit ini.

Lihatlah, ada saja alasan untuk terjaga dipanjang malam. Saya belum tahu sampai kapan. Tapi yang jelas, saya terus berusaha. Biar habit-tidak-baik ini setidaknya membawa produktivitasnya sendiri: entah dalam bentuk aktif membaca atau berusaha menulis.

Advertisements

One thought on “habit-tidak-baik: sulit tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s