Bagian Pengantar,

Bagian dari buku, bergenre fiksi maupun nonfiksi, yang tidak boleh terlewatkan adalah bagian pengantar oleh penulis. Bila itu adalah majalah, maka editorialnya tidak bolehterlewatkan.

Kali ini saya akan mengangkat apa-apa yang saya dapat dari ‘bagian pengantar’ produk bacaan yang beberapa hari ini sedang dekat dengan jangkau baca saya.

Pertama, pelajaran yang saya dapat dari kumcer Jendela Cinta. Pengantarnya ditulis oleh Ust. Fauzhil Adhim. Berikut beberapa bagian yang saya kutip dari tutur tulisannya.

Sekaranglah saatnya kita berbuat, Teuku. Atas setiap tetes tinta yang mengalir menjadi kata, berhitunlah akibat apa yang dapat ditimbulkannya. Atas setiap untaian kata yang Ia perkenan bagimu untuk menjelma menjadi cerita, bertanyalah apakah ia menjadi perantara mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya melalui pena. Ataukah justru engkau masih saja sibuk bergenit-genit dengan peramainan kata, yang bagi sebagian manusia menakjubkan, tetapi kering dari kebaikan?

Tidak. Tetapi runcingkanlah ujung penamu. Bangunlah, dan beri manusia peringatan . agungkanlah Tuhanmu agar setiap kata yang engkau tuliskan, menjadi pembuka pntu-pintu berkah yang melimpah dari langit dan dari bumi. Kenalilah tabiat dari tiap kata yang engkau pergunakan untuk merangkai kisah. Sesungguhnya diantara bayan (kata-kata yang tersusun rapi), kata Nabi saw, adalah sihir. Ia bisa lebih tajam dari seribu pedang. Ia dapat menggerakkan manusia dari segenap penjuru untuk saling tenggelam dalam keharuan. Tetapi pada saat yang sama, ia pun dapat membuat kita saling marah. Padahal agama kita sama, keyakinan kita sama, dan yang kita bela pun semestinya sama”

Saya tidak ingin menginterpretasi paragraf yang lihai sekali dibuat oleh Fauzhil Adhim tersebut. Karena memang, menangkap kalimat-kalimat itu pun akan bersifat sangat subjektif. Nah, monggo untuk diresapi lebih lanjut bila anda sepakat menyukainya seperti saya.

Selanjutnya, saya akan berbagi bagian pengantar yang biasa saya nikmati dari majalah Tarbawi. Di majalah tersebut, bagian pengantar diberi nama rubrikKhotorot (editorial). Mengapa? Selain memang karena saya menyukai setiap tema yang dibawakan dengan menggugahnya oleh Tarbawi, biasanya ‘bagian pengantar’ atau editorial yang dibawakan Tarbawi terasa khas sekali.

Bisa jadi memang bahasannya sama seperti media massa lainnya, yakni apa yang sedang terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia, atau isu berpengaruh dari luar. Tetapi Tarbawi selalu berhasil mengangkatnya dengan gaya yang tidak berlebihan tetapi menyadarkan, mencerahkan. Tidak muluk-muluk atau bertujuan untuk membingungkan, tetapi lebih mengajak untuk banyak mengambil pelajaran.

Seperti Khotorot (editorial) untuk edis 245 kali ini. Yang berjudul Politik berbalas pantunmonggo disimak… 🙂

“Menuduh bohong seperti berpantun. Menolak tuduhan bohong adalah reaksinya. Kasus-kasus besar yang banyak bermunculan belakangan ini, yang semakin ramai kita saksikan, seolah menyuguhkan panggung untuk berbalas pantun.

Para tokoh agama menuduh pemerintah melakukan kebohongan. Presiden tidak terima disebut berbohong, lalu pertemuan digelar dan klarifikasi disampaikan. Lalu MUI mengimbau agar para tokoh agama tidak membuat kegaduhan bila mengritik pemerintah. Yang lain meminta agar tokoh agama tidak ambisi politik. Para tokoh agama itu pun menolak tuduhan ambisi politik itu. Dan sebagian kita pun bingung. Tidak mau peduli.

Menuduh bohong seperti bergayung. Menolah tuduhan bohong adalah sambutannya. Maka ketika Gayus tiba-tiba menuding Satgas Pemberantasan Mafia Hukum telah melakukan banyak rekayasa atas dirinya, para personil satgas itu pun membantah, menolak keras pernyataan Gayus. Dan kita pun menyaksikan gayung bersambut dalam berbalas pantun.Yang satu menuduh. Yang satu menolak tuduhan.

…kekuasaan diperoleh melalui hajatan politik. Hajatan politik diikuti para kontestan politk. Hajatan politik ada yang yang langsung dan ada yang terselubung. Maka memimpikan semua hiruk pikuk ini bersih dari campur tangan politik adalah mimpi.

Namun begitu, tidak seharusnya mereka yang merasa menjadi tokoh, yang menjadri pejabat, yang punya wewenang, yang punya kuasa, yang punya massa, terus menerus menyuburkan rasa bingung masyarakat. Seharusnya mereka melakukan tindakan-tindakan kuat, dan tidak hanya menikmati panggung berbalas pantun,”

(majalah tarbawi edisi 245, dengan beberapa suntingan untuk keperluan tulisan)

Nah, bagian pengantar yang bisa sangat mendewasakan bukan?

*Selebihnya adalah bahwa pengantar itu merupakan konklusi yang ditujukan untuk memudahkan pembaca dalam menikmai produk bacaan*

(ngelanjutin baca Tarbawi >.<)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s