[Ulasan Buku] The Wisdom of Women

Buku ini adalah hadiah dari Tarbawi. Tiap peserta SMKT (Sekolah Menulis Kearifan Tarbawi) mendapatkannya. Sudah beberapa bulan ditangan saya. Alhamdulillah bisa saya selesaikan malam ini. Reporter Majalah Tarbawi, mba Wasilah yang menghimpun tulisan dalam buku setebal 323 halaman ini membocorkan di halaman belakang buku, bahwa orang-orang yang diwawancarainya untuk buku ini adalah ‘tarbawi berjalan’. Masing-masing mereka menjalani proses benturan, penyesuaian, pilihan pengabdian yang berbeda. Namun semuanya menghasilkan nada yang sama. Kekuatan sekaligus kelembutan. Sedih tapi juga syukur. Cemas tapi juga keyakinan.

Buku ini merangkum 27 cerita hasil wawancara dari 27 wanita berbeda. Dan sedari awal membaca ini, hati saya senantiasa tergerus, selalu penuh keharuan. Titik-titik airmata senantiasa menggantung. Subhanallah, buku ini bertutur dengan cara sederhana tapi berdampak sangat luarbiasa. Sarat sekali dengan hikmah, dan begitu dekat dengan kita-wanita.

Bersama dengan buku ini, saya mengingati Mama, mengingati perempuan-perempuan hebat dikehidupan saya. Bersama buku ini, saya diperkenalkan banyak sekali wajah kesabaran. Masya Allah. Dalam buku ini baru 27 perempuan menjadi sentra cerita, dan bayangkan populasi perempuan yang jumlahnya melebihi laki-laki. Ditiap-tiap mereka memiliki ‘cerita yang tidak pernah biasa’. Ya, menjadi perempuan memang ‘tidak pernah biasa’. Dan buku ini menghimpun ‘banyak hal dari perempuan yang mengilhami’.

Bahwa buku ini bertujuan mengilhami, ikhtiar itu benar-benar terwujud. Karena saya, sebagai pembaca, benar-benar terilhami. Seperti misalnya terilhami dengan gagasan ‘beribadah melalui buku’ seperti cerita hidup yang dimiliki oleh Kiswanti (Seorang lulusan SD yang memiliki taman bacaan dan perpustakaan keliling). Mengilhami saya untuk mengikuti jejaknya kelak (aamin). Saya mencintai buku, dan saya ingin beribadah dengan kecintaan saya terhadap buku tersebut.

Saya terilhami oleh kisah Septi Peni Wulandari, penemu Jarimatika. Dengan rumus cemerlangnya: “kalau kamu sungguh-sungguh dirumah, keluar kemana pun akan membawa kesungguhan itu. Tapi kalau kamu sungguh-sungguh diluar, tidak mungkin kamu bawa kesungguhan itu ke rumah. Kalau bisa professional sebagai seorang Ibu, bekerja apapun akan professional juga”. Karenanya, saya terilhami dan bertekad menjadi seorang Ibu yang professional.

Saya mendapati lagi cerminan kisah cinta Rasulullah-Khadijah, selain dari cerita Habibie-Ainun, juga tercermin pada kisah cinta Munir-Suciwati. Mereka yang mendapati pasangan hidupnya sebagai ‘sejiwa’nya. Iya saya cemburu, menjadi ingin memiliki cerita senada. Saya juga dibuat iri oleh indahnya perangai Rofiqo Meila Sari yang ternyata hanya dua tahun lebih tua dari saya, tapi telah dijemputnya khusnul khotimah. Ia yang sebelum kematiannya bahkan telah dirasakan oleh banyak orang dikehidupannya sebagai ‘pelita’.

Saya terilhami oleh kegigihan banyak wanita dan cerita-cerita mereka dalam buku ini. Betul-betul saya merasakan bahwa apa yang menimpa saya pada jenak waktu lalu baru dua ujian (yang dimata orang bisa saja menjadi besar, tapi masih tidak sebesar kuasa dan rahmatNya). Saya terilhami oleh perempuan-perempuan yang diwawancarai dibuku ini yang mereka adalah orang-orang yang  Allah-sentris, betul-betul menjadikan Allah sebagai pusaran utama untuk senantiasa bergantung.

Buat saya, buku ini benar-benar dahsyat. Semoga keberkahan terlimpah kepada perempuan-perempuan ini yang lapang dalam berbagi hikmah luarbiasa. Semoga mereka selalu terpelihara oleh kebaikan Allah swt. Saya speechless. Sepanjang membaca buku ini, ngga kuasa nahan airmata. Mungkin memang bawaan sifat saya yang melankolis sehingga cerita-cerita dalam buku ini ngena banget. Tapi saya yakin, mereka yang jarang menangis pun, dengan membaca buku ini bisa mereka dapati terapi yang melembutkan hati.

Salut.

#and highly recommended for women

Advertisements

[Ulasan Buku] Demi Hidup Lebih Baik

Alhamdulillah, buku yang saya beli pada tanggal 27 Shafar 1432 H lalu, bisa saya selesaikan 16 Rabiul awwal kemarin. Buku setebal 186 halaman ini disesaki oleh sebagian besar narasi ust. Anis Matta dalam kelompok pengajian Al-Bahri, dimana dalam pengajian tersebut, Ust. Anis Matta merupakan penceramah tetap. Sebagai tambahan, dibagian kedua dalam buku ini, juga terdapat sumbangan materi yang disampaikan oleh ustadz-ustadz lain semisal Ust. Aunurafiq  Fadlan, Ust. Ahzami Sami’un Jazuli.

Bagian menarik disini mungkin tentang ‘kehadiran’ buku ini. Penyuntingnya, Ust. Herry Nurdi, merasa sayang akan materi-materi berbobot yang disampaikan dalam pengajian (Al-Bahri) tersebut untuk dibiarkan mengalir begitu saja tanpa dimampatkan menjadi sebuah buku yang kelak memang diniatkan bersifat lebih langgeng. Apa sahabat seperti mengingat-ingat sesuatu dengan membaca alasan kehadiran buku ini?  Ya. Memang membaca pengantar buku ini membuat saya, mengingat pengantar yang juga diberikan oleh Deka Kurniawan dalam ‘Arsitek Peradaban’ (kumpulan esai penggugah jiwa), sebuah kumpulan tulisan Ust.Anis Matta yang lebih dahulu terbit. Hanya sedikit berbeda kondisi, Ust. Herry Nurdi mentranskip narasi-narasi yang didapatkannya dalam kelompok pengajian Al Bahri, menyuntingnya dan menyulapnya menjadi sebuah buku. Sedangkan Deka Kurniawan mengumpulkan esai-esai berseri Ust. Anis Matta dari rubrik ‘Syazarot’, dalam majalah lawas “Inthilaq”.

Kita (bagi sahabat yang juga telah menikmati “Arsitek Peradaban”) telah melihat kekhususan buku Arsitek Peradaban yang isinya membidik kebangkitan peradaban. Bila melihat cerita sang penyunting, esai-esai tersebut memang berlatar situasi dimana saat itu tarbiyah sedang mengalami masa awal ‘pembangunan’. Sedang buku ini (bagaimana saya bisa tepat menggambarkannya ya?) berisikan materi yang bermanfaat secara ruhiyah dan penuh hikmah. Buku ini merekam pemikiran dan agenda-agenda dakwah, analisa tentang manusia dan kehidupannya, bahkan banyak hal yang bersifat panduan praktis bagaimana menjalani keseharian, seperti dituturkan penyunting dalam bagian pengantarnya. Buku ini memang tidak sekhusus buku “Arsitek Peradaban”.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama tidak lebih spesifik dibandingkan bagian kedua yang mengangkat narasi-narasi bertemakan ‘syahadat’ dan narasi tambahan lain yang bertemakan ma’rifatullah, ‘membersamai’ Rasulullah dalam kehidupan, menjadi terhormat bersama Al-Qur’an hingga ditutup dengan narasi berjudul ‘Islam, Jalan Lurus Keselamatan’. Narasi-narasi pada bagian pertama bersifat umum. Bahkan pada awal buku ini, narasi yang tersaji bertema ‘siasat setan menyesatkan manusia’ dan pada bagian pertama buku inilah diangkat tema perjalanan sejarah tauhid juga diangkat narasi teknis tentang gaya hidup.

Membaca buku ini, meskipun isi dari 22 narasi didalamnya tidak mengalir dalam satu arus ‘tema besar’ yang sama, tetap membuat saya menikmati tiap tulisannya. Selain dari kecenderungan saya yang menyukai karya-karya Anis Matta, buku yang tidak begitu mengkhususkan satu ‘tema besar’ ini justru seperti saling melengkapi dalam mencapai tujuan yang menjadi judul buku ini “Demi hidup Lebih Baik”.

Untuk judul itu, saya merasa memang pas. Demi Hidup Lebih Baik, fragmen kehidupan yang kita jalani saat ini, sejatinya tidak banyak dari kita yang memahami dengan pemahaman seharusnya. Karena banyak hikmah yang masih terhalangi atas ‘terbatas’nya kapasitas diri kita. Demi Hidup Lebih Baik, kita harus bernegosiasi secara benar dengan hakikat banyak hal dalam kehidupan. Dan detil-detil kehidupan itu, perlu kita penuhi haknya dengan pemahaman yang sesuai (bukan sekehendak kita). Dan untuk memenuhi hak itu, belajar dari mereka yang memiliki ilmu jauh lebih luas dan dalam adalah sebuah kebutuhan. Seperti dikatakan dalam buku ini, bahkan berislam tidak bisa pelajari secara autodidak. Karena berIslam secara autodidak membuka kemungkinan untuk kita berperanga muslim sesuai dengan hawanafsu dan selera kita. Dan dituturkan oleh Rasulullah, berIslam seperti itu adalah proses yang tidak benar. “Tidak beriman salah seorang diantara kamu, sampai kalian menjadikan hawanafsunya mengikuti apa yang aku bawa, Islam.”

Mohon maaf bila penuturan review saya atas buku ini terasa berantakan sekali. Semoga review ini bermanfaat. Dan semoga keberkahan dilimpahkan kepada sang penyunting buku dan pemberi narasi-narasi yang menjadikan kehadiran buku ini.

[Ulasan Buku] Allah, Kokohkan Kaki Kami Diatas Jalan-Mu

Buku ini adalah satu dari beberapa buku yang saya beli di stand tarbawi-press tepatnya pada IBF tahun lalu. Jadi buku ini hampir berumur satu tahun dalam tangan saya. Tapi, alhamdulillah kemarin bisa saya selesaikan. Bukan perkara ketebalan buku, tentunya. Karena buku ini hanya setebal 323 halaman. Tapi mungkin lamanya saya membaca buku ini lebih diakibatkan kebiasaan saya yang multi-reading. Dengan kebiasaan multi-reading itu, saya biasa membaca beberapa buku berbeda judul dalam kurun waktu bersamaan.

Selain itu, konten dari buku yang diangkat ini pun tidak merupakan alur-mutlak yang perlu dibaca secara runut. Sehingga dalam membaca buku ini, saya menyesuaikan kondisi dan kebutuhan materi bacaan. Saya membacanya dengan jeda-jeda. (kelihatan banyak beralasan ya? Hee)

Apa kata yang tepat buat saya memberi endorsement kepada buku ini ya? Buat saya buku ini bagus sekali. Reflektif menggugah khas hasil tari-jari ust.Lili nur aulia selalu menjadi favorit saya, selalu pas untuk dimasukkan dalam list buku-buku yang bersifat tazkiyatun-nafs. Nah, memang itu, ust. Lili nur aulia merupakan tokoh penulis yang saya idolakan disamping karya ust.anis matta dan ust. Salim a fillah. Alasan tambahan lagi buat saya menyukai buku ini adalah bahwa buku ini adalah terbitan tarbawi-press. (koleksi buku saya banyak terbitan tarbawi-press)

Nah, bagaimana dengan isinya? Buat sahabat sekalian yang juga langganan membaca majalah tarbawi, maka buku ini saya gambarkan serupa kumpulan tulisan-tulisan ust.lili nur aulia dalam rubrik ruhaniyat. Buku ini terdiri dari 56 tulisan yang dirangkum dalam sembilan bab yang temanya berbeda-beda. Buku ini kaya sekali hikmah dari perjalanan hidup para sahabat-tabi’in-tabi’aat. Banyak menceritakan teladan para penghulu dakwah, membawa kita berpikir bersama dan menyingkap makna.

Bab yang saya suka adalah Bab VI: Masuki Semua Ruang Kebaikan. Mengapa saya suka bab itu? Sebenarnya saya suka hampir keseluruhan tulisan didalam buku tersebut. Tapi timing yang membuat bab ini menjadi berbeda ‘rasa’nya buat saya pribadi. Kebetulan bab ini saya habiskan didetik-detik sama menemani Mama dihari terakhirnya didunia. Dan pas-nya lagi, tulisan didalamnya, yang beberapa diantaranya bernapaskan ‘birrul walidain’ itulah yang seolah bertumbuk-lenting-sempurna dengan kondisi hati saya saat itu. Dan tulisan didalam bab ini pula yang membuat saya, membuat hati saya berusaha terus bersabar. Seolah bacaan saya saat itu memberikan sinyal. Bayangkan saja, dalam perjalanan menuju Sukabumi (mendampingi Mama), bacaan yang saya baca saat itu berjudul “sebelum dua pintu surga tertutup”.

Tentang rekomendasi, rasa-rasanya saya mekomendasikan keseluruhan tulisan dalam buku ini. Apalagi buat sahabat sekalian yang kerap terjangkit kondisi ‘galau’, yang belakangan menjadi populer (entahlah). Setidaknya ini satu dari sekian banyak obat hati (no offense, itu hanya istilah dari saya).

Belum-belum, bagi sahabat sekalian aktivis dakwah, buku ini pas. Untuk meredakan ‘luka-luka’ yang mungkin sesekali (atau banyak-kali) sahabat sekalian alami. Tenang saja, tidak akan banyak kalian temukan tulisan bernapas cinta-napsu-melulu, karena buku ini memang bukan serial cinta (apa deh?) tapi buku ini menyehatkan, buat ruh (tentu saja!).

Yak! Sekian laporan saya tentang buku ini. Sebenarnya saya ingin berpanjang-panjang lagi dalam bercerita disini. Tapi rasa-rasanya, saya lebih memilih untuk meminjami saja buku ini buat kalian yang berminat (dalam rangka berbagi hikmah, tentunya). Sila hubungi saya dibelakang layar :p

 

habit-tidak-baik: sulit tidur

Ini habit yang sangat tidak baik. Jauh sekali dari sunnah Rasulullah yang menganjurkan umatnya untuk tidur diawal ba’da isya dan terbangun di jeda-jeda pertigaan malam. Habit yang sudah lama menjangkiti diri.

Saya ingat sekali, akhir tahun 2007 adalah saat bermulanya habit ini. Benar saja itu kata bijak bahwa suatu kebiasaan bisa bermula dari pemaksaan. Akhir tahun 2007, itulah yang terjadi, yakni saya terpaksa lebih lama terjaga dimalam hari demi menyelesaikan laporan-laporan praktikum yang mampu mengeritingkan jari-jari. Bersamaan dengan itu pula, saya mengenal kopi sebagai sahabat baik untuk terjaga bersama lembaran-lembaran laporan praktikum.

Ketika pindah kampus pun, habit itu berlanjut. Bukan lagi mengerjakan laporan praktikum yang menjadi aktivitas pengalih dipanjangnya malam, melainkan hal-hal yang bahkan kadang tidak begitu mendesak. Masalahnya habit itu menjelma menjadi warna saya. Meski bukan lagi laporan yang menjadi teman, kegiatan browsing hingga blogwalking menjadi pengganti teman diujung malam hingga dini hari.

Kurang dari satu tahun belakangan, yakni awal tahun 2010, habit itu berlanjut (meski untuk alasan berbeda). Karena dimasa-masa itu, Mama menderita sakit berkepanjangannya yang  memasuki kondisi mulai mengkhawatirkan. Saya ingat sekali, saat-saat itu ia tidak pernah bisa lelap. Selalu terjaga. Matanya mungkin tertutup, tetapi ia tidak tidur. Karena sesak yang menyerangnya, kesulitan bernapas hingga menghalangi aktivitas tidurnya. Itu terjadi untuk waktu yang cukup lama. Dan dimasa-masa itu, aku sendiri tiada bisa tertidur (coba kalian diposisiku menyaksikan kegelisahannya karena tidak bisa tidur, benar sulit rasanya untuk lelap sementara ia tidak). Malam-malamku selalu habis berada diruang tamu, entah dengan menyambi surfing internet atau menghabiskan buku-buku. Sampai aku memastikan bahwa ia telah tenang (dalam usahanya untuk tertidur), maka aku mencoba untuk tidur perlahan.

Kini, habit itu masih menjadi dirinya dalam diri saya. Belakangan mungkin karena suksesnya keheningan ujung malam membuat saya nyaman melahap lembar demi lembar buku bacaan. Dan kantuk itu semakin mudah saya abaikan.

Ini sangat tidak baik. Saya mulai tahu tubuh saya beradaptasi untuk sesuatu diluar kewajaran. Ingin menghentikan habit ini, tapi juga dalam banyak hal saya membutuhkan habit ini.

Lihatlah, ada saja alasan untuk terjaga dipanjang malam. Saya belum tahu sampai kapan. Tapi yang jelas, saya terus berusaha. Biar habit-tidak-baik ini setidaknya membawa produktivitasnya sendiri: entah dalam bentuk aktif membaca atau berusaha menulis.

[Ulasan Buku] Sakinah Bersamamu

Buku ini saya dapatkan (lagi-lagi) dalam bazaar buku GEDEBUK STAN. Memang sih, buku yang saya bawa pulang dari sana ada sekitar 7 buku (ini buku ke-3 yang akan saya review). Bersamaan tanggal dengan pembelian buku ini, terselenggara juga bedah buku sepintas tentang buku ini, tentu saja di acara yang sama.

Di awal acara beda buku itu, Mba Asma telah warning bahwa buku ini pun diperuntukkan bagi yang belum menikah, selain tentunya bagi mereka yang telah berkeluarga. So, saya ngga perlu risih kan untuk membeli buku ini? Husnudzon aja ya kawan, ini perkara ilmu yang perlu dipersiapkan.

Dalam buku ini terdapat tujuh belas cerita tentang pelajaran kehidupan setelah pernikahan. Beragam sekali. Dalam daftar isi, sebenarnya telah dikotak-kotakkan tema dari tiap cerita. Seperti, Berbeda itu Pelangi, Dilema Istri Sensi, Suami Ngga Sensi, Tentang Jujur, Ketika Dibakar Cemburu, hingga pada cerita bertema 3 Alarm- Selangkah Menuju Selingkuh.

Ketujuh belas cerita tersebut dikemas dalam satu tajuk besar Bijak Berumahtangga Melalui Cerita. Melengkapi cerita-cerita tersebut, terdapat paparan oleh Asma Nadia ditiap berakhirnya cerita-cerita. Ulasan yang memang terasa sekali merupakan pengalaman mereka yang telah berkeluarga.

Tiap-tiap cerita menyampaikan pesan tersendiri, penyampaiannya pun manusiawi sekali. Seorang temanku pernah sedikit berkomentar bahwa buku itu biasa saja, kemudia ditambahinya lagi bahwa mungkin terasa pas karena kondisi kami yang belum menikah. Tapi buat saya tidak begitu, karena buku ini ditutup dengan sebuah cerita manis  yang membuat saya terharu dan menangis. Yang persis judulnya seperti judul buku, yakni: Sakinah Bersamamu. Diceritakan seorang Aku yang mulanya agak sulit memulai kisah cintanya karena pembawaannya yang galak, pemilih dan perkasa. Hingga akhirnya, disatu waktu dalam kehidupannya dia bertemu Zaqi. Seorang laki-laki yang dimasa kemudian membersamainya selama 20 tahun.

Tidak lantas pertumbuhan cinta antara mereka tidak membuahkan prahara. Lazimnya ada potensial untuk jatuh cinta lagi, itu juga yang sempat membuat Zaqi meminta restu untuk berpoligami. Prahara itu terjadi di tahun kesembilan pernikahan mereka. Tokoh Aku jatuh sakit, sakit yang ia tidak mengerti bagian tubuhnya yang mana yang sakit. hingga akhirnya, Zaqi tidak pernah lagi mengungkit keinginan tersebut. Lebih-lebih karena ia menyadari bahwa tokoh Aku adalah satu cinta selamanya baginya.

“Keinginan itu memang pernah menggoda, Ri, teramat kuat. Tapi mendadak mati rasa, ketika kesadaran mengusikku betapa itu akan melukaimu. Bagaimana aku bisa bahagia jika kau harus seumur hidup menanggung kesedihan?” kata Zaqi.

Benar adanya bagi mereka…satu cinta selamanya…

Hm..beneran deh, cerita penutup ini yang jadi cerita kesukaan saya dari buku Sakinah Bersamamu. Tentu saja, ada beberapa cerita lain yang menarik, meski menurut Mba Asma juga bahwa beberapa cerita yang diangkat dibuku ini pernah diangkat dibuku-buku Asma Nadia sebelumnya.

Terakhir, saya salin-tempel puisi yang terdapat dibuku itu aja deh.

Jika kau tanya,

Kenapa aku memilihmu

Itu karena Allah memberiku cinta

Yang ditujukan kepadamu