Dan sendiri itu…

Dulu, aku menyukai kesendirian. Duduk sendiri dan berbicara sendiri dalam benak. Mengaitkan satu simpul dengan simpul lainnya dalam pikiran. Membiarkan dugaan-dugaan dan melepaskannya. Semata karena area yang ada mutlak kepemilikannya bersamaan dengan raga.

Bersendiri untuk berpikir itu rasanya membebaskan.

Faktor internal yang dominan (saat itu) terasa jauh lebih baik.

Dan ternyata, dulu dan kini itu benar berbeda adanya.

Bila dulu kesendirian menjadi sesuatu yang harus aku cari dan harus diluangkan. Kini sebaliknya, kesendirian jadi keseharian. Bila dulu kesendirian membebaskan. Kini sebaliknya, kesendirian memenjarakan.

Mungkin karena kini, tempat berbagi menjadi terbatas. Padahal dulu kesana-kemari pasti akan ku temukan jemari yang menggenggam. Tapi kini?

Dengan keadaan seperti ini, aku mencoba berdamai.

Berdamai dengan cara menangis. Berdamai dengan cara diam merintih. Berdamai dengan cara yang aku tahu. Sebisaku.

Maafkan aku , yaa Rabb. Aku telah begitu banyak mengeluh.

 

Advertisements

2 thoughts on “Dan sendiri itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s