Jangan memenggal hati yang menunduk

Saya memiliki seorang sahabat. Sahabat saat bersama di jenjang sekolah menengah pertama. Dengan prestasi yang dimilikinya, baik formal maupun informal. Mengenai nasabnya yang baik hingga kelebihannya dalam bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dahulu, banyak yang mengagumi dirinya. Dan diantara sekian yang mengagumi dan menyukainya itu, saya termasuk didalamnya. Suatu kali saya pernah kelepasan memujinya. Dan sontak raut wajahnya berubah sendu dan berkata,”tolong jangan penggal kepalaku.”

Saya terdiam dan berpikir, mencerna perkataannya barusan yang diucapkan dengan suara lirih hampir-hampir tidak bisa didengar.

“Pujian seseorang terhadap seseorang yang lain sama saja dengan seseorang tersebut memenggal kepalanya.”

Setelah menelusuri informasi untuk menjelaskan hal tersebut akhirnya saya memahami bahwa memuji itu bisa mencelakakan. Mungkin tidak secara instan melainkan dengan cara hati tergerus penyakit sombong dengan awal yang paling halus.

Dari Abu Bakar ra, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi saw. Nabi saw bersabda,”celakalah engkau, kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah menggorok leher saudaramu.” Nabi saw mengucapkannya beberapa kali lalu Nabi saw bersabda,

“Barangsiapa yang harus memuji saudaranya, maka katakanlah:’Aku kira si fulan demikian dan demikian, tetapi Allah-lah yang menilai (keadaan sebenarnya). Aku tidak mau menilai atas nama Allah (kepada seseorang) demikian dan demikian jika memang kelebihan itu ada pada dirinya.” [Hadits Shahih, riwayat Bukhari  III/158) dan Muslim (IV/2297)]

Jangan memenggal hati yang menunduk,

Terlebih karena ketidaktahuan kita akan mencelakakan langkah-langkah kebaikan seseorang. Karena kesilauan kita akan kebaikan yang sejatinya titipan akan berangsur memalsukan suara hati seseorang. Karena pengetahuan kita tidak sempuna sehingga lisan kita lebih mudah berpotensi memenggal orang-orang yang telah bersikeras menundukkan hatinya. Dan alas an yang paling melarang kita untuk tidak memenggal hati yang menunduk adalah ketidakberdayaan kita dalam menilai seseorang sehingga orang-orang shalih lebih mengembalikan penilaian kepada penilaian Allah sebagai sesuatu yang haq.

Akhirnya hal itu saya pahami ketika untuk keduakalinya saya, dengan (tu)lisan saya sendiri, melukai hati sahabat saya itu. Demi Allah, rasa bersalah yang mendera lebih-lebih hadir. Penyesalan pun singgah. Dalam kondisi tersebut, mengapa tidak kita doakan agar ia (orang yang kita puji tersebut) berada keberkahan? Mengapa hal itu tidak terpikir oleh saya saat itu?

Hati yang menunduk itu malah memilih untuk dicela apa-apa yang menjadi kesalahannya, menghindari penilaian positif yang berlebihan dan tidak mengungkit amal yang tertunaikan. Ia memilih menjadi padi yang matang.

Bila Allah ‘azza wa jalla berkuasa menghiasi hati mukmin dengan iman keemasan, mengapa tidak terlebih dahulu kita memujiNya sebagai latarbelakang keutamaan seseorang? Bahwa rahmatNya yang menjadikan orang tersebut mendapati kemuliaan dimata manusia.

Jangan memenggal hati yang menunduk bila bisa kau tuntun perangainya sebagai doa luhurmu kepada Allah agar terijabah dalam dirimu malah membersamainya sebagai sama-sama mukmin yang utama.

Jangan memenggal hati yang menunduk bila tindakan mendoakan lebih baik dari seribu pujian menenggelamkan.

Dan jangan sekali-kali memenggal hati yang menunduk dengan pujian karena yang berhak memuji (memang)  dengan penilaian haq adalah Allah, kepada hambaNya.

Advertisements

5 thoughts on “Jangan memenggal hati yang menunduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s