‘Idul Qurban

Semalam, tepatnya saat takbiran menjelang ‘Ied Adha. Jalanan kembali berbeda. Bukan tentang orang-orang berpawai tetapi tentang hewan-hewan ternak yang bermigrasi kesana-kemari. Dari tempat dijajakannya hewan ternak  ke masjid-masjid terdekat. Kebanyakan mereka dibawa ke masjid tertuju dengan mobil pick-up. Buatku yang seorang commuter, berkendara motor dibelakang kendaraan mereka bukanlah hal yang menyenangkan. Yah, you know lah..

Oh iya, apakah kamu termasuk orang yang memperhatikan gejala ‘Ied Adha dari tahun ke tahun di lingkungan rumahmu? Well, aku kurang lebih seperti itu. Biasanya aku menyempatkan waktu untuk melihat prosesi pemotongan hewan-hewan ternak tersebut. Dan yang berhasil tertangkap pandanganku adalah jumlah hewan-hewan ternak yang frekuentif di tiap tahunnya dan cenderung memperlihatkan angka menurun.

Bila tahun-tahun sebelumnya, ada setidaknya satu sapi atau satu kerbau bersama dengan beberapa kambing lainnya yang dikurbankan di lingkungan RT tempat ku tinggal, maka tahun ini yang masih bersenandung lirih dengan khas-nya hanyalah segelintir kambing-kambing sehat. Hal tersebut sebenarnya disebabkan banyak hal, bukan? Yang paling bisa didasarkan adalah alasan harga-harga hewan kurban yang kian tahun kian menjulang. Saat ini bahkan tidak ada lagi kisaran ratusan ribu untuk seekor kambing.

Tetapi bila menilik praduga dalam pikiran, maka yang terpikir adalah semakin berkurangnya orang yang bersyukur. Nah lho?! Pada hari raya kurban, paling logis mengatakan bahwa berkurban adalah tanda kesyukuran. Nah dengan kondisi menurunnya hewan yang dikurbankan, bukankah menunjukkan juga berkurangnya rasa kesyukuran seseorang. Dengan kata lain, yang merasa bertanggungjawab untuk berbagi kebahagiaan melalui berkurban jauh lebih sedikit ketimbang orang-orang yang menisbatkan dirinya berhak menerima daging kurban.

Ya, semua inginnya menerima. Semua inginnya menikmati. Mungkin karena belum memahami bahwa berkurban dalam istilah berbagi kebahagiaan juga adalah sebuah kenikmatan. Lantas bagaimana mau menikmati kenikmatan macam itu bila selalu kesulitan untuk memberi lebih dahulu? Semoga semua ini cuma gejala yang kurang mengenakkan dan bukan pertanda macam-macam yang bisa menjurus pada semakin kufur nikmatnya diri kita.

Tentang hewan kurban

Bila bisa diibaratkan, ‘Ied Adha bagi hewan kurban adalah hari raya juga. Tetapi sama sekali bukan tentang perayaan bagi mereka melainkan tentang membuat diri mereka bermanfaat bagi umat manusia. Tanpa perlu dilabeli harga macam-macam seperti di hari biasa dimana daging dan susu mereka selalu berujung pada komoditas perdagangan.

Ya, di ‘Ied Adha, daging mereka tidak berorientasikan uang. Tetapi orientasi lain yang lebih kualitatif yakni kebahagiaan. Orientasi komoditas daging mereka, pada ‘Ied Adha ini adalah lekukan senyum orang-orang tidak mampu. Ah, lihat lah! Bukankah perkara mereka baik sekali? Kesudahannya, mereka (para hewan kurban) adalah simbolisasi pengorbanan sekaligus aktor pembantu terbaik yang ada sepanjang dzulhijjah yang datang.

Seperti iklan yang mempertontonkan kambing-kambing juga sapi dan kerbau yang memakai balon udara dan naik ke langit. Dalam keadaan sesungguhnya, kurasa mereka juga menuju langit pada saat ini. Membawa sekaligus niat orang-orang yang mengurbankan mereka biar sama-sama tercatat sebagai ibadah.

 

Advertisements

2 thoughts on “‘Idul Qurban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s