Wajah Cleopatra

 

Sabtu malam, Selatan Jakarta.

 

Kakak laki-lakiku satu-satunya yang usianya (sebenarnya) berkurang, mengundang makan malam. Makan malam keluarga, tentunya. Well, he prepared for it. As thought so. Kami (ber-12 orang) makan malam di restoran De’ Cost Kemang. Yah, canda keluarga dan makan ‘besar’ seperti semestinya. Yang berbeda paling tentangku yang terpaku ke meja sebelah. Ada objek pandang menarik disana. Yang membawaku mengingati cerpen ‘pudarnya pesona cleopatra’. Bagaimana bisa?

 

Sebenarnya ingatanku melayang pada ‘pesona cleopatra’. Kalau cerpen Kang Abik itu sih lebih menceritakan seorang suami yang mengidamkan sesosok wanita ‘keturunan cleopatra’ dalam artian fisik dan nasab kebangsaan tentunya. Cleopatra identik dengan wanita Mesir. Bukankah begitu? Wanita Mesir nan cantik, bergaris wajah tegak, berhidung macung, berbibir tipis, berkulit bersih. Dan sabtu malam itu, tepat duduk berseberangan dariku di meja sebelah, ada jelmaan cleopatra disana. Aku bahkan terkesima ketika yang ada terlintas di otakku adalah cleopatra ketika melihat wanita itu. Wanita keturunan Arab berkerudung merah (saat) itu.

 

Cantik sekali. Senyum tipisnya manis untuk dilihat. Dia bersama keluarganya. Aku bingung apakah dua gadis kecil yang bersamanya adalah anaknya dan seorang pria itu adalah suaminya ataukah mereka saudara kandung. Tapi aku cenderung menilai ke penilaian pertama. Dia disana bersama keluarga kecilnya meski semampai tubuhnya sempat melipat taksiran usia.

Mengapa aku menceritakannya dibanding menceritakan makan malam kami? Well, aku senang sekali melihat wajah itu. Wajah cleopatra itu. Kagum mungkin. Sehingga buatku saat itu mengamatinya terasa wajar. Padahal di meja-meja lain di restoran itu, banyak wajah-wajah cantik lain.

 

Psikologisku tidak menyimpang, karena hal umum kan bila kita suka melihat apa-apa yang sedap dipandang mata? Nah, begitu juga denganku.

 

Wajah cleopatra. Simpul yang ku dapat untuk mendeskripsi kecantikan wanita itu, dan mungkin kecantikan wanita keturunan Arab lain. Wajah cleopatra memang mampu menghipnotis mata. Tapi bagaimana bila keadaan yang lebih baik kita ketahui? Yakni bahwa hati bak wajah cleopatra akan mampu menghipnotis hati lain. Lantaran hati bak wajah cleopatra itu, hati lain tergugah mempercantik diri.

 

Wajah cleopatra secara zahir mamang akan mudah aku temui. Di restoran, di kampus-kampus, atau di rumah Allah (masjid). Tetapi siapa yang akan tahu dimana aku bisa menemui hati bak wajah cleopatra?  Yang tak hanya menawan mata tapi juga menawan hati?

 

Ah, aku jadi kepikiran! Bagaimana bila hatiku yang ku buat menjadi hati bak wajah cleopatra? Hmm. . .

 

Advertisements

10 thoughts on “Wajah Cleopatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s