Sekarang yang aneh

Dahulu tidak sama dengan sekarang. Yang dulu tidak semuanya usang. Yang sekarang tidak seluruhnya cemerlang.

Dahulu tidak sama dengan saat ini. Pasti. Yang dulu tidak semuanya kurang. Yang kini tidak seluruhnya sempurna.

Bila peradaban dulu dan sekarang hanyalah soal teknologi, maka dahulu adalah zaman teknologi primitif. Sedang masa kini adalah zaman keemasan teknologi modern. Tetapi dalam banyak fakta, musuh utama teknologi modern justru keserakahan manusianya sendiri. Maka sudah tidak asing lagi bila jalan raya dibangun dengan konstruksi yang ringkih. Pagar sebuah kampus dibangun dengan kadar semen yang lebih sedikit dari semestinya. Hingga roboh dan menimbun pejalan kaki yang tewas. Tiang pancang dibangun dengan ukuran besi yang berbeda dari seharusnya. Dahulu teknologi belum maju, tetapi ada berlimpah kejujuran. Teknologi masa kini begitu modern, tetapi terlalu banyak keculasan.


**

Penggalan-penggalan yang saya kutip diatas berasal dari editorial majalah tarbawi edisi 236. Dan di dalam majalah tarbawi, rubrik editorial (meski tidak berkaitan dengan tiap temanya) terasa khas sekali. Dirubrik tersebut, menurut saya, adalah wadah dimana Tarbawi (yang bergerak khusus dalam kearifan bernuansa islami) mengulas hal-hal yang lebih universal, mendekat pada bahasan yang diangkat oleh media massa umum lainnya, serta memberikan pandangan yang tidak pernah biasa karena keterbacaannya menghadirkan nilai yang sangat manusiawi.

Sekarang yang aneh. Sepakatkah anda?

Saya sepakat. Karena saya merasa diri saya pribadi mulai menjadi aneh. Seperti misalnya ketidaknyamanan saya karena semakin memperparah pemanasan global dan memadati ruas jalan dengan menjadi seorang commuter. Perasaan bersalah yang seharusnya memangkas perlahan perilaku yang semakin merugikan alam, malah berujung pada pembenaran yang berangsur menjadi amnesia permanen.

Saya sepakat. Karena sekarang ini, bukan hanya sekarang yang aneh tetapi juga sekarang kepedulian menghilang. Bila banyak kepedulian, maka tidak perlu itu kalangan menengah mencuri dengan terus memanfaatkan  produk-produk subsidi. Bila banyak kepedulian, tidak perlu itu satu, dua, hingga ratusan masyarakat yang jelas-jelas berasal dari kalangan menengah ke bawah berlomba mengkredit motor dan saling menggungguli satu sama lain. Bila banyak kepedulian, seharusnya langkah-langkah inovatif mengembalikan hak alam dipermudah dan disokong dengan penuh. Bila banyak kepedulian, seharusnya banyak orang meninggalkan cara instan dalam banyak hal dan kembali para proses turunan yang alami dan tiada merusak keseimbangan.

Bila banyak kepedulian, seharusnya anak-anak dijauhkan dari pendewasaan dini. Seharusnya mereka bertumbuh sesuai dengan ketepatan jenjangnya. Bukan dengan memelihara mereka melulu mengikuti tren dan mengizinkan telinga dan mulut mereka mengikuti gaya hidup orang dewasa. Bila banyak kepedulian, tidak hanya berpikir yang dikembangkan tetapi gerak juga diselaraskan. Bila banyak kepedulian, seharusnya pemerintah dan masyarakat Jakarta mengerti bahwa predikat kota dengan mall terbanyak bukanlah hal yang patut dibanggakan. Seharusnya pemerintah dan masyarakat jakarta takut karena kelaziman kebiasaan-kebiasaan yang mengantarkan pada kemajuan dalam banyak dimensi kini memunah dengan percepatan yang tidak semestinya.

Bila banyak kepedulian, seharusnya tidak lagi yang timbul di permukaan adalah membincangkan diri individu melainkan mengobrolkan kebersamaan yang membangun. Bila banyak kepedulian, seharusnya jalanan dibuat paving blok yang memiliki rongga rembesan air biar Jakarta tidak melulu banjir dan titik-titik potensi banjir malah memperbanyak diri. Bila banyak kepedulian, seharusnya kalangan menengah atas mengerti, pada diri mereka melekat kewajiban untuk mengarifi masyarakat bawah yang lebih dari sekedar menyantuni dengan uang. Tetapi kewajiban membuat masyarakat bawah bisa berkembang mandiri dan mengejar tingkat kesejahteraan yang etidaknya mendekati level mereka. Tidakkah kalangan menengah atas itu merasa berutang?

Sekarang yang aneh.

Dibesarkan di kota Jakarta membuat saya merindukan menjadi anak pedalaman. Yang dekat dan bersahabat dengan alam. Bisa secara alami belajar tentang keseimbangan. Merindunya saya itu bukan artian bahwa saya membenci Jakarta. Saya justru belajar dari Jakarta, yang pada akhirnya menjadi pusat blaming padahal jakarta menyempit dan tidak nyaman bukan karena keinginannya -yah kalian mungkin bisa menjawabnya-. Merindunya saya karena saya ingin membuat tanah lahir saya ini tidak terjebak pada fatamorgana modernitas yang menjerat kejujuran. Bukankah Jakarta kian tidak jujur akibat pengajaran orang-orang yang mengeruk manfaat darinya?

Sekarang yang aneh.

Sudah aneh begitu, amnesia-nya kita malah semakin menguat.

Sudah aneh begitu, saya baru bisa menambah panjang tulisan. Gerak saya belum kelihatan hasilnya. Saya memang belum mendapatkan inovasi baru, masih senang mengekor pada gebrakan yang ada. Mengekor dengan menulis opini. Sudah begitu, tekad ini kembang-kempis. Yah, kalian tahu sendiri, dalam tiap diri banyak tarikan-tarikan dengan kepentingan yang tidak sama. Terombang-ambing disitu saja sebenarnya saya tidak sudi. Tapi apa boleh buat? Berperang dengan kemungkinan itu saya berusaha memelihara semangat saja.

Sekarang yang aneh. Biarlah aneh sekarang saja, tidak untuk masa depan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s