Semoga Allah mempertemukan kita di syurga

*Dari rubrik dzikroyat majalah Tarbawi edisi 1-  Mei 1999

Barangsiapa yang mengharapkan mati syahid dengan sepenuh hati. Maka Allah akan memberikan mati syahid kepadanya, meski ia mati di tempat tidur

Dunia, hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu, rentang usia seorang manusia. Saya, khadijah, sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad, adalah kakak kela saya di IPB. Pernikahan saya, melalui tahap yang biasa dilakukan oleh ikhwan dan akhwat. Saya tak pernah mengenal Muhammad sebelumnya. Dan, seperti layaknya pasangan baru, fase ta’aruf, konflik, dan kematangan pun saya alami.

Meski baru saling kenal, saya rasakan suami saya angat sayang kepada saya. Seolah tidak seimbang dengan apa yang saya berikan. Dia banyak membantu. Apalagi ketika saya menyelesaikan tugas akhir kuliah. Bisa dikatakan, ia sekretaris pribadi saya.

Selama menikah, suami sering mengingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami berbicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu bagaimana. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Kalau saya ingat kata-kata itu, itu bukan kata-kata kosong. Bahkan itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orangtua di Jakarta. Seolah uami saya mengembalikan saya kepada orangtua saya. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat.

Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur. Perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir, disana suami saya sudah beristirahat, sudah senang, sudah sampai, karena berangkat sejak maghrib. Saya juga sempat berharap kalau ada suami saya, mungkin saya dipijitin atau bagaimana. Tapi rupanya, pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.

Jam tiga malam, saya terbangun, kemudian saya sholat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu subuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh.

Pagi harinya, saya mendapat berita, dari seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang ikhwah di Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilahi raji’un.

Entah kenapa, mendengar berita itu, hati saya tetap tegar. Saya sendiri tak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langung ke Bogor. Di sana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis, saya menasihati Ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri, tapi milik Allah. Alhamdulillah, Allah memberi kekuatan. Kepada orang-orang yang berta’ziah waktu itu, saya mengatakan,”Doakan dia supaya syahid . . .doakan dia supaya syahid.” Sekali lagi ketabahan saya saat itu semata datang dari Allah, kalau tidak mungkin saya sudah pingsan.

Menjelang kematiannya yang amat mendadak, saya tidak merasakan firasat atau tanda-tanda khusus. Hanya, seminggu sebelum suami meninggal, anak saya sering menangis, meski dia tidak apa-apa. Mungkin, karena merasa akan ditinggal oleh bapaknya. Entahlah.

Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang-hutang suami. Saya memang sering bercanda sama suami,”Mas, kalau ada hutang, catat. Nanti kalau mas meninggal duluan, saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya,” Kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.

Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan Bogor untuk mengurus usrat-surat. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa, barangkali sumber wangi itu ada pada buah-buahan atau yang lainnya. Tapi, tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan untuk bekerja.

Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saat itu, da mendoakan saya: Zawadakillahu taqwa waghafara dzanbika, wa yassara laki haitsu maa kunti.” (Semoga Allah menambah ketaqwaan kepadamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu dimana saja). Sambil menangis, saya membalas dengan doa serupa.

Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingat, kami juga saling mendoakan

Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa di whiteboard. Sampai sekarnag saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hapal. Saya banyak belajar darinya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.

Ketika suami saya meninggal, saya sedang hamil satu bulan, anak yang kedua. Namanya sudah dipersiapkan oleh suami saya, Ahmad Qassam Amrul Haq, kalau lahir laki-laki. Katanya qassam itu diambil dari nama Izzuddin al Qassam. Izzuddinnya sudah sering dipakai, dia ingin menggunakan nama Qassamnya. Lalu, Amrul Haq itu memang nama yang paling dia sukai. Kalau dia menulis di beberapa media, nama samarannya Abu Amrul Haq.

Banyak kesan baik dan indah yang saya alami bersama suami. Menjelang kematiannya, saya pernah berta’ziah ke rumah salah seorang teman yang meninggal. Sepula suami saya dari kerja, saya pernah bertanya padanya,”Mas kepikiran ngga tentang mati?” Kami tidak saling menatap. Suami saya hanya bilang,”Memang ya, tidak ada yang tahu kapan kematian itu.” Suami saya lalu mengatakan,”Saya hanya ingin mati di medan jihad langsung.” Waktu itu lagi hangat-hangatnya jihad di Bosnia. Saya berpikir suami saya akan ke Bosnia, kali untuk syahid disana. Saya pun terdiam.

Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami,”Mas nanti saya kerja di mana?” Suami saya diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan,supaya wanita itu memelihara jatidiri. Saya bertanya,”Maksudnya apa?”“Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat.” Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan.

Alhamdulillah setelah suami saya meninggal, masya Allah, saya menerima rezeki banyak sekali, lebih dari tiga belas juta. Saya tidak mengira, sampai bingung, diapakan uang sebanyak itu.

Sekarang setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rezeki dari Allah tetap saja mengalir. Allah memang memberikan rezeki kepada siapa saja dan tidak terganung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada, tetapi rezeki Allah itu tidak akan pernah habis.

insyaAllah saya optimis dengan anak-anak saya. Saya ingat sabda Nabi,”Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini,” sambil mengangkat dua jari tagannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasaka kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami membuat mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, tentang neraka, tentang syurga, bahkan tentang syahid. Rezeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.

~Seperti dikisahkan pada Tarbawi

**

memang lawas. tapi, bila ini tentang kisah yang bisa mengantar kita pada perenungan, tidak ada daluarsa.

awal membaca cerita itu, rasanya sesak.

ya. . begitu banyak kekasih Allah yang tidak kita ketahui (meminjam istilah Salim a fillah)

dan ketika mengetahui kabarnya, bilakah kita tergerak . .atau malah . .tergugu?

Segala puji hanya milik Allah swt.

**

ambillah keteladanan dari rusuk kelemahanmu sekalipun.

bawa ia dalam keluarga kecilmu, taman surgamu itu..

mewangi ia kala menjadi cermin bagi sesama saudara serahim iman

ambillah kesempatan, biar menjadi orang-orang yang beruntung, seperti selalu disebut di akhir firmanNya.

tiada batasan untuk mengambil hikmah bukan?

tapi jangan biarkan ia jadi sekantung harta yang terikat

buat ia bertumbuh

dengan jerih dan peluh

yang hanya terhenti

kelak . .

ketika kaki-kaki kita menginjak syurgaNya

**

*sambil mendengar senandung catatan terakhir dari thufail al Ghifari

berlarilah . .

berlomba mempersiapkan kematian

membuat hidup lebih hidup dari kehidupan sebenarnya

Advertisements

One thought on “Semoga Allah mempertemukan kita di syurga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s