Masakan Papa

Aku menggelarinya ‘Father of the month’ untuk bulan Ramadhan lalu (well, sepertinya beliau  malah akan terus mendapat gelar itu bahkan lepas dari Ramadhan). Kenyataan tentang berartinya keberadaan Mama yang membuat citarasa Ramadhan lalu seperti ‘pincang’, tidak boleh membuat kami semua lesu. Dan dia, Papa-ku, telah menjadi ‘Hero’ buat kami sekeluarga.

Cintanya Papa terhadap Mama sebenarnya terlihat sekali dengan kebersamaan dan kesiagaan Papa mendampingi masa-masa sakit Mama hingga kini. Kesana-kemari untuk melakukan pengobatan, beli keperluan ini-itu yang dibutuhkan untuk menunjang keseharian Mama sampai melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Semua itu ditunjang dengan kenyataan bahwa Papa bukan pekerja kantoran, jadi waktunya dirumah lebih banyak.

Ramadhan-ramadhan lalu, kental sekali dengan kelezatan & keragaman masakan Mama. Pantas kan bila tahun ini jadi tambah memikirkan tentang nasib menu harian Ramadhan.

Hari pertama: agak deg-degan. Hari pertama Ramadhan selalu mengasyikkan karena menu-menunya pasti enak. Bagaimana dengan tahun ini? Hm . . tidak mengerikan ternyata, kebaikan tetangga menyelamatkan kami (agak berlebihan nih). Tapi kemudian berpikir lagi, solusi yang pas buat sahur dan berbuka (waktu makan) 29 hari ke depan gimana ya?

Alhamdulillah, anak no.2 (sudah berkeluarga) bersedia mengantarkan makanan tiap sore untuk berbuka. Kakak perempuanku itu berpesan biar Papa ngga usah sibuk memikirkan makanan berbuka. Siip! Tinggal makanan untuk sahur yang mesti dipikirkan dan selanjutnya dipersiapkan. Jadilah Papa, koki nomer satu untuk menyiapkan menu-menu sahur. Bagaimana dengan aku? hehe . . (cengar-cengir) aku cuma berhasil menyiapkan makanan untuk 2x sahur. Itu pun dengan menu nasi goreng, tumis buncis, tempe mendoan. Ocky (sahabatku) pernah menyarankan untuk masak sarden aja, lumayan instan. Tapi ngga kesampaian. Padahal pas cerita ke Ocky, aku rada malu-malu gitu, hampir kayak malu-maluin. Saat itu aku nanya komposisi bumbu untuk bikin tumisan (tuh kan, padahal itu termasuk makanan yang mudah dibuat). Kalo lagi gini, aku ngerasa beda banget sama Papa.

Beliau itu sudah lama hidup mandiri, apalagi dengan kondisi diandalkan hampir seperti anak sulung. Beliau sudah merantau kesana-kemari, bisa ini-itu, banyak kenalannya, disegani. Dan urusan memasak bukanlah hal besar buat Papa. Terbukti, sahur-sahur kami diisi dengan makanan buatan Papa. Mulai dari sekedar tumisan, sayur, semur tahu, hingga masakan berbahan pokok ikan. Mau tahu rasa masakan-masakan Papa? Enak kok (meski memang kami, anak-anaknya, kepalang menyukai masakan Mama). Oke, jadi rasa bukanlah masalah buat kami.

Lalu, adakah masalah lain? Masih ada. Yakni bahwa kami, anak-anaknya, agak pemilih dalam hal memakan suatu masakan. Contohnya aku. Aku tidak suka olahan ikan, sedikit sekali masakan yang bisa masuk  (kalo masalah ini, orang-orang terdekatku sangat tahu sampai mereka sudah mengerti bahwa makanan yang aku makan ya biasanya itu-itu aja). Adikku, Tiara, hampir mirip denganku. Abangku, Ilham, dia agak sensitif. Seperti misalnya, ngga mau makan nasi yang agak lembek, mie direbus jangan kelamaan, ngga mau makanan (seporsian) yang sudah dicicip, bahkan oleh adiknya (kalo gini, ketahuan deh, dia agak susah berbagi). Adik laki-lakiku, Muaz, dia fasih makannya seperti Papa. Perutnya nrimo banyak jenis makanan, bahkan dalam jumlah yang banyak juga (untuk tinggi badannya yang menjulang itu). Jadi, Papa harus menjadikan itu semua pertimbangan. Jika tidak ya biasanya masakan Papa akan habis di perutnya sendiri. Hehe

Sesekali aku juga memasak nasi (lewat mesin penanak nasi), tapi insiden di satu hari membuat diriku tidak terlalu dipercayai (bahkan) untuk memasak nasi. Saat itu, nasi yang aku masak kelembekan (kesalahan itu bahkan aku buat dua kali 😦 ). Orang yang pertama protes ya abangku itu. Akhirnya ya tugas memasak nasi bahkan ditangani oleh Papa (haduh, kasihan banget ya aku kalo susah diandalkan begitu).

H-1 menjelang ‘Ied, Papa benar-benar belanja sayur-sayuran (memang biasanya begitu sih). Memasak masakan ala Lebaran yakni Sayur Godok (papaya) dan semur daging sapi. Dari penampilan dan bau, asyik banget kelihatannya. Itu terbukti, untuk semur dagingnya tasty sekali. Tapi ternyata tidak untuk aayur godok-nya, karena rasanya ternyata pahit (aku, Tiara, Muaz, bahkan meringis saat mencicipinya). Sudah begitu, sayur godok yang dimasak Papa banyak sekali, se-panci besar. Belum apa-apa aku sudah menanya sana-sini, kira-kira sayur yang sepetri itu bagusnya diapakan? Tapi urung, Papa bersikukuh terus menghangatkannya dan perlahan-perlahan menghabiskannya. Pembelaannya sih, lidah Papa tidak masalah dengan rasa yang seperti itu. Sedangkan kami (anak-anaknya) tidak biasa memakan makanan dengan rasa pahit.

Epilog:

Mengobati ketidakmampuan Mama mencicipi masakan-masakan enak, beliau senang mengikuti acara memasak di tv, yah biasanya menonton acara memasaknya Aisyah atau Farah Queen. Beliau juga senang dengan acara wisata kuliner di TV, semisal wisata kulinernya Banu di Trans Tv.

Sabtu pagi, usai acara yummy and sexy Food ala Chef Farah Queen. Aku, Papa dan Mama (yang memang sedang menonton Tv bersama), gantian menikmati wisata kulinernya Banu di Trans Tv. Edisi Masakan Lebaran, mempertontonkan olahan iga kambing dan masakan opor ayam. Duduk agak menyudut, Papa melafal bumbu dapur yang dibutuhkan untuk memasak opor ayam. Tebak saja deh, masakan selanjutnya yang ingin beliau buat

Advertisements

One thought on “Masakan Papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s