Syawal Biru

Aku merasa, sholat ‘Ied Fitri hari ini terlalu pagi, yakni dimulai pukul 06.15. Kata tetangga-tetangga di samping kanan dan kiri, khawatir titik-titik hujan bergerombol susul-susulan menguyur jama’ah sholat ‘Ied yang bertempat di lapangan. Satu dari sekian rahmat Allah yang sering jadi kambing hitam, ia hujan. Padahal  langit perlihatkan sebaliknya, mendung berangsur kabur. Akur dengan sang matahari untuk beri kesejukan di awal Syawal ini.

Maaf sekali duh Imam sholat ‘Ied, kenapa ya saya merasa kehilangan tuma’ninah dalam gerakan serempak sholat kita? Khutbah ‘Ied Fitri yang demikian ringkas, semoga bukan karena tergesa menghindari hujan.

Tapi semua berjalan lancar (Alhamdulillah), saya tidak begitu berlama-lama (usai sholat) bersalam-salaman dengan jama’ah lain, karena ingat mama sendirian di rumah. Ya, Mama tidak ikut sholat ‘Ied berjama’ah, bahkan Ramadhan lalu tidak bisa ia berpuasa karena sakitnya.

Itulah yang membuat Syawal ini biru. Mama tidak segemuk dulu, beratnya berangsur turun 20 kg dilalap sakitnya, suaranya parau karena jalaran tumor itu mengganggu pita suaranya, bersemayam dileher dan sukses membuat Mama cuma bisa makan bubur dan susu sambil sesekali memuntahkannya kembali.

Jangan bicara tentang makanan enak, karena bisa-bisa rasanya jadi hambar karena ingat bahwa Mama tidak bersama kami  menikmati makanan-makanan enak tersebut.

Ayahku tergolong tokoh masyarakat, sekaligus tetua dalam keluarga besar kami. Sehingga satu per satu, tetangga dan family dekat berkunjung ke rumah bergantian.

Aku menetap di kamar Mama, disitu saja untuk mendengarkan kebutuhan-kebutuhannya, memijat-mijat tubuh bagian kanannya yang seringnya nyeri dan pegal, mengusapkan balsem ke tubuhnya biar hangat. Lalu datang dua tetangga kami yang adalah teman Mama. Mereka menghambur ke sisi tempat tidur Mama. Berkaca-kaca hingga menangis kasihan melihat kondisi Mama. Kontan aku ikut menangis. Airmata yang terus saja mengalir, dan orang-orang bergantian datang ikut berkaca-kaca dan iba. Membisikkan doa kesembuhan dan menyalam-tempel mantra kesabaran. Segerombolan remaja masjid bahkan berdoa bersama untuk Mama. Hatiku benar-benar tidak kuat.

Aku tidak berpikir akan jadi seperti ini sebelumnya.

Kesedihan berangsur membuncah dengan rupa linangan airmata. Tidak habis pikir bahwa Syawal ini dilaluinya tidak dalam kondisi prima dan tersenyum lapang. Ada yang hilang dalam kebersamaan kami. Lubang yang hampa itu rasanya besar sekali. Hampir-hampir tidak sanggup memikirkan yang akan datang. Kecuali menguatkan diri dengan satu yang terus dibisikkan di telinga kami: sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s