Catatan Berantakan #1

**
Belakangan, lebih mengasyikkan buatku menyembunyikan diri. Ada alasan untuk hal tersebut. Perilaku defensif. Mungkin bisa diibaratkan seperti itu. Bahwa bila saja diri ini berhadapan dengan sahabat dan orang-orang dekat yang muncul hanyalah perasaan ‘insecure’. Yakni, aku lebih takut menerima pertanyaan karena sebaliknya (meski terdengar mustahil) cukup bagiku dapat diterima tanpa ‘pertanyaan’.
**
Aku terlalu memanjakan egoku. Pada aras yang berbeda, aku terlalu banyak berpikir. Bisa kalian tebak, dengan banyak memikirkan hukum aksi-reaksi, sekaligus raga ini mengikat diri dari melakukan banyak hal (yang mungkin bernilai jutaan kebaikan).
**
Sudah lama aku tidak merasakan cemburu dalam artian hubungan roman dua manusia. Tapi terhadap dia (serahim iman) yang melekat padanya kekaguman dan sayangku, cemburu itu tidak pernah padam.
Tanpa bermaksud menyakiti, mencemburuinya adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk terjaga dari lupa
**
Ah, seandainya aku bisa memasak.
Rabb, semoga Ramadhan ini aku bisa mengundurkan ketegangan Bunda pada sakit yang membuatnya selalu terjaga. Setidaknya Rabb, buat aku meyakinkan dia untuk tidak mengkhawatirkan menu apa yang perlu dipersiapkan untuk sahur dan berbuka.
**
Saat aku bilang ingin lari ke hatimu, Lun. Itu adalah sebenar-benar gelisahku saat-saat (seperti) sendiri ini.
**
To tell you the truth, aku tidak tahan dengan orang yang menggunakan mulutnya untuk bicara banyak hal (terlebih hal tersebut hanya menunjukkan betapa menyedihkan kondisinya, betapa ia telah berbuat banyak hal, betapa ia mesti dihargai atau betapa semua itu tersirat dari gerak bibirnya yang tidak terlihat alami)
**
Apa memang kalian benar ingin mengetahui kesedihan apa yang menggelayut di hariku ataukah itu hanya aku yang berharap kalian memiliki keingintahuan akan kesedihanku?
Aku hanya tidak berani mengambil kepastian dari dua kemungkinan tersebut.
**
Aku tidak bisa berekpresi. Karena tidak mencintai dan tidak membenci sekolah tinggi yang belakangan menjadi kawan keseharianku (setidaknya untuk 6 pekan mengakhiri tahun akademis ini). Satu yang bisa aku rasakan adalah aku tidak memiliki ruang untuk mencintai-nya. Perkara bahwa mungkin aku membenci-nya, justru aku menyayangkan adanya celah untuk itu.
**
Aku memang jarang sekali pusing dalam artian sakit kepala, tapi belakangan malah aku sering pusing mencari irisan kenyamanan buatku dan buat orang yang (sepertinya) berada disekitarku.
**
Semalam, dengan manisnya pesan darimu berbicara,”ziy juga istirahat . .kalo insomnianya kambuh, jangan diturutin.”
“Oke :-D” jawabku. Aku berbohong. Semoga pesan itu tidak membawa serta rasa kebohonganku. Bilapun aku jujur membiarkan pesan itu berkata,”bila saja mataku bisa terpejam sementara suara batuk bunda selalu terdengar kesakitan dan kelelahan di wajahnya akibat senantiasanya ia terjaga di malam buta adalah keseharian. Biar saja terjaganya aku karena memang tidak ada pilihan. Sepertinya semakin lemah tubuhnya karena tidak ada pilihan kecuali menerima”
Bilapun demikian jawaban di pesan terakhirku. Aku tahu kamu izinkan aku menuruti insomniaku. Karena aku dan kamu tahu persis, inilah cara kita belajar melindungi orang yang tanpa perlu kita paksa, cintanya selalu mengalir dalam darah kita. Aku dan kamu sama-sama sedang mengalaminya.

Advertisements

7 thoughts on “Catatan Berantakan #1

  1. dan kalo kesusahan itu salah satunya diakibatkan olehku, aku cuma bisa minta maaf, mbak. sambil mengingatkan, kalo ada di antara sikapku yg mbak ziy nilai gak bagus, ya langsung bilang aja. via email, sms, ato yg lain.

    *aku gak tau jalan pikirannya mbak ziy gimana. makanya aku nulis gini. sapa tau ada di antara sikapku yg gak sejalan dg apa yg mbak ziy idealkan.

  2. siapa itu, lun?
    luna maya? Hehehe

    To tell you the truth, aku tidak tahan dengan orang yang menggunakan mulutnya untuk bicara banyak hal (terlebih hal tersebut hanya menunjukkan betapa menyedihkan kondisinya, betapa ia telah berbuat banyak hal, betapa ia mesti dihargai atau betapa semua itu tersirat dari gerak bibirnya yang tidak terlihat alami)<—- ngeriiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s