Untuk Memuji-Nya

Humans, well . .

Things that have happened . .things from a long time ago. . .they forget them, don’t they?

For example . .um . . a person you fell in love with, you forget their face or name. .what you talked about  . .what fun you had together

But . . I you actually happen to run into that person again . .you just sort of light up, you smile. You remember the feeling of loving that person.

That happens because, you see . . besides the brain’s hippocampus and cereberal cortex, there are lots and lots of hidden pockets where memories pool. The memories of being loved by someone, of loving someone . ., the purest emotions are buried in the deepest part of the brain, the limbic cortex. They’re locked in there, so that they’ll never ever be forgotten.

Tsukumo Ryuusuke, Mr Brain chapter 5.

**

Scene ini menghadirkan cerita seorang pemuda yang memiliki amnesia permanen. Apa yang ia ingat hanya bertahan dalam satu jam saja, lantas memori itu tertinggal dalam catatan-catatan kecil yang dibuatnya. Untuk menopang memorinya, catatan-catatan yang dia buat memenuhi rumahnya. Bahkan foto-foto orang yang pernah bersinggungan dengannya juga memenuhi dinding rumahnya. Tidakkah hal tersebut merupakan potongan tragis kehidupan anak Adam? Hingga rasa-rasanya kita tidak bisa menjadi dirinya untuk mengrti apa yang dia rasakan.

Bagaimana hubungannya dengan sesama manusia kelak? Bagaimana hubungannya dengan Tuhannya? Akankah dia memiliki seseorang yang dia cintai yang bisa ia simpan dalam memori terbaiknya? Bila untuk ingatan yang bertahan satu jam saja dia harus menghabiskan satu lembar catatan kecil dalam mempertahankan ingatannya. Bila demikian yang terjadi, bukankah memorinya adalah setumpukan catatan-catatan tersebut? Bukankah hal tersebut sangat tidak praktis?

Hingga dititik ini kita dibawa untuk mensyukuri anugerahNya yang tersimpan dalam penciptaannya tentang otak kita. Dimana memiliki berjuta-juta kantong-kantong memori. Pernahkah kita membayangkan bahwa hal tersebut Dia persiapkan untuk tidak membuat kita kesulitan melainkan lagi-lagi tentang memudahkan kita sebagai manusia. Bukankah hal tersebut menyempurnakan diri kita sebagai makhlukNya? Bukankah itu berarti Dia teramat sayang terhadap kita?

Lantas, apakah kita sempat memikirkan hal-hal kecil tersebut? Bilamana hal kecil tersebut tidak dalam kondisi keseimbangan maka yang ada adalah ganjalan besa yang menghambat kehidupan dan keseharian kita? Segala puji Bagi Allah . .

Advertisements

3 thoughts on “Untuk Memuji-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s