Konversasi melobi diri

Disaat yang sama kamu mengetukkan jarimu di keyboard hitam ini,

Ada sekawanan (seperti gumpalan awan) melesak lewat mendahului jasadmu.

Gumpalan itu bersih, tak berwarna.

Ia adalah senyawa semangat.

Rupanya, hatimu dan jasadmu lelah. Lelah karena selalu terkalahkan oleh banyak hal yang sia.

Kelelahan itu yang membawamu mengajak negosiasi hatimu. Agar mau menuruti kehendak yang baik, bukan sebaliknya.

Di saat yang sama, setelah kau terus menerus menekan tuts-tuts keyboard. Kau sadar bahwa kau sendirian. Saat ini, keluargamu berpencar untuk urusan yang tak sama.

Ayah-ibu pergi menghadang jarak dan berupaya terus mereduksi kesakitan yang meradang lama.

Adik perempuanmu memilih bermalam ditempat dia bisa asyik bermain dengan keponakannya.

Kakak laki-lakimu masih diluar, entah untuk urusan apa.

Sungguh, seperti ini ternyata kesendirian.

Dan tahu kan, bahwa kesendirian ini yang juga kau bawa saat menghadapNya kelak.

Tertegun lagi, wajahmu pias.

Dengan jelas kau tahu bahwa dirimu berbeda dari orang lain.

Bukan. Bukan dalam artian istimewa.

Kau tahu kau punya kelebihan dibanding orang lain.

Bukan. Bukan kelebihan yang bisa mengangkat derajat semu. Sebaliknya, kamu memiliki kekurangan yang berlebihan.

Sehingga yang patut kamu sadari adalah, kamu membutuhkan napas yang lebih panjang, kesabaran yang legit dan matang, kegigihan yang tak putus.

Sudah pasti kamu mengetahui itu, tapi tak kunjung kau naikkan level kedewasaanmu.

Mengapa masih saja kau jadikan situasi sebagai alas an yang menghambat proses perkembangan?

Mengapa terus kau cerca orang-orang terdekat padahal dirimu yang paling β€˜hebat’ mengkonstruksi diri dalam kondisi apapun.

Kamu mengetahui itu tapi tak juga merasa bersalah, tak jera dan tak mengindahkan pertobatan.

Kau bilang kau butuh sebuah kesempatan.

Tak sadarkah kau, kesempatan menimbun berdatangan?

Kesempatan-kesempatan itu jadi pupus oleh rasionalisasi dangkalmu,

Semakin tersapu karena kepercayaan-diri yang kian lama kian terreduksi.

Ada sebuah saran untuk kenaifan-mu.

Yakni, buatlah sebuah langkah pertama.

Sepertinya itu yang patut kau upayakan, karena tak kunjung langkah pertama-mu kelihatan.

Jangan dulu nikmati mimpi. Perjuangkan, itu sebuah kebutuhan yang harus kau penuhi.

Kelak kau akan mengerti akan kemenangan yang manusia umumnya cari.

Tapi, kau bisa memilih untuk memahami (tak hanya mengerti) dan mendefinisi al-Faza, persis dari nama yang terlampir pada akta kelahiranmu.

Advertisements

4 thoughts on “Konversasi melobi diri

  1. “Rupanya, hatimu dan jasadmu lelah. Lelah karena selalu terkalahkan oleh banyak hal yang sia.”

    Menyentuh saya πŸ™‚
    Salam kenal, Faza

    1. lebih kuat mah mesti,
      pan Allah lebih suka muslim yan kuat daripada muslim yang lemah
      iyo, dak?
      πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s