saja saya

14 menit memasuki 10 Mei 2010

*

Sebelum kembali menekuni tugas Akuntansi Perpajakan dan keharusan mentransliterasi hasil talkshow menjadi  sajian tulisan di sebuah halaman tabloid Mei ini, aku butuh warming up. Yakni dengan melakukan hal-hal yang samasekali jauh dari beberapa tugas itu dan menyiapkan susu coklat panas atau terkadang pemanasan dengan apdet status fesbuk terlbih dahulu dan menekuni tulisan ini.

**

Sepanjang perjalanan pulang dengan mengendarai motor, pikiranku berkecamuk oleh berbagai macam hal. Dari pengingatan akan beberapa hal yang harusnya aku lakukan setelah sampai dirumah, hingga hal-hal jauh diluar itu semua. Seperti bahwa aku akan menulis dan memposting kembali (setidaknya pagi buta).

Belakangan aku tak kunjung benar dalam menumpahkan emosi. Tak juga kunjung sesuai mengartikan apa yang terdefinisi hati. Karena itu, saat aku merasa-i-nya, maka sesederhana itu saja. Bahwa aku harus meyakini, perasaan itu tidak perlu menjadi gusar yang besar atau keresahan tak beralasan. Jika memang waktunya sudah beralih ke dalam fragmen kehidupan yang lain, maka berubah. Seperti itu saja.

Sehingga belakangan, aku kerap menyamai bunglon: mentrasnformasi nuansa hati begitu cepat bahkan hampir-hampir tidak lagi memikirkan diri untuk diberi aba-aba pasti.

Kadang aku bingung, fase seperti ini, dalam kehidupan orang lain biasanya disebut sebagai fase apa? Karena aku baru tahu bahwa manusia akan secara umum merasai fase kematangan, kedewasaan, pubertas hingga berawal kembali menanti ajal.

Ataukah ini memang sisi melankolis yang bermain-main begitu nyaman dalam diri tak purnama ini? Perlukah diidentifikasi untuk kemudian digeneralisasi. Atau seperti yang sebelumnya kulakukan yakni dirasa-i saja?

Ada beberapa orang yang terlibat dalam pergulatan pikir-ku. Karena dalam beberapa kesempatan, kami berkomunikasi atau kami berinteraksi. Wajar kan, sepetri umumnya manusia lain.

Ada tentang seseorang yang tidak ku mengerti mengenai visionisasi-nya terhadap keberadaanku. Kadang terlihat begitu memaksa aku untuk menampilkan aku apa adanya. Kadang dia mengingati hal itu tanpa sebab. Padahal pada kesempatan yang sama, aku menjalani tak lain adalah aku yang seperti kemarin atau seperti beberapa hari yang lalu, bahkan seperti dia awal mengenalku. Mengapa masih saja aku merasa dipaksa untuk menjadi satu pribadi utuh? Apakah itu bahwa visionisasiku darinya bukan aku yang jadi realita dihadapnya saat ini? Entahlah. Aku Cuma bisa bilang, seadanya yang kau lihat itu. . itu adalah aku. Bila pun ada sesuatu yang menjadi sedemikian multi-tafsir dibenakmu. Cukupkan itu dibenakmu. Selebihnya jangan tergesa-gesa anggap itu misteri (yang bahkan memang bukanlah misteri).

Lalu beberapa orang yang secara hirearki memegang fungsi atasan atas fungsiku, setidaknya dalam satu-dua kebersamaan. Untuk beberapa langkahku yang mereka tak mengerti, menulikan telinga mereka dan segera saja menyimpulkan asumsi (bahkan terkadang menyimpul justifikasi). Its a bothersome (for a long ‘sometimes’). A trust isa need indeed. If u’ve give me that (even juft for once) then just keep calm n watch because i’ll say that i hate a noise.

**

Sejauh ini tulisan bebas di atas sangat ngaco dan tidak berkonjungsi untuk satu sama lain. Dan ini adalah tulisan (pengganti perkataan-ku) yang paling ngaco, yakni: ‘aku rasa aku butuh mencintai sesuatu (atau seseorang)’.

Ngaco. Kacau.

Tapi ngga segitunya sih,

Karena sebenarnya aku butuh energi yang biasa dianugerahi pada orang-orang yang mencinta. Aku membutuhkannya untuk menghidupi hatiku. .untuk menggerakkan hatiku. Karena rasa-rasanya merona karena membaca roman, mendengar lagu-lagu melankolis, dsb, belum cukup.

Hanya biar aku tahu dan biar aku bisa menyisip sebuah asa atas udara-ku dalam melakukan beerapa hal. Hanya biar aku begitu. Hanya biar aku lebih ceria. Hanya biar wajahku jujur mendefinisi rasa.

**

Oia, mengakhiri tulisan ini, aku Cuma mau bilang: jangan tergesa-gesa mendefinisikan keadaanku dari apa yang aku tulis atau apa yang aku posting untuk meng-update status facebook, karena mungkin sekali di saat itu aku sedang berbohong atau malah terlalu abstrak jujur.

Advertisements

2 thoughts on “saja saya

    1. ah nggak kok
      aku kan menilaimu dari tulisannmu, ziyy
      bukan dari status facebook

      makasih mas deady
      *tapi jg jgn percaya2 amat ma tulisan2ku.
      hehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s