catatan Jum’at

Aku tidak bosan untuk mengatakan bahwa aku menyukai hari jum’at. Ia (jum’at) adalah hari lahirku, sedangkan selebihnya jum’at selalu menawarkanku kemenangan dan ketenangan, meski hanya sekedar membuatku bersyukur menjalani hari itu.

**

Terkisah bahwa kamis lalu menjadi hari yang berat buatku. Aku bersyukur bisa melewatinya dengan ditandai bahwa aku terbangun untuk jum’at sejak dini.

07 mei 2010.

Akhirnya aku berangkat ke kampus dengan menggunakan angkutan umum. Ayah mengantarku ke terminal Blok M, dan selebihnya aku menumpang sebuah metromini 71 dan sebuah angkot hingga sampai ku di gerbang STAN di pukul 06.48. durasi yang tidak lama, karena jalan raya tidak menunjuki fenomena macet sebelumnya. Ataukah itu karena memang aku menghindari bisingnya Jakarta lebih awal dari jam pentasnya?

Dan pagi itu, aku membawa sedikit bekal. Kentang goreng dan telur mata sapi. Di sebuah bangku semen panjang di taman antara gedung C dan D, aku melahap sedikit bekal buatan itu. Lumayan, aku memenuhi perutku yang sebelumnya kelaparan.

Menatap sekeliling taman antara gedung C dan D itu, ada aktivitas kebaikan membumbung menyegarkan atmosfer. Ada saat teduh dari PMK, ada beberapa kelompok ber-halaqah dan membincangkan ilmu Allah dan mengharap naungan malaikat, ada yang melingkar untuk menyusun strategi dalam performa kebaikan selanjutnya.

Sedap dipandang mata ini.

Selebihnya, waktu perkuliahan datang. Alhamdulillah energy positif menjalari diri. Sedang bersemangat untuk belajar di hari berkah itu. Tidak seperti sebelumnya saja.

Memang perkuliahan hari itu penuh, dari pagi hingga sore (persis). Tapi, semangat takboleh surut karena langsung setelahnya, agenda pekanan telah manis menunggu. Memanggut saja aku dan tenang melangkahkan kaki keluar dari kelas untuk melingkar bersama saudara-saudara serahim dalam iman. Bersama melafaz ayat-Nya, menekuni dan merekam transfer ilmu dari sang Guru, berbagi kabar dan membuat janji untuk pertemuan selanjutnya.

Akhirnya, aku meluangkan sedikit untuk berbincang dengan Guru. Hal-hal kecil saja, dan sambil disuguhkan padaku jahe hangat, serta merta ia mencecari diri ini dengan semangat. Aku tau ada dukungan untuk langkah-langkah kecilku, ada kepercayaan dan ada perhatian. Tak bisa aku melewatkan itu, dan tak bisa aku tiada mensyukuri hal itu.

Bisa saja sebelumnya kekhawatiran-kekhawatiran muncul. Tapi ibarat permainan jaman, dan roda berputar. Seperti itu saja. Gusar tak perlu teramat.

Kelak, percaya saja dan diam. Itu cukup.

Dari Jum’at, aku belajar, tidak ada luka yang benar-benar melukai. Tiada bahagia yang benar-benar membuat bahagia. Terkecuali ia dirasa karena keberadaanNya. Ya, ada dan tiada diriNya yang membuat semua berbeda dan terminal keadaan apapun.

**

Bisikku untukmu duhai Jum’at.

Buatku hadapimu selalu bersemangat.

Buatku menghargaimu dengan cinta yang pekat.

Dan karena aku selalu mengharap keistimewaan darimu, tak apa kan?

Advertisements

2 thoughts on “catatan Jum’at

    1. faraziyya

      mas deady yang bilang yah,
      saya hanya mendeskripsi nuansa jum’at pagi lalu ..
      hehe
      sayangnya saya belum pernah liat kmhb menunai aktivitas keagamaan disana (pa emang saya yang kuper yah?)
      😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s