Jangan men-senyawa,

Berawal dari tulisan handika dengan penggalannya yang begitu tajam ini (menurutku).

Susah memang bila kita menjatuhkan hukum segala sesuatu hanya pada seberapa banyak orang yang menggunakannya. Masalahnya adalah, ini perut kita. Ini tubuh kita. Apapun yang masuk dalam jasad ini, kita yang bertanggung jawab. Bukan mereka.
Setidaknya, usahakan apapun yang berhubungan dengan diri kita sesedikit mungkin berhubungan dengan hal yang nyerempet dosa dan ndak jelas hukumnya.

Aku jadi ingat juga postingan Reza yang kurang lebih isinya adalah tentang meneladani 3 hikayat yang menampilkan hikmah untuk memperhatikan halal-haram zat yang kita makan karena serta merta kebenaran menjelaskan bahwa Allah menjaga dan mengabulkan doa-doa dari manusia yang terjaga dari zat yang haram.

Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul doanya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

Dua tulisan tersebut sebenarnya tidak sama, melainkan berada dalam sebuah kait yang sama yakni terjaga dari zat-zat haram. Kalau dalam tulisan handika saya menangkap kegundahannya bahwa kita bertanggung jawab akan apapun yang masuk ke dalam jasad kita (dalam hal ini termasuk apa-apa yang masuk ke dalam pikiran kita). Sehingga dengan penekanannya dia memanjangkan nasihatnya,” usahakan apapun yang berhubungan dengan diri kita sedikit mungkin berhubungan dengan hal yang nyerempet dosa dan ndak jelas hukumnya”

Saya jadi ingat suatu waktu ketika saya bertanya pada pinang terbelah dua itu (handika dan nugie) tentang ketidaksediannya memiliki akun di jejaring facebook. Dengan fasihnya mereka menjawab,”terlalu dekat dengan yahudi.”. meski demikian, mereka tidak mempermainkan logika teman-teman yang masih menggunakan akun di facebook. Pada akhirnya tiada perdebatan untuk pilihan yang menyangkut hak, bukan?

Itu teguhnya pendirian mereka, itu style mereka dalam membaharu iman yang belakangan selalu jadi olok-olok zaman. Saya sendiri menghormati pendirian mereka, sempat bahkan ingin berteguh sama. Tapi nampaknya saya masih labil.

Upaya menghindar oleh mereka ini, menurut saya, begitu beralasan. Mungkin mirip dengan anggapan lebih baik tidak bermain api jika tidak ingin terbakar tangan. Lebih dari itu semua, bukan tentang terbakar tangan tapi tergadainya iman. Kehatia-hati-an extra, kewaspadaan yang naïf-nya begitu menggigit. Siapa sangka, itu seperti sebuah cangkang yang melindungi diri dari kejahatan luar.

Terlepas dari ketangguhan jati diri yang mereka perlihatkan, kita bisa menelusur bahwa kedekatan yang begitu dekat dengan musuh memang sangat membahayakan. Katakan saja mereka memiliki eagle eye yang begitu canggih (duniawi) merekam langkah kita dengan mudah. Mereka akan gampang memblokir upaya-upaya perjuangan yang kita bangun, akan dengan mudah  meluluh-lantakkan kepercayaan kita dan yang pasti cepat atau lambat kita akan dikhianati.

Saya baru bisa ber-sua, seperti yang sudah sahabat saya lakukan, “jangan terlampau dekat. Jangan jadikan mereka sahabat. dimana kita akan mudah berbagi makan sedang ia bisa tabur racun pada makanan kita atau mengelabui kita dengan senyum manis dan bala bantu yang tertawar untuk kita. Jangan terlampau dekat atau kita tercemar dan tergelincir,”

Ujung-ujungnya saya berterimakasih karena dua tulisan dan beberapa penggalan ingatan akhirnya memaksa saya untuk merefleksikan apa-apa yang harusnya ter-refleksi dan apa-apa yang harusnya tertinjau ulang agar bersih raga dan ruh serta merta bisa kembali leluasa mengais ampunan dan rahmat untuk kehidupan nanti di sisi-Nya.

Tidak akan terlalu jauh jarak jika kita mendudukkannya demikian, sedangkan kedekatan akan kematian itu begitu absolute. Tidak bisa diperdebatkan.

Andai apa-apa yang mewarnai diri dan hari (selama sekian umur hidup ini) begitu berpengaruhnya terhadap wujud akhir ke-muka-Nya maka aku berharap jadilah ia catatan-catatan yang membuat hati lapang dan tenteram. Menjemput kebersahajaan yang jauh dari bias-nya tangan-tangan manusia telah perbuat.

Bias-bias oleh manusia tak berhati yang ingin mengungguli ke-Maha-an Allahu Rabbi akan terputus bersama umur dunia. Dan untuk itu, untuk keniscayaan itu, bersabarlah. . dan jangan men-senyawa bersama mereka.

Catatan:

*tidak sepertimu, aku masih berkawan dengan produk kecerdasan mereka. Mungkin baru melepas makanan-makanan yang menjadi identitas penyusun energi mereka. Selebihnya aku masih terpenjara dan tak berdaya.

Advertisements

3 thoughts on “Jangan men-senyawa,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s