Selimut hangat di liburan ini,

Judul diatas hanya beberapa kata mem-frasa. Jadi, jangan berharap saya bercerita tentang selimut yang saya dapatkan di liburan semester ini. Karena hal itu tidak nyambung sama sekali.

Beberapa hal, di awal menjadi rencana dan bentukan sketsa di pikiran. Beberapa hal tersebut mensketsa dan sebelumnya ingin menyesakkan liburan kali ini menjadi liburan yang terpeta. Tapi, di titik nol dalam ahad ini, bentukan sketsa itu mengabur.

Liburan yang memasuki akhir minggu kedua ini berjalan dalam fragmen yang tidak direncanakan. Pasalnya, semangat di awal liburan menguap dengan diamnya raga hingga detik ahad ini. Like always, skenario hari berjalan rapi tapi seringnya saya yang tidak siap sehingga banyak terlewati masa tiada berdaya raga punya (hadoh non, bahasamu ndak enak).

Lets count! Evaluasi mimpi liburan yang terseok-seok hingga ahad ini

Awal liburan di-charge dengan mabit bareng saudari-saudari seiman. Dalam perbincangan hati di malam kelam itu, awan-awan mimpi bertebaran. Meminta prioritas dikerjakan. Kita harus begini, begitu, dengan timeline ini diwaktu itu persis membawa tema ini dengan konsep seperti itu. pagi yang merayap menggantikan malam membuatnya terasa manis untuk diteruskan. Jadilah kita mengantongi harapan dibalik sentuhan antar pipi kita. Aku tersenyum dan kalian balik membalas. Ya, hati-hati dalam perjalanan pulang. Ambil kebaikan dalam perjalanan menuju tanah harapan.


Berpamitan dengan kesibukan, bukan berarti meninggalkan kesibukan itu serta merta. Maka, diawal minggu pertama aku dan seorang saudari berjalan kesini-kemari mengabarkan proposal yang akhirnya jadi. Semoga perjalanan itu diberkahi dan mendulang berkah dari jerih usaha yang tidak apa-apanya.

Lalu, apa? Pertengahan minggu pertama terkhianati oleh malasnya raga. Ampun DJ, aye kagak ngerti ni sindrom ‘istirahat’ sebegini kuat!. Maaf ya saudari seperjuangan, aku menunda harapan untuk didulang. Tapi berkas naskah-naskah itu telah jadi, hanya saja belum ku rapikan.

Sebelum ahad minggu pertama liburan muncul, aksi solidaritas Palestina menyapa semangatku terlebih dahulu. Trip singkat yang membuatku kaya dengan hikmah dan rejeki akibat silaturahim. Lalu, tangis penuh harap membersamai perjuangan saudara dalam iman. Pembebasan Palestina mendarah dalam semangat Sabtu itu.

Nah, akhirnya angin kehidupan mau menyapa lagi. Akhir minggu pertama benar-benar sukses mendatangkan harapan. Ya! Komunitas lingkar pena membuaiku dalam angan. Bertemu mbak Ifa Avianty dan melingkar bersama kelas fiksi di ahad pagi itu menjadi energi tersendiri yang ternyata auranya tiada habis sampai ku bawa pulang. Banyak rumus-rumus bertebaran dalam otakku yang sempit ini. Banyak coretan-coretan berwarna dari ahad pagi itu yang ku baca ulang. Ini mungkin sedikit hadiah yang harus ku pelihara : semangat!

Ya ampun, jemariku ditemani tikus berwujud kursor di layar yang marah padaku dengan berubah aura warnanya (kadang menghijau atau menguning kemudian normal), ia tak henti mencecar mbah Google untuk memberikan informasi. Aih, dapatlah itu dua buah kesempatan yang mendekat. Yang satu dibulan April dan yang lainnya di bulan kelahiran (September). Soprinter berbaik hati menerjemahkan data dipersonal computer itu menjadi beberapa lembar naskah siap coret. Lalu, beralih ke dalam notes penggenggam ide yang bersahabat, aku mulai menekurinya melukis beberapa ide yang menjejak. Bismillah..

Destinasi berikutnya. Minggu pertama sampai minggu kedua meminta perhatianku tersita untuk adik yang kuajar. Ia hendak menghadapi ujian akhirnya. Jadi, sukseslah perjalananku 4kali PP Bintaro-Pondok Pucung dalam hajat mengajar.

Terhitung dari minggu kedua liburan, insomnia benar-benar menemaniku di kelam malam hingga pengeras suara dari saung mushola menyahut. Insomnia ini benar-benar sukses menghajarku. Akhirnya, aku diajaknya meneguk ekstase blogwalking. Terimakasih Reza, aku menemukan E. S. Ito. Selebihnya aku nge-bookmark blog Andreas Harsono, bermain di laman Fachmy Casofa dan Liza-fathia, hingga aku melumat catatan-catatan facebook milik Tasaro, Fahd Jibran, dan Rampe Maega. So delicious. Arigatou insomnia-kun!

Catatan-catatan dari nama-nama tersebut diatas tentunya diluar laman catatan wajib kunjung di multiply dan facebook milik saudara terdaftar dalam dua jejaring itu. lalu mampir lah itu Taman Ismail Marzuki yang terlihat menarik dimata yang jarang memandangnya habis-habisan ini. Ya, ada tarian bali yang luput dari mata tapi musiknya mengganggu telinga  saat pertemuan rutin komunitas lingkar pena lalu. Aku tidak tahu apa isi gedung-gedung yang ada di kompleks Taman Ismail Marzuki itu, aku malah melewati beberapa baliho terpampang menyebutkan festival film dan promo nya, membuatku membuka situs kineforum dan mencaritahu saja seni apa ditawarkan disana. Oiya Pah, nampaknya aku mulai menguasai jalanan menteng dan cikini itu. .

Di tiap mengingat TIM, aku ingin meminjam DSLR untuk mengabadikan pusat Jakarta yang melingkupinya. Tapi apa daya, aku lupa (selalu).

Tentang adikku dan aku yang harus tinggal dirumah karena tiada uang untuk kemana malah jatuh menemani belajarnya untuk menghadapi ujian. Pasrah sajalah. Sementara orangtua berikhtiar ke Pemalang untuk berobat. Abang besar? Memenuhi tanggungjawabnya dengan memberi uang dan makan. Ya, penuh sudah liburanku.

Dengan upah mengajar belum juga turun, aku terpaksa menunda penjelajahan untuk daftar buku target yang ingin  didapat. Aih, aku begitu bergantung dengan Uang PAyaH itu untuk buku-buku terhasrat. Tak jadilah agenda sabtu sore di Gramedia Matraman. Mungkin minggu depan.

Terakhir, dalam liburan berumur dua minggu yang sudah dilewat ini,ada nilai-nilai yang aku kais. Bahwa dunia itu luas ketika kita menghargai tiap jengkal yang orang lain dan kita sendiri tapak. Orang-orang hebat itu penuh inspirasi dan menantang diri: adakah aku akan di barisan orang hebat itu? tentang insomnia dengan kanker hati-nya. Lalu writhink things yang menggila dibenakku. Terkadang mematahkan gerakku kadang membuat ku bersemangat saking ianya berwarna. Tanya saja pada fahd jibran, tasaro, andreas harsono dan E.S ito. They’re people on my holiday weeks.

Lalu, beri aku dua tahun. Aku mau bereksplorasi dan mengeksploitasi diri. Meski aku terus merutuk. Oh no, kenapa lo g bisa nulis cerpen ziy??


Catatan yang meluber lainnya

*arigatou insomnia-kun. Arigatou neko-kun  (dia lemah melingkar dibawah kursi yang aku duduki, seperti menungguiku dan insomnia ini di malam-malam belakangan ini)

**well, aku lupa. Aku meluncurkan anak blog. Pengennya sih diisi dengan journalistic things. Entahlah, aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit.http://djurnalisziyy.wordpress.com

***penyiar asy syafi’iah radio yang lancar menyapa pendengarnya membuai kami malam ini dan menyisihi pelajaran untukku. Bagaimana mengatasi nasi yang telah menjadi bubur. Ia bilang,” nasi mustahil menjadi bubur tapi bubur masih bisa ditabur potongan ayam goreng, ati dan kari ayam.”

****Fah, kuberlari-nya firdaus & akbar juga menyesaki playlistku. Selebihnya Zain Bhika dengan zamilooni dan merah saga dari shouhar mendayu-dayu kadang menjerit dari headphone yang aku gunakan sambil tangan menari di papan ketik.

Advertisements

One thought on “Selimut hangat di liburan ini,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s