Historian

Dulu saya cuma suka sejarah saat belajar revolusi prancis dan revolusi industri. Yap! Sekitar tsanawiyah kelas ย VIII. Saat saya disodori sejarahnya tanah air saya sendiri, malah timbul perasaan ogah untuk mendalaminya bahkan untuk sekadar memahaminya, ya saya cuma mempelajarinya agar bisa melewati ujian dengan tenggat nilai yang ditentukan.

Tapi, belakangan ini, saat saya dikenalkan oleh karya-karya hebat orang hebat dalam balut bentuk buku, keingintahuan saya akan sejarah kemudian muncul saja. Semisal membaca perjuangannya Natsir lewat tulisan testimony para tokoh, membuka mata bahwa hey, banyak para daโ€™i dalam perjuangan kemederkaan! Dan lo baru tau sekarang! Menyedihkan! ๐Ÿ˜ฆ . Saya merasa terlalu sombong dan merasa belakangan ini juga kesombongan itu terjawab dengan kegegapan saya menghadapi banyaknya wawasan menarik yang menguak. Dan dititik setelah kesombongan itu menguap, ia tergantikan oleh keriangan anak kecil yang mendapatkan permen yang berlimpah. Ya, seperti itu rasanya.

Belakangan ini saya mencari dan dipertemukan oleh beragam bentuk wawasan yang mendesak menyesak masuk ke dalam pemikiran saya yang dalam kurun waktu yang lama dipersempit oleh egoisme. Tergagap saya dibuatnya. Inilah pasal karma yang saya dapat. Merasa ditelanjangi dengan kebodohan saya sendiri yang seolah berkata ,โ€kemane aje lo?โ€.

Pertanyaan itu begitu menyinggung terlebih saat saya membaca kisah Laode M. Kamaluddin (orang Indonesia Timur yang sekarang Guru besar Universtas Muhammadiyah Malang) yang telah membaca Capita Selecta jilid 1 karya Mohammad Natsir diusianya saat itu harusnya duduk di bangku kelas 5 sekolah rakyat pada tahun 1958 sedangkan saya baru mendapatkan buku itu diusia saya yang ke-20 di tahun 2010 ini. Benar-benar merasa kalah.

Perasaan kalah itu kerap muncul mengetahui ketinggian ilmu/wawasan yang dimiliki orang lain. Selfish banget mungkin ya. Simpelnya perasaan kalah itu datang saat si A udah baca buku ini-itu tapi saya masih berkutat di buku apa, atau si A udah mendalami kecenderungannya terhadap sastra sedang saya masih bertanya-tanya kenapa gw gg bisa bikin tulisan fiksi?. Ya. . perasaan kalah itu sering muncul belakangan ini. Dan semoga perasaan kalah itu membimbing saya kepada tangga menjejak penjawab keingintahuan.

Biar nyambung ke judulnya historian, mari kita kembali.

Seperti namanya, historian adalah sebuah pekerjaan. Ibaratnya historian itu profesornya di ilmu sejarah. Yap! Ahlinya! Saya ngga muluk-muluk pengen jadi historian karena status saya sekarang adalah mahasiswa Akuntansi. Tapi baiknya adalah mengambil manfaat sang historian itu yaitu mempelajari sejarah, memaknai peristiwa sejarah dari masa yang sudah dan menempelkan pelajaran yang berharga dari sejarah kepada cara kita menanggapi persoalan kekinian yang kita hadapi.

Nah, kayak katanya Bung Karno : Jas Merah! Maka marilah kita melapangkan hati kita untuk mempelajari sirah mereka. Sirah perjuangan orang-orang terdahulu. Tidak perlu malu, karena ini bukanlah bentuk ke-kolot-an melainkan sebuah sikap dewasa.

Setidaknya saat ini aku sedang keranjingan bermimpi bahwa aku akan bijak menyikapi kecenderungan ini. Saat akhirnya aku terbuai kisah-kisah sejarah, apa yang akan denan bijak seorang pembaca atau penulis lakukan? Berhenti hanya pada rasa kagum atau menyebarluaskannya-kah? Apakah itu saja? Karena pasti mereka (para pelaku sejarah itu) akan menanyai balik, โ€œsetelah ekstase perjalanan dari sejarah kami, apa yang akan kalian perbuat?โ€. Apa jawaban yang kita punya?

Satu jawaban yang terlintas adalah โ€˜mengadopsiโ€™. Nah, pertanyaan berikutnya,โ€siapa yang memiliki kesahajaan untuk mengadopsi? Siapa yang mau menyembunyikan ke-tahu-annya untuk mengais nilai-nilai sejarah?โ€

Nah lho, napa jadi berat begini?

Well, sejarah tidak hanya menunjukkan pemandangan itu. Sebenarnya sejarah adalah dongeng realita. Dan saya sedang berhasrat โ€˜membacaโ€™ dongeng realita itu. ya,barudimulai pada batas itu. entah apakah nanti historian menjadi impian saya atau hanya kecenderungan lainnya. Yang penting adalah saya pengen โ€˜kayaโ€™ dari sejarah. Karena itu saya ngga pengen sombong lagi dengan merasa bahwa ilmu-ilmu kekinian aja yang bisa menjawab tantangan. Saya ngga pengen ditipu lagi oleh kerumitan berpikir orang-orang jaman sekarang (yang kelihatannya hebat dengan bahasa ilmiahnya) padahal nilai kesahajaan dari tokoh-tokoh sejarah itu yang saya butuhkan.

Nah, saya juga ingin berbagi nih. Link web-nya E.S.Ito yang baru saya kenal beberapa jam lalu dari tulisannya yang di-copas oleh Reza Syam Pratama di Facebook.

> http://esito.web.id <

Disini label web-nya adalah Discover Nation through History. Dan pikiran-pikirannya dalam tulisan-tulisan yang ada pada laman web ini benar-benar sarat (saya memaknainya demikian). Terlihat sekali historian-nya beliau. Dan pengetahuannya akan sejarah itu diramunya sedemikian rupa dan menghasilkan tulisan kritis yang menyanggah polemik-polemik kini. Ada juga fiksi [Pertemuan 1-3 dan pertemuan (ekstra)] yang dibuatnya yang membuat pembaca menjelajah imaji dengan penokohan real tokoh-tokoh sejarah yaitu Soeharto, Soekarno, Buya Hamka, Sutan Sjahrir, Pramoedya, Benny, hingga Chairil Anwar. Benar-benar saya dibuat terperanjat bertanya dalam hati, buku apa aja yang dibaca nih orang?.

Mencerahkan dan membuat sejarah jadi mengasyikkan. Dan mari menelaah sejarah, mari kaya dengan sejarah, meski belum saatnya menjadi historian,ย toh ndak ada yang mengkambinghitamkan orang yang punya kekayaan sejarah dan mempu meinginvestasikannya dengan baik kan?


**thanks to: Reza Syam Pratama atas referensi link-nya dan kepada Insomnia-ku yang membuat blogwalking kali ini menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s