Untukmu (Palestina). . keseribukalinya,

Bismillahirrahmanirrahim. .

Untuk pertama kali, ingin aku melantunkan puji, pun meminta bantu kepada penduduk langit untuk keberkahan munasharah ini. . melayangkan ruh untuk pembebasan Palestina. .

Rabbi, inilah polemik yang tanganMu beri kepada kami sebagai pemersatu. Itu hal yang pertama ingin aku pahami dari genosida di Palestina. Dengan demikian, akan selalu meletup harapan kami atas pembebasan Al-Quds nan suci.

Rabb, inilah caraMu menyentuh hati-hati kami. Aku tiada menyangsikan bahwa rakyat Palestina tidak menghiba bantuan. Mereka bertahan dengan daya ‘malaikat’ yang Kau pinjamkan. Aku tahu itu. Mereka kau bekali kelapangan dan jauh dari kecintaan pada dunia, berbekal itu saja, aku tahu mereka bisa bertahan hingga saat ini.

Rabb, aku ingat bahwa seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Mungkin ini juga petunjukMu dalam memberitahu kami bahwa keimanan mereka yang sedemikian melangit yang akhirnya membuat mereka bertahan dengan dera ujian yang takkan sanggup di’amin’I oleh rakyat lain. Begitu kan Rabb? Kau ingin beritahu pada kami bahwasanya mereka patut kami teladani keimanannya. Kau tunjukkan pada Kami mereka, rakyat Palestina, yang akan selalu kami cemburui . .kami cemburui.

Duhai pasukan langit, malaikat nan suci, beritahu Rabb bahwa kami disini ingin Ia menjaga saudara-saudara kami di Palestina. . .


** Sabtu, 4 Rabi`uts Tsani 1431/20 Maret 2010

Pagi ini, langit Jakarta cerah (bila tak ingin mengatakannya panas). Langkah-langkah menuju sekolah pun pasti. Aku ingin menemui kelompok kecil itu disana. Meski pada akhirnya aku meminta maaf karena pertemuan itu harus disegerakan. Pasalnya, matahari terus naik dan hembusan semangat munasharah berpendar. Akhirnya kami  mencukupkan dengan bait syukur dan harapan untuk pertemuan selanjutnya.

Bersama Kak Samiah, Azimah, Astuti, Dewi, Sebrina dan Dinda, kami menuju monumen di pusat Jakarta. Episentrum munasharah. Dibantu transjakarta sampai shelter monumen nasional, kami sampai dengan sayup-sayup mendengar nasyid pergerakan. Sudah masuk sholat dzuhur, kami berkejaran dengan gerimis untuk sampai di musholla kementrian komunikasi dan informatika RI.

Selang belasan menit kemudian, gerimis tak hanya mengejar. Ianya menderas. Meminta kami sejenak berteduh di tangga menuju lobi gedung. Gemerisik hujan itu berbunyi. Aku tenggelam dalam buku yang sedang kubaca dan disampingku Kak Samiah fasih bertilawah. Tidak sebegitunya aku tenggelam, karena aku terusik oleh hujan. Disamping kiri, Sebrina asyik bertanya tentang warna bendera Palestina sambil ia mencocoki warna pastelnya untuk dibubuhkan di layang-layang yang dibawanya bersama Dinda.

Rabb, mungkinkah kau kirim mereka (hujan) untuk menyejukkan terlebih dahulu jiwa-jiwa kami yang hendak beraksi?

Rabb, mungkinkah kau ingin tuntaskan jadwal hujan lebih dini agar keseluruhan aksi munasharah nanti tidak rikuh karena pasukan air.

Rabb, percikan air ini . .aku menyukainya.

Sejuk ..

Dan setelahnya, kau bawa langit berawan untuk memayungi kami..

Itu kan yang Kau rencanakan ..?

Aku jadi semakin mantap untuk meminta penduduk langit memberkahi munasharah ini

(tersenyum)

“hujannya udah habis. Ayo segera gabung kesana,” ujarku sambil bangkit.

Dan dengan kehati-hatian, kami menyebrang  dan menyusuri jalan menuju tugu monas. Sayup-sayup pekikan takbir terus mengiringi langkah kami. Dan dari berbagai penjuru, langkah tegap keturunan adam memenuhi jalan. Dengan kibaran putih, putri-putri Khadijah al-Kubra menggandakan semangat dengan keanggunannya. Inikah pemandangan kala ummat menyatu menggapai gemilang? Ya . .tidak akan seperti ini melainkan lebih dahsyat dari ini nanti. .

**

Langkah-langkah yang terhenti benar-benar mengisi lapangnya jalan menuju tugu monas. Subhanallah, melihat lautan manusia selalu membuat semangat gegap. Bukan apa, tapi ini adalah tautan iman yang mereka bawa. Dan seiring sound panggung menghentak membuat adrenalin bekerja aktif. Aku mendiamkan diriku. Tidak seperti Azimah yang terlihat bersemangat dengan nasyid-nasyid pergerakan dan meninjukan kepalan tangannya ke udara mengikuti sang munsyid. Aku berusaha tenang, meski rasanya dada ini penuh oleh sambaran semangat mukmin disana.

Masalahnya, mata ini mendung. Berkaca-kaca mengandung dan menahan air bening. Karenanya aku menghadapkan wajahku ke langit. Langit yang cerah dengan awan yang tetap membiru. Membawa ekstase semangat ini dan membayangkan aku bisa melihat langit Gaza di saat bersamaan. Aku ingin tahu, tepat pada waktunya yang sama, apa yang sedang kau lakukan saudaraku di Gaza sana? Duhai arsitek perjuangan, para pejuang HAMAS, langkah kemenangan apa yang kau rencanakan berikutnya? Pejuang-pejuang kecil keponakanku dalam ikatan iman, ‘amah menunggu wisuda hafidzh-mu segera. Dan tanahku, duhai Gaza, adakah kerinduan ini sampai kesana?

Aku menyudahi menatap langit, membasuh titik air bening disudut mata. Meski setelahnya, aku dibuat meler. Sudahlah, anggap saja aku sedang pilek. Itu lebih mudah ketimbang ketahuan cengeng diantara mukmin yang gegap mengirimkan semangat disana. Masalahnya aku tak bisa menahan tangis mengetahui Israel terus menganiaya saudaraku. Seperti mukmin yang lain, aku perih. Dan saat tegak berdiri diantara lautan manusia tadi siang, lebih baik aku terus diam.

Bunda Yoyoh Yusroh tampil mensejajari para lelaki hebat di panggung sana. Wanita yang semangatnya selalu dinikmati dan keberadaannya dihormati. Bunda, kami selalu menikmati mendengar lantunan cerita yang engkau berikan untuk kami. Seperti membasuh kerinduan kami yang belum bisa menengok langsung saudara kami di tanah timur sana. Juru bicara dengan kedudukanmu sebagai parlemen sehingga akses lebih menunjang untuk bergerak kesana kemari memperjuangkan kemerdekaan palestina, telah engkau wujudkan dengan baik Bunda.

Aku mengingat tiap kali kau mengucap fitrah rakyat Palestina yang jauh dari kecintaan dunia. Bahwa asa mereka melangit, tiada membumi. Dan itu yang membuat mereka tinggi. Bund, aku selalu mengingat itu hingga rasa-rasanya aku dibakar cemburu.

Penduduk langit tidak akan enggan menyambut mereka dengan asa yang melangit itu. aku pahami itu sebagai hadiah terbaik bagi mereka. Itu kado menggantikan darah-darah mereka. Dan selaksa kedudukan syahid menjadi sebuah kegemilangan tersendiri yang dibayar langsung oleh Rabb. masyaAllah . .dengan begini kami tiada akan bersedih atau sekali-kali mengasihani mereka.

**

Berawan. Meski tak banyak, rahmat itu seolah merestui langkah-langkah kami yang sahut menyahut dalam bingkai kebersamaan tanpa hijab identitas. Ada mahasiswa, ayah, ibu, nenek, balita dan muda. Inilah ritmenya: mukmin bersedekap dalam ukhuwah yang dibubuhi iman. Tidak ada ricuh atau rusuh, kami sama-sama mengerti: ini dedikasi pada saudara-saudarakami nan hebat di Palestina sana.

Tak hanya yang berhijab dan laki-laki berjenggot, dewasa tanggung dengan tampilan necis, muda-mudi yang terkenal dengan komunitas Jackmania turut serta menyamakan langkah. Membawa bendera merah-putih yang menyejarah. Hendak menandai bahwa merah-putih kami , selain ukhuwah tentunya, yang membuat kami mampu hadir tanpa ragu pada wadah ini.

Orang-orang TV, beberapa disana, menangkap ini sebagai bahan berita. Andai saja lebih dari itu. Coba fasilitasi semangat kami dengan jembatan yang bisa kalian buatkan untuk kami dan para penguasa sana. Andai itu termaksimalkan sebagai sebuah sinergitas. Tapi sayang, aku dihantam realitas bahwa kepenguasaan juga yang mengendali orang-orang tv. Jika demikian, setidaknya bawalah kebenaran, itu pinta kami pada akhirnya.

**

Benak-benak muslim saat ini tentang negeri Palestina sungguh sangat beragam. Di sejajar kawanan polisi, aku tahu mereka menyaksikan dan mengawasi dengan seksama. Tapi aku tidak tahu Rabb, adakah mereka membawa hati mereka dalam melunasi tugas mengawasi munasharah tadi. Adakah mereka akhirnya meluruh bersama mukmin-mukmin yang lain dan mulai berjanji menyerahkan totalitas kerja untuk ini, untuk namaMu.

Lalu, muslim yang belum berkesempatan bergabung dalam munasharah melainkan mereka menyaksikan dari sisi-sisi jalan. Aku membayangkan, mereka hanya belum memiliki keberanian untuk melangkah berikhtiar melawan kezhaliman zionis atau memang mereka memiliki keberanian dalam bentuk lain dalam berikhtiar pada subjek yang sama. Tapi aku melihat, dari gurat-gurat itu ada respek dan sambutan hangat dari senyum mereka terhadap langkah kebaikan ini. Ya, aku melihat itu dalam wajah-wajah tertular semangat itu.

Para pengemudi di jalan yang kami sesaki. Meski akhirnya macet menjadi ceritera lain dalam episode munasharah ini, semoga mereka lapang menerimanya. Meski klakson-klakson tak henti sahut menyahut, aku harap itu hanya karena mereka memang terburu-buru sedang mereka tidak lupa akan isu genosida yang mendunia ini. Sehingga pada kesempatan lain, semoga semangat kemanusiaan dirasai bersama.

Aku tidak menyangka para pelakon entrepreneur juga mendapatkan rahmat dari menggelar bawaan mereka. Simbiosis mutualisme. Semoga tak hanya simbiosis itu melainkan juga dukungan moril yang terbahasa oleh senyum hangat mereka atas peluh para simpatisan disana.

**

Dan Ziy, aku melihatmu. Berpakaian dan berhiijab putih, layaknya putri-putri Khadijah al-Kubra yang lain, hanya saja kau tak anggun. Hanya bisa berjalan beritme menggenggam tangan Azimah. Apa yang kau lakukan? Hanya sebegitu saja? Waktu untuk munasharah ini pun tak genap kau tuntaskan, malah kau nikmati hembusan angin ac dari transjakarta padahal mukmin-mukmin yang lain terus menyertai langkah-langkah mereka dengan semangat.

Selebihnya kau membisu, bermain dengan hati yang kau bawa saat itu.

**

Duhai pasukan langit, malaikat nan suci, beritahu Rabb bahwa kami disini ingin Ia menjaga saudara-saudara kami di Palestina. . .

*meski menyayangkan karena harus pamit duluan atas udzur mengajar, tapi ruh yang kita buncahkan disana dan ruh semangat yang kita bawa sebagai oleh-oleh semoga dalam frekuensi yang sama, dan akan menyengaja untuk timbul selalu dalam napas-napas doa untuk Palestina.

Tsurayya al Faza


Advertisements

6 thoughts on “Untukmu (Palestina). . keseribukalinya,

  1. ALLAHU AKBAR,,!!!! HANCURKAN YAHUDI LAKNATULLAH,,,,
    ISLAM BERSATU TAK BISA DI KALAHKAN,,,!!!!!
    AL AQSO HARUS ADA,,, DAN PALESTIN,, TETAP TERCINTA,,
    BUAT PARA MUJAHID DAN MUJAHIDAH,,, SMOGA ALLAH SELALU BERSAMA-MU

  2. tulisan ini udah aku buat beberapa bulan lalu saat berbagai media sibuk dengan kabar terkini dari palestina tetapi sekarang meredup. baru posting sekarang berharap cinta ini kepada palestina tidak meredup seperti media khususnya tv.

    Palestina

    Dulu aku buta, tuli dan bisu kepadamu

    Dulu aku tak begitu mempedulikanmu

    Dulu aku tak begitu memperhatikanmu

    Tapi kini Allah telah menyembuhkanku dari penyakitku

    Membangunkanku dari tidurku

    Sekarang aku melihat, mendengar dan sering menyebutmu

    Sekarang aku peduli padamu

    Sekarang aku perhatikanmu

    Bahkan sekarang aku rasa aku mencintaimu, Palestina

    Engkau menjadi salah satu peringkat teratas dalam doaku

    Aku merasakan penderitaanmu

    Aku merasakan kesedihanmu

    Akupun menangis karenamu, terhadap apa yang dilakukan bangsa kera itu kepadamu

    Akupun hanya baru bisa memberikan sedikit hartaku kepadamu

    Dan sebaris do’a untukmu setelah sholatku, sujudku dan antara adzan dan iqomah

    Baru harta dan do’a yang dapat kulakukan, belum jiwa

    Dambaku ke negerimu

  3. faraziyya

    yap. its been three months sice i’ve wrote this.
    it has its special marks.

    subhanallah . .puisi yang bagus.
    hm . . selalu ada waktu keseribukalinya untuk mendoakan Palestina.
    lihatlah, tanpa berbuat apa-apa, Palestina memiliki cinta dari ummat Muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s