Memelihara Masa Lalu

“Kebanyakan orang memanfaatkan facebook untuk memelihara masa lalu mereka,”

Anies Baswedan

Saya dan beberapa teman dari Media Center langsung mengangguk-angguk saat itu. karena fakta lapangan berbicara demikian. Jejaring sosial yang demikian rupanya saat ini digunakan oleh orang-orang untuk mengumpulkan lagi masa lalunya, tepatnya orang-orang dalam masa lalu mereka beserta kenangannya. Coba anda tengok facebook’s friends anda saat ini, saya bisa menebak bahwa daftar pertemanan itu dijejali oleh nama-nama dari masa lalu anda atau setidaknya nama-nama anda dari pertemanan saat ini.

Well, ini bukan tentang salah atau benarnya pemanfaatan facebook tapi pola yang terjadi dalam dunia per-facebook-an.

*sigh . .

Saya tidak memungkiri pola itu, toh saya juga memelihara komunikasi saya dengan nama-nama yang ada di masa lalu saya. Itu bukan sesuatu yang menggelikan, malah terbilang wajar. Tapi saya akhirnya memaknai lain perkataan beliau bahwa beliau menyayangkan bila jejaring pada umumnya akhirnya hanya dimanfaatkan sekadar memelihara masa lalu, padahal banyak potensi bisa dikerahkan untuk memaksimalkan jejaring yang ada dalam mengembangkan potensi pribadi.

Beliau memisalkan kami sebagai jurnalis, alangkah baiknya berteman dengan wartawan-wartawan senior dalam dan luar negeri. Hal ini nantinya akan menjadi investasi tersendiri untuk kami. Berbagi pengalaman, belajar dari yang ahli bisa bermula dari pertemanan yang kita buat dalam jejaring sosial.

Berikutnya, saya akan lebih banyak mengambil sampel dari diri saya.
Tentang pemanfaatan jejaring, sebenarnya saya tidak ambil pusing. Sejauh ini saya ekspresif lewat status, saya menikmati sekali fasilitas notes, saya menggunakan fasilitas search untuk mencari orang-orang dari komunitas yang saya ikuti. Layaknya MLM, jejaring akhirnya menjembatani pertemanan lintas kampus, lintas pulau, dan (beberapa) lintas negara.

Jarak yang sedemikian pada mulanya, akan terhapus. Karena jejaring memudahkan kita berkomunikasi dengan penulis yang kita kagumi, dengan tokoh politik yang kita percayai, dengan sahabat satu profesi kemahasiswaan, dan sebagainya. Dalam beberapa kesempatan pun, akhirnya jejaring bisa membantu kita memaksimalkan advertasi kegiatan (bagi yang sering mengadakan kegiatan tentunya).

Dan banyak hal lainnya. Pemanfaatan pada akhirnya ada di tangan pengguna jejaring. Mau dikemanakan fasilitas pertemanan yang ada, menjadi hak tersendiri yang sulit untuk diargumentasi individu lain secara subyektif.

Tentang masa lalu

Pernah, seorang Usteavie dari masa SMA, merasa begitu risau meninggalkan masalalunya dan sering menceracau bahwa ia tidak menginginkan perubahan. Bisa sebegitunya ya, masa lalu itu?

Saya mengerti bahwa masa lalu adalah kotak berharga tersendiri pada tiap-tiap orang. Tentang persahabatan, pengalaman pahit, prestasi, orang-orang tercinta, tentang pengalaman cinta itu sendiri (mungkin), bisa terangkum disana: dalam kotak berharga bernama masa lalu.

Masa lalu selalu jadi perbandingan terhadap masa sekarang. Itulah salah satu kebaikannya! Ada proses evaluasi disana. Dan evaluasi biasanya menuntun kita pada proses pembelajaran untuk menjadi lebih baik.

Hanya saja, realitas akan selalu menjadi pijakan pertama kita, apapun kondisinya. Karena ianya adalah yang kita alami sekarang. Dan demikian, masa lalu bisa melengkapi, yaitu menjadi kitab belajar tersendiri dan kelengkapan lainnya, yaitu masa depan, menjadi sebuah asa dan harapan yang tergantung yang diyakini untuk terealisasi. Begitu kan, kawan?

Masalalu disikapi tidak dengan dirutuki, atau disalahkan melainkan disyukuri.

Mengembalikan masalalu pada bahasan awal kita: “memelihara masa lalu”. Akhirnya jatuh pada simpulan saya, fasilitas apapun (dalam hal ini kebanyakan adalah jejaring) yang erat singgungannya pada poros dimensi masa lalu, alangkah baiknya menimbulkan kegegapan sebuah langkah yang lebih baik yang tidak menjadi diam karena dipelihara melainkan menjadi lebih berkembang karena dikelola. Bagaimanapun, masa lalu-saat ini-masa depan adalah segmen yang sirkular yang pasti kita alami dan saling mengait: pada akhirnya mewarnai hidup kita yang sementara di dunia.

Semoga jejaring sosial (tempat kalian bergabung) bermanfaat untuk pengembangan diri! Mari saling menasihati!
Salam hangat semangat,

faraziyya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s