Biblioholism: Penggila Buku

Definisi penggila buku dari sebait Biblioholism sebenarnya diawal terlihat menyeramkan. Biasanya moviefreak, workaholic, dsb bisa terdengar biasa saja pada akhirnya karena meman ada sebagian orang yang menjiwai simbolisme kata tersebut, jadi bisa demikian juga terjadiBiblioholism akan terdengar biasa saja nantinya (mungkin).

Saya mendapatkan kata ini dari pengantar DH Devita dalam bukunya Bercermin pada hatimu. Sebenarnya, dalam sebuah paragraf, ia tuliskan begini:

Saya sering mendengar tentang bagaimana seseorang yang melampiaskan kejenuhan atau ketidaknyamanan yang sedang dirasakan kepada sesuatu hal yang menjadi hobi. Memilih rehat sambil mengerjakan sesuatu yang digemari memang menyenangkan. Bagi seseorang yang gila buku (biblioholism), mengisi waktu rehat dengan membaca buku sambil bersantai dirumah bisa menjadi ‘surga’ pada saat jenuh. Sangat baik pula ‘pelampiasan’ itu berupa kegiatan positif yang bahkan bisa menambah poin lebih bagi diri. Tetapi, ternyata tak sedikit yang melakukan sebaliknya: menghabiskan waktu untuk memanjakan diri berhura-hura, untuk hal yang sia-sia bahkan haram sekalipun.

Dengan menemukan cap Biblioholism, saya tidak hendak membawa saya pribadi sebagai seorang penggila buku. Masih belum sampai ke tangga sana saya rasa. Saya belum mempunyai sebuah ruangan khusus untuk perpustakaan koleksi buku-buku. Saya juga belum menjadi orang yang ‘bisa’ menjinjing belasan buku bacaan hasil menjelajah di toko buku, yah baru sanggup beberapa buku dalam satu kali ‘cuci mata’ di toko buku. Selain itu, saya tidak mencap diri memiliki sindrom Biblioholism karena saya masih mengembangkan kecintaan saya terhadap buku, khususnya terhadap membaca. Tapi, nyatanya bagi saya kata Biblioholism terdengar menarik. Jadi mengingatkan saya pada riwayat saya mengenal buku dan riwayat membaca saya.

Bisa dibilang, saya termasuk telat mengenal hobi membaca. Karena saya baru benar-benar menyenanginya (membaca buku) saat jenjang SMP. Itupun berkat bantuan sahabat sekaligus saudari saya, Afifah. Ia perkenalkan saya dengan novel-novel islami hingga novel Harry Potter juga jenis buku lainnya. Saya menyukai saat-saat mengunjungi perpustakaannya yang merupakan ruangan tersendiri dirumahnya. Dan biasanya ia beritahukan saya judul terbaru buku yang ia dapatkan sehabis ke toko buku untuk kemudian saya bisa membacanya. Pada masa itu, saya termasuk penghemat karena menikmati buku hanya berbekal pinjaman.

Hobi membaca saya akhirnya bisa dikembangkan kembali setelah saya lulus SMA. Karena pada masa SMA, yang saya konsumsi justru komik-komik dan derivasinya. Sekarang, saya tidak lagi ingin kaya membaca dengan bekal meminjam saja. Karena salah satu anjuran untuk kita juga kan adalah memiliki perpustakaan pribadi. Dan memiliki perpustakaan pribadi bisa sangat bermanfaat sekali, meski saat ini saya mengeja satu per satu manfaat itu.

Well, memang membaca adalah sebuah kenyamanan dan kenikmatan tersendiri. Selain wawasan yang didapat, kita juga bisa mengasah kemampuan menulis. Saya percaya sekali bahwa menulis dimulakan dengan banyak membaca. Karena memang saya mengalaminya. Ketika saya akhirnya memutuskan untuk belajar menulis, saya tahu bahwa banyak efek dari membaca yang terbawa pada tulisan yang saya hasilkan. Bisa berupa wawasan yang akhirnya saya tumpahkan pada tulisan atau bahkan gaya menulis beberapa penulis yang bukunya saya baca yang akhirnya mewarnai gaya menulis saya .

Balik kepada menggilai buku. Menggilai buku hampir bisa dimiripkan dengan gila belanja (Shopaholic). Mengapa? Karena keinginan menyisihkan uang untuk bisa membeli buku bisa bulat menekad dan membuat kita agak blingsatan setelah menyadari kita sudah sedemikian mengeluarkan uang untuk sebuah atau beberapa buku. Menjadi lucu pada akhirnya, ketika saya mengingat bahwa saya seringnya malah menghabiskan upah mengajar dan dalam sebulan bisa ke toko buku dua kali dan membeli buku dengan total lebih dari 5buku dalam rentan sebulan itu. Saya hanya berujar pada teman saya bahwa saya khilaf. Benar-benar sebuah pembelaan diri ^-^

Saat berada di dalam toko buku juga adalah hal yang menyenangkan. Selalu ada keinginan men-drag buku-buku yang ada disana kedalam perpustakaan pribadi kita. Egois sekali ya? Tapi sebenarnya tidak juga. Karena itu menjadi manusiawi untuk orang-orang yang mencintai ilmu dan menghargai buku. Tinggal diri kita yang pintar-pintar mengefisienkan Biblioholism yang mungkin sudah mulai merayapi diri.

So, Biblioholism . . why not?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s