Gomen

Bertemu dalam cinta. Itu telah terjadi sekitar empat tahun yang lalu. Aku dalam kesal dengan bergumpal air bening dari sudut mataku. Disambut hangat pelukan persahabatan olehmu.

Lalu berganti bulan sejak kelulusan. Aku menghitungnya. Satu, dua. .sepuluh . .hingga belasan bulan. Kita terpisahkan. Tidak mutlak, karena pada jeda beberapa bulan, kita bertemu dalam satu-dua jam lamanya. Melepas napas rindu yang memendek.

Setelah satu-dua jam itu, kita bertolak ke arah yang berbeda. Dan aku kembali menghitung bulan-bulan kita tidak bertemu, bulan-bulan aku disibukkan dengan waktuku tanpa bersinggungan denganmu.

Kadang satu-dua kata rindu meluncur dalam sebait pesan elektronik. Itu jika napas rinduku sudah memendek dalam bulan-bulan yang kurasa memanjang. Tak kuasa: mungkin itu penggambarannya. Hingga akhirnya aku merindukanmu dalam tangis.

Malam itu, kita berbincang secara maya. Aku menawarimu janji bertemu di satu waktu. Pagi yang secara rutin berganti malam dalam tak genap purnama, mengulang ritmis. Kita dimainkan situasi. Tepatnya aku-lah yang harus disalahkan atas semua ini. Situasi membuatku menemui hambatan, itu semua kekhilafan yang akhirnya mencederai upaya kita bertemu. Tapi, aku salah menyampaikannya hingga kau dengan peka menanggapinya dengan kesensitifan yang tidak ku duga. Kamu membiarkan pikiran bahwa pertemuan kita menguap dan tidak terlaksana pada akhirnya. Padahal aku hanya butuh keyakinan bahwa aku berusaha memadamkan hambatan yang ada dan akan tetap menemuimu. Harusnya kita menyadari itu.

Karena hubungan ini membuncahkan rindu yang mengait jejalinan harap. Hubungan ini selalu membawa kita pada haru. Membawa kita pada menguatkan satu dengan yang lain.

Naas. Di titik ini, aku tidak membuatmu merasa selamat atas lisanku.

Naas. Dan aku merasa betul-betul merugi.

Maafkan aku, saudari yang paling kucinta.

Dengan segenap harap, doa atas penjagaanNya untukmu sudah kulangitkan.

Dan semoga tersisa kedewasaan dan kematangan dalam jalinan ukhuwah kita.

Untukmu keseribukalinya, . . cinta.

*perlu kau ketahui, kasih. Banyak hal terjadi terhadap diriku yang ingin ku jabarkan padamu satu demi satu. Tapi keterbatasan dari diriku dan dari faktor lain, tidak membuatku merasa yakin, waktu yang kita punyai bersama akan sanggup menyederhanakannya. Semata  agar komunikasi kita mengerucut akhirnya pada simpul senyum yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s