Ritme kehidupan

Menyadari bahwa kepentingan manusia tidaklah sama, maka tiap-tiap orang punya pola rutinitas yang berbeda. Jika mengambil sampel pekerjaan, maka yang paling general adalah ritme secara umum, yaitu jam kerja jam 8pagi hingga jam 5sore. Beralih ke tepian lain maka kita akan disingkapkan kebenaran bahwa ada beberapa tipikal manusia yang ritmenya berbeda. Malah menggunakan malam sebagai siang dan memanfaatkan siang sebagai malam. Hal itu memungkinkan untuk terjadi karena perbedaan pilihan yang akhirnya menjadi keteguhan tiap-tiap orang.
Beragam ritme kehidupan itu, dan keragamannya bisa kita temui di lingkungan yang samasekali berbeda dengan lingkungan kita. Cukupkah mengetahui bahwa dunia kita tidak sempit? Tidak kawan. Dunia itu tidak sempit dalam banyak hak, salah satunya dalam klasifikasi peranan yang kemudian melahirkan ritme itu sendiri. Tapi toh pada akhirnya berkesinambungan. Ambillah contoh, mahasiswa ritme rutinitasnya adalah kuliah di hari Senin hingga hari Jum’at, namun beberapa kelompok bertitel mahasiswa ada juga  yang menggunakan hari sabtu-minggu (yang bagi banyak orang dimanfaatkan sebagai hari beristirahat) sebagai saat-saat mereka menimba ilmu.
Hal di atas baru menyingkap ritme dalam partisinya yaitu frekuensi danwaktu terjadwal. Bagaimana dengan durasi? Dalam ritme itu sendiri, durasi menjadi pembeda. Kita katakana bahwa durasi belajar murid SD adalah 4-5 jam. Dengan banyak jeda beristirahat. Tapi bagaimana dengan durasi rutinitas anak-anak jalanan atau mereka yang tersebar meminta-minta di lampu merah- lampu merah jalanan kota? Kita melihat mereka ada sedari orang-orang pada umumnya memulai pagi, dan ternyata mereka masih terjaga dalam rutinitas bahkan hingga jam 11 malam. Pemandangan yang selalu jadi perhatian saya dalam perjalanan sepanjang jalan simatupang. Dengan menggendong adik-adik mereka, lebih dari jam sepuluh malam mereka masih jalan kesana-sini membawa gelas aqua bekas dan menadahkan tangan mereka pada para pengguna jalan. Itulah ritme mereka yang terlihat oleh saya.
Lalu ritme pekerja yang juga pelajar atau sebaliknya pelajar sekaligus pekerja. Bisa jadi di siang hari mereka ada di bangku kelas perkuliahan namun di sore hari mereka bisa saja berada di restoran menjadi pramusaji. Dan malam di sepenggalan terakhirnya mereka gunakan untuk menyelesaikan tugas atau urusan yang belum terselesaikan dan selebihnya dialokasikan untuk istirahat yang maksimal untuk menjemput ritme kehidupan esok yang sepertinya sama.
Ritme petugas keamanan, ritme penjual sayuran, ritme petugas pom bensin, ritme penyiar radio malam, ritme orang-orang behind project perfilman, ritme supir angkutan umum, ritme polisi lalu lintas, ritme da’i yang dalam ekspansi dakwahnya menuntut mobilitas yang tinggi yang mesti selaras dengan efisiensi bahkan ritme penjual nasi goreng yang kerap menggunakan larut malam sebagai waktu kerja. Keragaman itu tidak serta merta tanpa konsekuensi, karena waktu siang dan malam itu sendiri memiliki perbedaan yang berbeda, pun dengan kelebihannya masing-masing. Bukan tanpa resah penyiar radio mendapat jatah shift siaran malam. Semua itu telah dipikir matang-matang dan manfaat atau konsekuensinya sekalipun adalah keniscayaan untuk ditanggung.
Menarik kesimpulan sendiri melihat dan merenungi ritme-ritme mereka, maka saya belajar. Menciptakan ritme kehidupan dengan tangan dan kematangan pikiran sendiri, menyediakan keseimbangan antara keinginan dan kemestian yang dilakukan. Menjadikan semua itu memiliki porsi tengah. Dan akhirnya saya menyusun ritme yang agak berbeda dari sampel sebuah lingkungan tempat saya berafiliasi terhadapnya. Mengambil keputusan untuk tidak jauh dari orangtua, untuk menimbang kepentingan almamater SMA dan menyesuaikannya dalam diagram prioritas, mengambil upaya menyejahterakan diri dengan mengajar privat secara abangan namun memelihara kemaksimalan, bergejolak juga dalam agenda-agenda amal jama’i di luar orbit kemahasiswaan kampus, mengupayakan multitasking untuk beberapa item kemestian tertentu karena sebuah wajibat akselerasi menghadapi kekinian dan kedisinian. Mungkin terlihat sesak maupun menyesakkan. Namun, seperti saya sebutkan sebelumnya bahwa ritme kehidupan itu tidak hanya menghasilkan konsekuensi melainkan juga manfaat yang merupakan komposisi keinginan yang sesuai dengan diri.
Maka bersyukur selalu menjadi kunci, untuk hal apapun itu. Termasuk untuk membumbui ritme kehidupan agar melimpahi kita dengan keberkahan (semoga). Apatah lagi jika semua ritme dan substansinya dikembalikan pada Rabb Pemilik segala, semoga Dia perkenankan sedaya juang itu sebagai bekal kehidupan yang kekal nanti. Maka, apa lagi yang mesti menghalangi ritme kehidupan yang baik dan membuat semua sinergis dalam kebaikan? Semangat berjuang selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s