Dia. . Luthfi.

Bismillahirrahmanirrahim

Usianya baru lewat 10 tahun. Dia seorang anak kecil tampan bernama Luthfi (bukan nama sebenarnya). Dalam keluarganya, dia anak kedua dari 3 bersaudara. Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Thoriq dan seorang adik perempuan berusia 2 tahun bernama Hasna (juga bukan nama sebenarnya). Luthfi, sama seperti anak laki-laki lainnya, suka bermain dan juga mengenyam sekolah dasar saat ini. Yang agak berbeda dari dirinya adalah, sifatnya yang pengasih terhadao adik kecilnya. Memiliki seorang bunda berperawakan gemuk, pemarah dan juga pemalas, nampaknya adalah sesuatu yang berat yang dirasakannya saat ini. Mungkin karena pembawaannya yang rajin dan penurut, dialah objek yang paling enak untuk di suruh-suruh. Dia jarang melawan.

Di kesehariannya, seusai sekolah, sudah menjadi kewajibannya yaitu mencuci piring dan menjaga adiknya. Mungkin kalian akan merasa ini wajar-wajar saja, namun ada sesuatu yang mengganjal disini. Dia-lah (Ltuhfi) si rajin yang juga selalu dimarahi. Selain disuruh-suruh, ia selalu dituntut berperan ganda yang menggantikan tugas-tugas ibunya. Coba bayangkan, dialah yang menjaga adiknya, memandikannya, mengganti popok adiknya sementara ibunya yang pemalas hanya sibuk dengan urusannya sendiri yang tidak jauh dari urusan ibu-ibu, sibuk arisan, bergosip dan berlomba-lomba mempercantik dirinya.

Kakaknya, Thoriq? Thoriq bukanlah sosok yang rajin, sebaliknya Thoriq berwatak keras kepala dan pembangkang. Dia bahkan tidak pernah melakukan pekerjaan yang dilakukan adiknya, Luthfi. Dia lebih sering berada diluar rumah dan sang ibu yang sudah tahu pembawaan Thoriq yang keras sehingga dia tidak lantas mendidik Thoriq membantunya.

Luthfi, dalam kesehariannya, sering dipanggil paksa saat dia asyik bermain. Dipanggil paksa untuk menenangkan adiknya yang menangis, untuk menjaga agar adiknya tertidur sementara sang ibu pergi dengan urusan yang dia bilang lebih penting.

Tapi aku tidak pernah melihat Luthfi mengeluh. Padahal adik kecilnya, Hasna, adalah anak yang cengeng. Melihatnya, aku bangga sekaligus prihatin. Anak sekecil itu belum mengerti dampak perlakuan dari sang ibunda. Anak sekecil itu tiada tahu bahwa ia dieksploitasi.

Tapi ia punya kasih sehingga tak lantas berontak.

Tapi ia punya derma sehingga tak lantas mengeluh.

——————————————————————————————–

Semua yang jadi pengalaman hidupnya, biarkanlah menjadi kekayaan akhlaqnya. Dan kedewasaan semoga cepat menghampirinya meski ia belum pantas secara umur. Kasih dan dermanya, semoga berbuah. Bentakan-bentakan yang mungkin sering menghampirinya, semoga selalu cepat tersapu layaknya debu yang disapu hujan. Karena aku tahu, ia begitu adanya dengan segala kerendahan yang ia punya. Karena aku tahu, ia akan jadi orang yang baik yang kata orang sedang sulit dicari. Karena aku tahu, dialah kekayaan sebenarnya yang dikabulkan dalam wujud seorang bocah laki-laki yang kan selalu tersenyum dan memeluk masa depannya dengan kesabaran.

*terhatur doa dan harapanku selalu, keponakanku.

Advertisements

2 thoughts on “Dia. . Luthfi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s