Eksklusif, tak disangkal namun dengarlah dahulu,,

Bismillahirrahmanirrahim

Eksklusif itu melekat pada segolongan orang-orang yang eksistensinya jatuh pada ruang lingkup dakwah dan aktivitas syiar. Eksklusif itu tercermin dari sebagian yang menggunakan busana muslim khas, dengan jilbab lebarnya atau dengan janggut yang dipelihara.

Eksklusif itu hadir saat mereka jarang berkomunikasi dengan orang-orang pada umumnya, berjilbab atau tidak, terkecuali yang mereka kenali sebagai jama’ah.

Eksklusif itu hadir saat mereka menundukkan pandangan berinteraksi dengan lawan jenis dalam jama’ahnya namun tidak terlalu risau untuk tidak menundukkan pandangan saat lawan jenis tersebut dari golongan umum atau yang beragama non-Islam.

Eksklusif itu hadir saat perbincangan mereka tak lagi melibatkan orang umum yang mereka anggap awam. Eksklusif juga hadir saat mereka hanya mau bekerjasama dengan jama’ah mereka.

Eksklusif itu amat terasa ketika secara tidak langsung mereka menanggapi orang awam (bagi mereka) dengan cara yang berbeda. Atau istilahnya, ada standar ganda. Dan biasanya, Sang awam akan begitu kecewa mengetahui banyaknya perlakuan yang dikhususkan untuk mereka.

Itu sekelumit eksklusif dari sisi orang umumnya. Yang mengerti keberadaan orang-orang dengan kriteria di atas. Yang kadang merasa terminorkan karena kebanyakan orang-orang eksklusif itu melaksanakan separuh detak kegiatan di kampus atau di lingkungan sekitar mereka.

Nah, bagaimana dari sisi sang eksklusif?

Kami tidak eksklusif. Adapun kami menjadi segolongan manusia dengan tampilan yang mirip dan bisa dihomogenkan, itu semata karena kami satu pikiran. Karena kami satu keyakinan. Adakah itu salah, jika si A mengganggap berjilbab lebar adalah anjuran yang sebenarnya tersirat dari Al-Ahzab:59, layaknya si B yang menganggap berjilbab lebar adalah yang syar’i sesuai dengan ilmu-ilmu dan syariah yang dia tekuni.

Kami tidak eksklusif. Adapun kami merasa nyaman dengan segolongan manusia tertentu karena ada keterpautan hati satu sama lain. Karena ada sebuah tujuan yang sama. Karena keyakinan bahwa kami harus berjamaah, sebagaimana kehati-hatian yang ditanamkan oleh Sang Khalik adalah bahwa serigala mengincar domba yang sendirian. Lantas dengan perumpamaan itu, segolongan orang yang dihomogenkan oleh manusia pada umumnya lantas menjadi satu dan berhulu dalam sebuah struktural baik non struktural dengan ikatan yang kasat tapi biasa disebut dengan ukhuwah islamiyah.

Kami tidak eksklusif. Jika kami memperlakukan oorang lain berbeda halnya dengan kami berlaku terhadap sesama jama’ah, itu adalah sebuah konsekuensi, karena kami memperlakukan orang lain sesuai dengan kapasitas standar lingkungan tempat kami dan orang tersebut berada. Juga sesuai dengan pengetahuan yang melingkup interaksi kami. Jika kami menundukkan pandangan terhadap ikhwan (sebutan laki-laki), semata karena kami mengetahui bahwa ikhwan tersebut juga mengetahui bahwa menundukkan pandangan adalah anjuran yang diberikan Allah langsung dalam kitabNya. Jika kami belum menundukkan pandangan terhadap lawan jenis yang bukan ikhwan menurut kami, itu semata karena faktor fleksibilitas. Kami menyesuaikan diri. Tak bisa dengan sama kami menegaskan sesuatu karena tiap-tiap manusia berbeda dan berhak mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan kapasitas ia berada. Agar terjadi sinkronisasi dan interaksi terjalin dengan penerimaan dari keduabelah pihak.

Kami tidak eksklusif. Jika kami tersalah dalam memperlakukan orang-orang pada umumnya. Itu semata kekhilafan personal yang sama sekali tidak diniatkan.

Astaghfirullahal’adzim.

Kami menyadari banyak hati-hati yang kecewa diluar sana. Baik karena tampilan kami atau pembawaan kami.

Tapi ketahuilah, bukan kami yang menyetting bahwa diri kami eksklusif. Cap itu datang dari penilaian orang lain. Kami tak menganggap ada yang patut disombongkan dari kami. Kami tidak memberlakukan standar bahwa kami lebih dari yang lain. Sungguh tidak.

Orang lain yang banyak menyetting mindset pikirannya sehingga dengan prasangka dari seseorang bahwa kami eksklusif maka secara otomatis perilaku kami dinilai eksklusif. Harusnya orang eksklusif itu seperti ini, seperti itu. Itu yang biasanya orang lain tuntut. Jika sang eksklusif tadi bersalah dalam berkomunikasi atau kekhilafan manusiawi, lantas orang lain akan memperpanjang kekhilafan tersebut dan tidak menerima kami sebagai manusia. Melainkan sebagai eksklusif yang seharusnya begini, begitu.

Banyak hati-hati yang kecewa. Kami tahu hal itu. Meski tak pernah kami niatkan demikian.

Janganlah nila merusak susu sebelanga. Karena sungguh tiap-tiap orang menanggung apa yang diperbuatnya sendiri-sendiri, masing-masing.

Memang pengharapan atau status eksklusif itu demikian besar positifnya sehingga kadang menyampingkan realita bahwa tergelincir dalam kamu kehidupan adalan sebuah keniscayaan.

Jika memang ada yang tersalah, tegurlah.

Jika memang ada yang tersalah, ungkapkanlah.

Jika memang ada yang tersalah, rangkullah.

Bukan dijauhi. Bukan dimaki dari belakang. Bukan diungkit-ungkit di kesudahan.

Melainkan diperbaiki. Bersama. Baik eksklusif atau tidak. Harusnya ada penggeneralan bahwa kita semua adalah manusia. Yang setiap kita mengerti apa-apa yang bisa tercela dari seorang manusia. Setiap kita adalah cermin. Jika kita mungkin berbohong, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa terjebak dalam kebohongan.

Jika kita bermuka masam, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa bermuka masam atas sebuah ketidaksesuaian.

Jika kita menangis, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif mampu berbanjir airmata.

Menyengaja Dia membuat kita tidak sempurna. Karena tiada patut kita merasa sebagian sempurna atas sebagian yang lain.

Bukan saudaraku, aku bukan ingin membela diri. Ketahuilah bahwa mungkin saja ini yang dirasakan sang eksklusif sebagai manusia. Allahua’lam.

Advertisements

2 thoughts on “Eksklusif, tak disangkal namun dengarlah dahulu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s