Entah ini tulisanku atau tulisan aku?

(di waktu yang seharusnya aku belajar mempersiapkan ujian)
Ahh, tapi aku ingin ungkapkan aku ingin. Terlintas dalam kepalaku akan banyak hal, berbagai macam hingga rasanya aku terengah-engah mencerna satu per satu ide atau lintasan pikiran yang muncul.
Oke. Tapi semua ini punya satu benang merah: menuliskan emosi.
Tepat. Memang awal mula adalah jenak jenak hikmah yang rasanya ada saja terselip dalam kegiatan hari-hariku atau aktivitas yang ku lakukan. Tapi keseluruhan, semua karena MEMBACA. Aku membaca pikiranku yang teramat senang berspekulasi, berimaji, berkonfrontasi dalam alam bawah sadar.

Muncul banyak hal. Tentang ketakutan, kenakalan, kepedihan, kekecewaan, ketidakbermanfaatan, idealitas?
Semua muncul. Seperti misalnya, saat aku berkendara, aku berimaji. Setelah aku sampai tujuan aku hendak berbagi dengan orang lain tentang hatiku saat bersama Chocky (Honda SupraX coklat-emas-hitam yang ku tunggangi). Ngebut di jalanan kota yang ditempa terik matahari dan macet. Tentang cara mengemudiku yang ugal-ugalan minta ampun saat aku tergopoh-gopoh mengejar durasi sisa waktu yang ku miliki. Tentang aku yang pernah beberapa kali menghantam jalanan raya. Tentang aku yang merasa hebat saat bisa salip kanan kiri. Tentang jalanan kota dan ekspresi pengguna jalan yang terrekam dalam memori ingatan.

Lalu tentang aku dan cita. Aku dengan cinta. Aku dengan asa. Abstraksi yang seringnya aku tak mengerti. Tentang ketidakjelasan hatiku dalam meraba, tentang ketidakpahaman hatiku dalam merasa. Tentang semua yang singgah dan lalu saat aku terjaga atau saat aku terlelap.
Lalu tentang aku dan interaksi dengan orang lain. Tentang aku yang manja. Tentang aku yang lelet dan mendapat kehormatan sebagai terlelet di kelas. Tentang aku dan suara. Tentang aku dan kewajiban. Tentang aku dan kost-an. Tentang aku dan orang-orang yang ku sayang. Tentang aku dan orang-orang yang aku hormati. Tentang aku dan orang-orang yang memandangku sebelah mata. Tentang aku dan orang yang membenciku. Tentang aku dan aktivitas tak berguna-ku.
Seperti malam ini, aku MEMBACA sebuah tulisan yang terang sekali. Tentang kekecewaan. Tentang menzhalimi atau terzhalimi. Tapi itu tersaji hanya dalam satu wajah dan satu otak. Bagaimana mungkin akan seimbang??? Padahal dia elu-elu kan asas persamaan. Dia keluhkan perlakuan tidak adil (seperti yang dia rasa dan kira) terhadapnya.

Aku sedih sebenarnya. Tapi apa mau dikata. Berpendapat adalah kebebasan. Apapun itu. Tentang sakitnya yang ternyata juga menyakiti pihak yang dimaksudnya. Tidak. Andai aku punya kesempurnaan. Tapi nyatanya aku tidak.

D**n.

I can’t pretend my emotion. My depth emotion. My silly expression. Why should be like this?

Dan pada pangkal atau ujung dia akhirnya menepi, aku cuma ingin bertanya: benarkah tulisan mampu menggantikan semua dera dan terpa jera? Benarkah tulisan dengan keajaibannya bisa diterima sama oleh semua massa? Benarkah tulisan memiliki keabsolutan dan menisbikan sebuah rasa??
Hey tulisan, jawab!

Advertisements

2 thoughts on “Entah ini tulisanku atau tulisan aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s