Membaca Ulang Gerakan Mahasiswa Pasca-98

Oleh:

Fauziyyah Arimi

DIII Akuntansi Pemerintahan STAN, Tangerang

Pijak tanya sebuah toreh gerakan mahasiswa

Gerakan mahasiswa di 1998 menjadi dongeng indah untuk selalu dibisikkan halus ke telinga para mahasiswa yang mengaku dirinya adalah aktivis persma. Selalu jadi kenangan tak henti bahwa gerakan mahasiswa di tahun tersebut menjadi sebuah torehan emas yang membekas dan termaktub dalam syaraf neuron mahasiswa-mahasiswa di kesudahannya. Ya, di mahasiswa-mahasiswa di masa kesudahannya. Dan dalam torehan emas itu, ikut andil pers mahasiswa. Dasar keragaman memang adalah sunnah ilahi. Maka mahasiswa yang tergelitik bersuara dengan tinta tak ingin ketinggalan unjuk gigi. Akumulasi dampak-dampak akibat krisis multidimensi saat itu menjadi perayaan pembuka penggulingan rezim orde baru. Era reformasi, yang  jadi elu tak henti dan populer sekali.

Tak ayal, mahasiswa punya nama. Punya pamor. Tak terkecuali untuk pers mahasiswa yang jadi corong publikasi dan informasi pada masa itu. Setidaknya pamor itu terus berhembus di mukadimah pers mahasiswa di kampus-kampus zaman sekarang. Otomatis, peluang punya kursi ukir tersendiri di masyarakat Indonesia jadi hadiah terbeli. Lalu, menjadi terlecutlah gairah per mahasiswa masa itu. Ya, pada masa itu.

Bagai pesimis, momentum adalah momentum. Bagai kenangan terkikis umur zaman, kejayaan tinggal kejayaan. Harga diri pers mahasiswa di kesudahan masa 1998 menjadi tercabik halus. Perlahan. Tapi wujudnya peka untuk dirasakan oleh veteran-veteran yang mengaku pers mahasiswa maupun oleh penikmat produk pers mahasiswa. Lambat, pers mahasiswa di Indonesia mengalami degradasi dan disorientasi. Pengamat pers pun peka akan hal ini. Merasa bahwa pers mahasiswa zaman ini telah kehilangan arah. Apa pasal?

Dekripsi untuk sebuah gerakan mahasiswa 98

Syaldi sahude, seorang mahasiswa di STF Driyarkara, dalam makalahnya menganalisis bahwa yang terjadi pada mahasiswa di era 98 adalah pelrilaku kolektif. Pandangan Syaldi Sahude ini bukan tanpa pijak melainkan bersinggungan dengan pendekatan yang komprehensif yang diberikan oleh Neil Smeilser. Menurutnya, ada enam syarat pra-kondisi yang harus terjadi; struktural (structural conducivenes), ketegangan struktural (structural strain), kemunculan dan penyebaran pandangan, faktor pemercepat (precipitating factors), Mobilisasi tindakan (mobilization for action), dan pelaksanaan kontrol sosial (operation of social control).

Benar saja, terjadi enam gejala tersebut pada Indonesia dimana mahasiswa era 98 terlibat di dalamnya. Bermula dari krisis ekonomi yang merambat bak virus ganas menjadi krisis multidimensi. Mau dikemanakan Indonesia saat itu? Bila rezim Orde Baru masih saja galak. Mahasiswa, yang di cap sebagai generasi berpendidikan adalah solusi yang menghadirkan fitur-fitur penunjang sebuah reformasi. Dimana mahasiswa memiliki dimensi pendidikan yang lebih dibanding rakyat jelata yang tak memijak di tanah pendidikan. Maka potensi besar ini bergolak dan menjadi ombak yang menenggelamkan semua ketakutan dan membersihkan semua keterbelakangan karena terasing di rezim Orde Baru yang senantiasa memproduksi tindakan represif dengan pelaku pemerintahan.

Gerakan mahasiswa pasca-98

Kejayaan tinggal kejayaan, torehan emas tak meluas malah berkarat. Tak lama. Gerakan mahasiswa 98 dikira poros mula sebuah terobosan gerakan mahasiswa dan pers mahasiswa. Siapa yang tak mengira seperti itu? Gejolak gerakan mahasiswa begitu membahana di telinga. Acapkali indera pendengaran ini berkesempatan mendengar luags kisah 98 atau mendengar dari sebait gambaran mahasiswa 98.

Momentum dan klimaks dari akumulasi hal-hal yang tidak sehat yang menjangkiti negeri ini. Menjadi dentuman memulai pemberontakan mahasiswa dan picu jitu mobilisasi massa dalam penggulingan sebuah rezim yang telah bertahta selama 32 tahun. Great, kosa kata milik tanah eropa yang mampu menggambarkan indahnya bersuara bersama-sama menggulingkan rezim yang mematikan dimensi kehidupan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Namun, dentuman yang dikira poros mula itu kian lama redup. Mungkin karena kondisi sosial yang perlahan jadi stabil. Karena benang kusut permasalahan massal yang terjadi di Indonesia perlahan terurai menjadi benang keriting yang bermimpi lurus. Semakin redup dan semakin tak berpijak. Bukan karena melangit tapi karena tak kenal pijakan apa yang diambil. Kemudian dominansi pers umum dengan sajian ringan yang hanya membuat pelangi terbatas di kehidupan rakyat Indonesia belakangan ini menjadi satu dari sekian musuh yang menjadi lawan dalam persaingan. Indonesia yang dasar menyukai fiktif yang jelas adalah buatan. Indonesia yang lebih memilih untuk disajikan junkfood tak sehat juga dalam menyantap informasi yang ada. Mahasiswa yang tak lagi leluasa bersuara karena tantangan-tantangan eksekutif yang menjadikan terbatasnya ruang berbicara dengan kata. Mahasiswa yang memilih disuapi informasi. Kemudian penyempitan pemikiran di kalangan mahasiswa bahwa berpikir ilmiah dan keilmuan hanya konsumsi golongan eksakta, padahal jauh ada istilah ilmuwan sosial. Dimana mahasiswa mampu beranalisis dalam berita, dalam isu kampus, dalam isu eksternal.

Terakhir, alasan yang menambah daftar panjang hambatan pers mahasiswa adalah ketiadaan percaya diri dalam menandingi pers umum. Karena tak percaya diri membuat semua mimpi jadi kecil, membuat semua langkah menjadi berat dan membuat wujud kebaikan menjadi abstrak.

Konkret pengentasan penyakit disorientasi pers mahasiswa

Telah terjabar beberapa alasan yang menghambat terpancarnya gaung pers mahasiswa di Indonesia. Penulis ingin berusaha menyodorkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi solusi dalam pengentasan penyakit disorientasi per mahasiswa sekarang ini.

  1. Penumbuhan kembali kepercayaan diri Pers Mahasiswa

Di alasan terakhir yang disebutkan penulis, kepercayaan diri merupakan barang hilang yang adalah milik Pers Mahasiswa dan sepatutnya kembali untuk melengkapi eksistensi pers mahasiswa. Ketika kehilangan barang, sewajarnya bagi seorang pemilik untuk mencari. Terlebih jika barang hilang itu vitak nilai gunanya. Dan dalam hal ini, kepercayaan diri adalah vital nilai gunanya bagi pers mahasiswa. Jika hilang dan tak kembali maka wajib bagi pemilik untuk membeli penggantinya dengan spesifikasi barang yang sama agar kinerja keseharian pemilik tersebut tidak kacau. Dan menurut penulis, kepercayaan diri adalah modal eksistensi pers mahasiswa.

Jika mudah perkembangbiakan pers umum di pasaran rakyat Indonesia, mengapa begitu sulit menghimpun kepercayaan diri pers mahasiswa dari ratusan lembaga pers yang tersebar di universitas dari seluruh penjuru Indonesia? Mungkin bersendiri sulit. Namun, kesamaan visual akan sebuah entitas pers mahasiswa bisa jadi picu yang potensial dalam menghimpun kekuatan dan menyaingi pamor pers umum belakangan ini. Dalam hal ini, mungkin yang nyata dilakukan adalah adanya sebuah konstruksi penerbitan pers yang menyediakan wajah baru pers di Indonesia. Menghimpun dan membangun gudang pers yang memproduksi berita ala mahasiswa. Dan disajikan tak hanya untuk mahasiswa di universitas, melainkan juga diterbitkan ke rakyat Indonesia dengan ragam kasta yang berbeda. Terlihat tidak mungkin kah? Bukankah setiap kita, dengan identitas rakyat sekalipun, adalah mahasiswa. Hanya mahasiswa (baca: rakyat) tersebut berbakti belajar di universitas yang kasat bernama universitas kehidupan. Tak ada yang mustahil jika mencoba. Karena pahit adalah juga rasa.

  1. Ekspansi dan eksplorasi

Ini adalah kunci untuk merasa tidak pernah berkecukupan. Bila di adaptasi ke dalam dunia pers mahasiswa, maka ekspansi dan eksplorasi adalah tentang pemberdayaan sumber daya pers mahasiswa. Mengasah ketajaman berpikir seroang aktivis persma. Regenerasi lugas dan lengkap dengan transfer ilmu tentang pers mahasiswa adalah hal yang kebanyakan terlupa. Mungkin mengira bahwa aktivis persma awam lantas bisa jernih dan jeli melihat potensi berita untuk dirangkai dalam sebuah produk pers. Namun kenyataannya, awam ada yang memang berproses dan menemukan jalannya sendiri. Dan ada sebagian awam aktivis persma yang butuh peta untuk menemukan jalannya.

Eksplorasi adalah jurus indah berinovasi. Mungkin ini yang terlupa di pergerakan mahasiswa pasca-98. Terbuai dengan kemenangan idealisme mahasiswa era 98, membuat inovasi menjadi langka. Meneruskan yang telah ada. Mungkin itu pedoman pada masa itu (pasca-98). Tapi ada bagian yang terlewatkan, bahwa untuk meretas jalan yang indah pun, kita (baca: aktivis persma) juga dianjurkan mengaspal jalan tersebut dengan gaya yang berbeda. Bisa saja kan, jalan tersebut menjadi lebih mulus?

  1. Perjuangan adalah melaksanakan kata-kata

Kata-kata W.S Rendra ini layaknya ramuan ajaib yang mengejewantah di kalbu per mahasiswa kebanyakan. Bahwasanya produk pers harus menjadi solusi. Tak hanya uraian kata tak bermakna yang tak bisa diadopsi dalam menyikapi sebuah pemasalahan. Alangkah sia jika kata-kata tak memiliki nilai guna. Maka perjuangan adalah melaksanakan kata-kata.

Fungsi pers yang adalah watch and doc sebenarnya memiliki estetika tersendiri. Berarti, pers adalah media capturing gejala sosial. Disini persma juga berperan sebagai ilmuwan sosial. Yang harusnya memiliki kapabilitas dalam menanggapi dan mengekspansi isu yang didapat secara empiris dari gejala sosial yang terjadi. Tak hanya mampu mengkonklusikan sebuah berita dari narasumber yang bersangkutan dengan gejala sosial yang terjadi. Tapi juga ada saat dimana pemekaran informasi  kepada mahasiswa dan masyarakat luas adalah tentang solusi yang bisa tercermin dari tulisan yang terangkai.

Inilah kebanggaan menjadi media. Sangat berpotensi untuk memberi solusi. Dengan satu syarat. Penenaman bahwa persma sebagai oknum media tak hanya menyaji tapi juga mediator.

  1. Kontinuitas, pemeliharaan dan pengembangan

Mungkin ini bukan asas special yang mungkin jadi solusi bagi pers mahasiswa. Karena asas ini mampu diadaptasi oleh dimensi lain. Kontinuitas, yang berarti proses keberlanjutan sebuah sistem yang terangkai. Bercermin pada kemenangan gerakan dan pers mahasiswa 98, harusnya pantulan cermin itu mampu kita lanjutkan. Bukan jadi santapan sementara. Karena arti kelanjutan adalah meretas sebuah tangga keberhasilan

Pemeliharaan berkaitan dengan penyikapan kita sebagai aktivis persma dalam memperlakukan torehan emas gerakan mahasiswa 98. Memelihara berbeda dengan menyimpan. Karena menyimpan hanya berpotensi menghadirkan lunturnya nilai guna sedang memelihara adalah tentang menjaga dan merawat. Dimana artinya, sesuatu yang dipelihara kita mampu terus menjadi sesuatu yang sama nilau gunanya dengan saat awal kita mendapatkannya

Pengembangan berarti tidak puas dengan kondisi yang datar. Sehingga akan muncul kretifitas-kreatifitas yang membungkus barang berharga yang adalah aset kita. Penegmbangan juga adalah pijakan lain dalam tangga keberhasilan di dimensi umum. Artinya, dalam dimensi pers mahasiswa kita dituntut untuk mampu melakoni pengembangan dan mewujudkan perkembangan yang jadi rupa lain sebuah laju pers mahasiswa

Kesimpulan

Stagnansi, degradasi dan disorientasi yang akut menjangkiti pers mahasiswa pasca-98 adalah fakta empiris yang peka dirasakan penikmat pers mahasiswa. Adapun yang dapat memangkas skeptis yang banyak timbul sebagai buah peka terhadap gerakan dan pers mahasiswa pasca-98 adalah mengembalikan kepercayaan diri pers mahasiswa, ekspansi dan eksplorasi, asas kontinuitas, pemeliharaan dan pengembangan. Semoga menjadi jawaban skeptisme aras pers mahasiswa pasca-98.

Sumber bacaan :

  1. I Ngurah Suryawan, Rekonstruksi perjalanan dan gerakan mahasiswa
  2. Makalah Syaldi Sahude, Gerakan Mahasiswa Indonesia Tahun 1998: Sebuah Proses Perubahan Sosial
  3. Pena poros online, wacana pers

*makalah ini ditulis untuk memenuhi kebutuhan workshop dan sarasehan Jurnalistik Balairung UGM

Advertisements

2 thoughts on “Membaca Ulang Gerakan Mahasiswa Pasca-98

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s