Saat kau seolah memeluk harapan namun di saat yang sama kau terhempas. Apa yang akan kau lakukan?

Ini tentang sebuah titipan. Titipan diwujudkannya sebuah permintaan. Aku telah menitipkan sebuah asa ku terhadap seseorang. Dimana aku hanya bisa mendapatinya melalui perantaraan dia. Aku rajut masa menunggu. Aku ukir bayangan yang akan ku dapati nanti. Sebulan. Itu janji. Tapi . . sebulan itu, hari ini telah genap. Ya, telah genap.

Ku dapati dia mendekat ke arahku. Membawa sebuah bingkisan yang telah terbungkus rapi. Mendekat hingga jarak pandanganku mampu menggapainya. Tapi apa? Aku tak mendapati bingskisan yang tadi terlihat. Halusinasikah tadi?

Ah, ternyata benar. Masa menunggu yang ku rajut bersama titipan asa itu ternyata menguap. Mengudara bersama dinginnya hawa malam itu. Menuju atmosfer raya. Tak terjangkau lagi.

Dia bahkan tak berkata apa. Hanya menyarankan aku untuk menggamit asa itu dan mengambilnya sendiri di jarak yang ternyata dekat denganku. Namun aku tahu, itu tidak mungkin. Tidak mungkin dengan kondisiku saat ini.

Setelah berucap demikian, dia bergegas menjauh. Pergi tak tahu kemana lagi.

Aku terpekur. Kecewa? Bolehkah?

Aku menjerit. Ingin rasanya marah.

Tapi aku bisa apa? Aku tak kuasa memarahinya. Karena dia hanya perantara. Sedang aku peminta.

Lantas aku hanya bisa menangis. Bahwasanya rajutan itu telah terurai kembali. Menyisakan pilihan lain untukku. Yaitu, menunggu perantara lain yang bersedia membuat nyata asa menjadi ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s