Memangkas kejelekan dari lamanya berpikir

Saat itu sedang diobral prosesi Open Recruitment di lingkungan STAN. Anyak yang bingung menentukan pilihan. Termasuk aku dan sahabatku yang satu itu. Dia lari ke arahku. Berkata,”Mbak Ziy, aku pengen cerita ni. . . ”. Tak lama, ceritanya usai. Ini tentang kegalauannya menghadapi banyaknya tawaran-tawaran kemungkinan menggamit pengalaman organisasi yang banyak disuguhi oleh elkam di STAN. Dia bingung. Terserak ragu untuk mengambil langkah maju. Apa hal yang membelakanginya? Ternyata ini evil side dalam dirinya (menurutnya) yaitu menjadi lamanya dia berpikir saat dihantam oleh banyak kesempatan-kesempatan. Yang membuatnya banyak menimbang. Kebaikan ini, kejelekan itu. Kesempatan ini, kekurangan itu. Dan lain sebagainya, seperti menguap membentuk awan-awan kemungkinan di kepalanya.

Lalu, apa yang aku berikan untuknya?

”take the risk, sweety.” jawabku.

Tak ayal, aku pernah mengalami rasa dan kegundahan yang sama. Tentang banyaknya keinginan disela kesempatan yang datang menjamu. Tentang banyaknya angan di kepala yang membuncah karena kesempatan-kesempatan yang berserak dirasa gemilang. Tapi kemudian apa? Aku terpaku. Tak bisa ambil langkah maju. Seiring timbulnya keinginan ternyata berkembang biak juga ketakutan. Keduanya seolah bertengkar tiada habis di kepala. Seiring dengan hal itu, waktu yang yang ada telah tergerogoti. Kesempatan-kesempatan itu kian lama kian menjauh. Menguap. Menghilang. Aku jadi tak dapat apa. Terpalu pada pemikiran yang begitu panjang. Terpenggallah kesempatan-kesempatan emas itu. Sedang aku masih diam di tempat. Ya. Aku pernah merasakan hal itu. Sekali dua kali.

Lalu di lain kesempatan, aku mengikuti sebuah training motivasi. Suatu waktu dahulu. Di training motivasi ini aku bertanya,” bagaimana memenggal kejelekan dari watak lamanya berpikir?” cukup jelas pertanyaanku saat itu.

Apa jawabnya?

Jawaban itu terangkum ke dalam beberapa langkah.

Pertama, kerucutkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Pastinya di antara sekian banyak awan kemungkinan yang menghantui di pikiran, ada yang sebenarnya hanya gangguan tak berlandasan. Artinya kemungkinan yang sebenarnya hanya berupa pemakluman. Nah, kemungkinan yang tidak penting semacam itu. Hapuskan.

Kedua, ready to take a risk! Ditumpukan pembenaran-pembenaran yang mengganggu pertimbangan, cobalah sapa hati dan pikiranmu. Ajak berdiskusi untuk berani ambil risiko. Ya, ambil risiko. Karena kau tak mungkin tahu, mana pilihan yang memberikan kepuasan untuk dirimu atau yang berimbas sebaliknya jika kau tak berani ambil risiko dan malah larut dalam kemungkinan-kemungkinan yang tiada ujung.

Ketiga, one step at a time! Saat risiko berani kau ambil, artinya langkahpun sudah kau tata. Nah, saatnya melangkah maju.

Keempat, evaluasi. Selama beberapa periode lamanya kau melangkah maju pada satu keputusan, tentunya hatimu, jasadmu dan pikiranmu akan mendapat pengalaman. Entah baik atau buruk. Hal itu yang akan memperkaya manajemen pemikiranmu. Tentu saja, dengan begitu pastinya dirimu akan mudah mengenali medan, nanti saay kau kembali dipertemukan kepada persimpangan. Evaluasi artinya awal kembali. Mengambil langkah baru atau meneruskan sesuatu yang telah membawa efek yang baik untukmu.

Mendapatkan jurus-jurus di atas, membuatku bersemangat untuk langsung menerapkannya. Ya, aku menerapkannya. Mengadopsi tanam paksa ke dalam diriku. Untuk setidaknya bergerak, mengambil langkah. Bukan berlama-lama tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan tak nyata.

It works for me.

Meski saat pertama itu, aku memilih opsi yang nyata berimbas kegagalan buatku. Tapi benar, itu membuat pandanganku lebih jernih. Tentang yang mana yang baik untukku dan yang mana yang tidak.

Entahlah. Itu ku simpan untuk diriku.

Memangkas kejelekan dari lamanya berpikir

Tak hanya aku yang mengalami dilema itu. Beberapa dari kawan pastinya pernah mendapati hal serupa. Tapi jangan khawatir. Kau hanya perlu meyakinkan dirimu untuk mengambil langkah. Bukan diam.

Karena, bergerak . . . atau tergantikan!

Semoga bisa bermanfaat.

*thanks to: Pak Arif Dahsyat dan NA yang mengingatkanku pada hal-hal berharga ini.

Advertisements

8 thoughts on “Memangkas kejelekan dari lamanya berpikir

  1. farid cham

    Assalamualaikum,
    aku paling suka poin ke-3:
    “one step at a time! Saat risiko berani kau ambil, artinya langkahpun sudah kau tata. Nah, saatnya melangkah maju.”
    Hemm, jadi tambah semangat..he27x.

  2. Nugroho

    Hem…
    Berarti bareng sama mbak Hida juga ya? sama mas Cecep? Kenal tak?

    Good Luck deh…
    ditunggu tabloidnya. Denger-denger mau terbiit ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s