Aku ingin berbicara tentang menulis

Menulis?

Hal yang belakangan menjadi concern kegiatan dan kebutuhanku.

Aku bahkan tak yakin, aku punya ‘interest’ di bidang tulis. Awalnya? Hanya karena suka membaca. Awal suka membaca? Untuk hal ini aku ingin berterima kasih kepada Scientz Iffah yang telah mengenalkanku pada bacaan. Saat itu kau membuatku dekat dengan novel-novel islami. Buku non-fiksi dan banyak lagi. Ingatkah, dahulu saat kau rapi memborong buku dari Gramedia, kau selalu memberitahuku. Seolah memberiku kesempatan untuk menyejajari wawasan yang kau dapati banyak dari buku. Untuk itu, kau adalah orang yang berarti dalam penemuan kesenangan yang ku dapatkan dari baca dan tulis.

Lalu . . aku mulai diperkenalkan dengan komik saat SMA. Sehingga ku jadi tak banyak lagi mengkonsumsi novel-novel sejenis yang dulu kau suguhi.

Lantas kapan aku mulai belajar menulis?

Pastinya saat aku dipersiapkan untuk memasuki jenjang Ibtidaiyah satu masa dulu. Tapi bukan menulis itu yang ku maksud.

Memproduksi tulisan?

Ya. Mungkin itu. Aku sadar, menulis otomatis berkembang karena kegiatan membaca. Ya, itu yang ku alami dan itu menurutku.

Lagi-lagi . .kapan aku menulis?

Ah, entah. Aku ini Pelupa. Manatah aku ingat momen itu?

Kemudian, apa tulisan pertamaku??

Lagi-lagi aku tidak ingat. Mungkin tulisan curhat di diary. Kalau memoriku tak salah putar arsip, aku pertama lebih suka menulis puisi. Well, didukung perasaan pada saat itu. Masih dalam suasana puber. Gejolak remaja mewarnai puisiku. Untuk hal ini aku tidak akan banyak bicara. Karena aku tidak ingin banyak mengingat diriku yang dulu amat naif dan tragis.

Saat kuliah di UNJ. Salah seorang sahabat yang mengenalkanku akan blog. Tentang menulis. Ah, akhirnya aku terhasud. Lalu aku membuat rumah blog yang ku panggil ‘Labirin tak purnama’ dengan nama pena “faraziyya”. Ingin menyinggung sedikit tentang nama “faraziyya”. Diriku yang tervirus menggemari kupu-kupu, akhirnya memotong frasa “fara” dari “farasyaa” [bahasa arab untuk kupu-kupu]. Kemudian mengambil lima huruf sebelum huruf terakhir ‘h’ yaitu “ziyya” dari namaku “fauziyyah” dan menggabungkannya menjadi “faraziyya”. Semoga nama itu langka.

Ya. Kali ini, aku berterima kasih kepada Ella_githu yang membuatku dekat dengan blog. Dan aku berharap, lewat blog tersebut aku bisa menulis. Ya, mungkin tak banyak tapi memenuhi rongga ketertarikanku akan menulis.

Lalu, di satu penggalan akhir masa ku di UNJ. Aku diperkenalkan dengan jurnalistik. Mengikuti Klub Jurnalistik, diikutsertakan daam pelatihan Media, lalu dipercaya ikut dalam Lingkar NuraNiku. Aku seperti diberi kesempatan. Untuk menulis dan untuk menetapkan bahwa menulis adalah kebutuhanku.

Tak banyak yang bisa ku lakukan dengan menulis. Setidaknya sejauh ini. Aku bahkan tak banyak karya yang diikutkan dalam perlombaan, diikutkan untuk dimuat di sebuah media cetak atau apalah. Karena aku belum membawa orientasiku kesana. Aku masih senang bermain-main saja. Mungkin ada saat . . nanti. Semoga pasti.

Lagi, ada yang belum terpaparkan rasanya. Satu hal, aku belum percaya diri dalam melebarkan kemungkinan potensi untuk menulis cerpen dan fiksi. Lebih merasa percaya diri menulis bebas. Sesuka hati. Semampu hati.

Menulis. Bukan hanya aku yang merasa membutuhkannya. Banyak yang lain yang lebih dahulu mengecap candu tulis. Dan aku percaya, menulis itu menyenangkan. Bisa menjadi penyalur amarah, penyulut dan penanam sugesti, media untuk jujur pada diri. .

Menulis. Bukan berarti hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang mengambil spesialisasi sastra tapi adalah potensi yang dipunyai setiap orang. Karena setiap yang mengecap pendidikan tentunya akrab dengan baca juga tulis. Tak mustahil pendapatku itu, kan?

Menulis. Akankah jadi kekuatan? Mungkin iya mungkin juga tidak. Tak jarang ku temui diriku hilang selera dalam menulis. Karena suasana kalbu yang tak tentu, karena polusi amarah yang singgah, karena penat yang menghabiskan tenaga atau karena kesibukan yang sebenarnya ku ciptakan sendiri. Hambatan-hambatan itu pasti. Namun, keajaiban dari jari-jari yang mengetuk tuts-tuts keyboard untuk menulis dengan hati adalah sebuah kemungkinan yang mencerahkan.

Ya, karena menurutku, menulis itu menyenangkan.

Advertisements

2 thoughts on “Aku ingin berbicara tentang menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s