Kebekuan proses

Bismillahirrahmanirrahim
Saat itu evaluasi acara Journalist Days, sore beranjak menutup diri. . walau senja tak telihat dari dalam gedung G kampus STAN. Refleksi . . entah apa nama yang pantas, tentang proses kreatifitas kami yang dipertanyakan. Bahwasanya kami bisa membuat sebuah kegiatan akbar yang lebih berpotensial, dengan ide-ide yang lebih dahsyat mungkin. Menyadari bahwa sekian besar potensi kita sebagai manusia. Hingga, tersadar oleh pengingatan akan pentingnya ‘proses sebuah kreatifitas’ yang tenggelam di antara ide-ide sempit yang adalah sebagian kecil saja dari rangkaian impian yang bisa diukir.
Tiba-tiba tergagas, membuka klub-klub dengan disiplin ilmu yang jelas, yang produktif dan berkelanjutan. Sebut saja sebuah klub politik. Yang memayungi, serta menjadi ‘cafetaria’ penyaji informasi yang mendewasakan wawasan mahasiswa. Yang menjadi sandaran yang juga mengingatkan posisi ‘mahasiswa’ yang adalah juga hak kita. . walau banyak penyimpulan bahwa mahasiswa STAN adalah sebatas peserta pusdiklat. Simpulan yang hadir bukan tanpa sebab. Melainkan adalah realita yang ada di lapangan.
Meski dapat bersuara, tetap saja terbentur.
Atau membuka klub advokasi. Walau tiap orang yang ku ajak berdiskusi tentang pertanyaan terhadap keberadaan wadah advokasi, selalu menjatuhkan gagasan tersebut dengan menyodorkan realita bahwa mahasiswa STAN telah difasilitasi oleh dana rakyat, sehingga tak terlalu urgen untuk berdirinya sebuah wadah advokasi. Padahal, advokasi tak terbatas pada urusan keuangan, tapi juga banyak hal. Yang mungkin (possible bukan probable) menjadi batu sandungan.
Atau mungkin disiplin ilmu yang lain. Mengadaptasi istilah multiple intelegences, bisa saja kan dikembangkan melalui wadah-wadah yang produktif. Meski diakui pula, telah banyak keunggulan yang mewarnai STAN hanya dengan wajahnya yang sekarang. Tapi tentang ilmu dan wawasan, adakah itu cukup?
Kemudian tentang prestasi, STAN juga adalah sebuah institusi. Timpang rasanya jika hanya melulu akademis yang jadi wacana. Bagaimana dengan pengelolaan human resources yang dimiliki STAN?
Jika di tempat dimana menggenang ilmu eksakta, ada wacana mengenai program karya ilmiah sebagai bentuk pengembangan ilmu dan inovasi-inovasi yang mampu mengubah wajah peradaban, mengapa suasana berpikir ilmiah terasa kering di STAN. Bisa saja kan, kita melahirkan inovasi atau penggubahan terhadap ilmu ekonomi yang berpotensi menjadi solusi untuk masalah moneter dalam negeri? Jangan hanya berpikir bahwa itu adalah hak mahasiswa tingkat S2 atau setaranya. Melihat keunggulan dan keragaman kecerdasan yang menyesaki STAN sebagai sebuah institusi, gagasan itu sangat mungkin. Jika banyak yang berasumsi bahwa orang-orang yang ada di STAN adalah orang-orang unggulan, lantas mengapa tak kita amin kan prasangka baik mereka tidak hanya dengan menunjukkan indeks prestasi yang tinggi tapi juga dengan karya nyata. Hasil pemikiran yang tak terhenti di kertas putih melainkan dalam langkah-langkah nyata seorang agent of change.
Saya yakin bahwasanya telah banyak terlintas pemikiran-pemikiran seperti ini. Teramat sayang jika potensi mahasiswa unggulan STAN hanya berakhir di IP 3,7. Apatah artinya jika tidak ada pembuktian kecerdasan sebuah angka 3,7?
Apatah artinya jika keunggulan dalam menguasai ilmu keuangan sehingga tercuat angka 3,7 tak mampu menjadi solusi permasalahan keuangan yang ada? Dikemanakan penguasaan ilmu keuangan itu?
Agent of change di elu-elukan di penjuru universitas di luar. Tak sekedar agen perubahan. Jika kita mau memperluas makna tersebut, perubahan sarat dengan tindakan. Dimulai dengan menimbulkan kepekaan, diracik dengan penambahan komposisi wawasan, dan tersaji dengan ide-ide perubahan solutif. Mengapa tak seperti ini kerangkanya? Kerangka yang menjadi fondasi sebuah arsitek kemajuan bangsa. Jika ada eagle awards di metro TV yang menjadi wadah yang menghargai gagasan dan upaya solutif dari pemuda bangsa yang peduli. Maka bentuk lain yang mampu menjadi stimulus untuk dihasilkannya perubahan yang menghasilkan kemajuan peradaban, patut diperjuangkan!
Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia!

23.30 wib .28 April 2009. Pondok Jaya- Bintaro.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s