Produk broken home?

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Bismillahirrahmanirrahim

Dahulu, masa kecilku, tak seperti anak yang lain. Aku jarang sekali diizinkan untuk main bersama teman sebayaku di luar rumah. Seringnya aku tidak diperbolehkan untuk berkeliaran di luar bersama teman-teman. Pernah aku diajak oleh seorang ibu dari teman kecilku, untuk bersamanya pergi rekreasi ke suatu tempat. Tapi bunda memilih untuk tidak membiarkanku. Dan aku sendiri. Di rumah. Dengan kesibukan yang tak jelas. Entah karena tak kuasanya aku karena lebih sering dibatasi, pernah suatu kali aku membangkang. Aku lupa, bentuk kenakalan apa yang aku perbuat. Yang jelas, yang ku ingat saat itu aku harus mendapatkan hukuman yaitu badanku diikat dengan tali ke sisi tangga yang ada di dalam rumahku. Bukan main aku menangis. Meronta tapi au tak berhasil melepas ikatannya. Pernah juga aku dihukum dilucut dengan tali pinggang (gesper). Bukan main sakitnya. Dan aku bahkan lupa kesalahan fatal apa yang ku buat. Pernah juga di malam hari pintu rumahku di kunci sehingga aku tak bisa masuk, padahal malam itu masih penggalan malam awal. Dan aku menangis meminta dibukakan pintu sambil mengetuk pintu keras.

Aku masih ingat luka-luka itu.

Dan sekarang, bahkan sampai ku beranjak dewasa pun, aku tak luput dari ketidaknyamanan. Bagaimana tidak jika setiap hari kau disuguhi makian dan kata-kata yang tidak pantas jadi sapaan? Dengan suara-suara kemarahan. Teriakan-teriakan yang semula membuat hatiku sembilu tak kuasa, tapi lamat menjadi sesuatu yang biasa.

Kasihan? Tak perlu, aku tahu bahwa aku juga bersalah.

Jika kadang aku melihat kasus broken home yang lain, aku masih saja jauh merasa lebih beruntung. Karena aku tidak melampiaskannya ke hal-hal yang tidak baik. Setidaknya belum. Karena mungkin sekali ada kesempatan hadir bagiku berbuat yang tak baik terhadap diriku sendiri.

Bersyukur aku punya keluarga lain, ya, para penyemangat jiwaku…sahabat-sahabat yang ku kasihi. Bersyukur aku mendapat ketenangan saat aku bersekolah. Aku mendapat keceriaan saat aku berada di luar rumah. Aku mendapat perhatian saat aku ada di kampus. Bahkan sekarang aku lebih merasa nayman di kos.

Oya, aku pun pernah dapat cerita dari seorang teman yang punya permasalahan di keluarganya. Agak mirip denganku. Pelarian yang dilakukannya adalah dengan mencurahkan perhatiannya kepada sahabat-sahabat yang dia sayangi. Dia begitu perhatian terhadap tean-temannya sampai-sampai aku merasa dia telah mengorbankan dirinya. Saat ku tanya mengapa? Dia bilang itulah caranya mendapat keluarga dan substitut untuk menyalurkan kebutuhannya terhadap keluarga.

Lagi-lagi aku bersyukur. Meski sering aku labil dalam kesendirianku di rumah, tapi aku masih punya penyemangat jiwa….sekumpulan senyum yang selalu dengan hangat menyambutku dukaku.

Kalo begini, aku bahkan merasa bukan produk broken home. Well, ya iyalah…lha aku malah terlihat adem-adem wae di luaran. Mungkin banyak yang ngga ngira kalo aku ni labil and berbeda hingga 180° kalo udah di rumah. Well, who knows?

Advertisements

One thought on “Produk broken home?

  1. Setuju sekali ….menjadi produk broken home tidak harus jatuh ke dalam hal hal yang tidak benar …dan kita mesti bersyukur kita lebih baik karena di luar sana begitu banyak saudara sesama kita yang jauh hidupnya lebih memprihatinkan.

    Salam Kenal yaa
    Anita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s