katanya,”Ikhwan bisa lebih jahat, Ziy….”

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Sabtu sore, sebelum aku pulang dari Kampus B. Sambil menyeruput vanilla latte dingin, aku dan ika bertukar cerita. Tiba-tiba kami masuk ke pembicaraan tentang ikhwan.

Ni Ka, belakangan Ziy banyak sms-an dengan seorang ikhwan. Yah sebatas diskusi-diskusi sih. Tapi lama-lama sebel juga, takut ni orang ngga adil. Khawatir dia Cuma sharing tentang hal-hal kemaren tu ke Ziy aja. Kan jengah juga,”

Hati-hati Ziy. Ika mah lebih baik diskusi sama yang ‘ammah sekalian. Soalnya ikhwan tu lebih jahat dari cowok biasa,” gantungnya

Lebih jahat, Ka?” tanyaku heran

Ziy tau sendiri kan, Ikhwan lebih banyak macemnya dari cowok biasa. Seringnya mengelabui, ngga pernah bisa ketebak.”

………..

Aku berpikir. Iya juga sih. Sejauh ini aku udah menemukan berbagai tipe ikhwan. Mulai dari awal sekali aku bertemu dengan ikhwan hafizh saat SMP dulu. Lalu ikhwan yang suaranya lebih lembut dari akhwat. Ikhwan yang TP (Tebar Pesona) well, meski ikhwan tsb memang diacungi jempol tentang jam terbang aksi dan kepeduliannya serta wawasannya. Ikhwan yang suka ngerjain akhwat. Yang kayak gini pernah ketemu lewat YM-an. Ikhwan yang kaku dan keras kepala. Ikhwan yang supel dan humoris. Ikhwan yang pecicilan kalo mesti terlibat via sms. Sampai ikhwan yang hanif banget. Yang benar-benar mampu menempatkan dirinya seperlunya, tidak berlebih-lebihan termasuk dalam adab pergaulannya dengan akhwat.

Tapi ada yang lebih ajaib lagi yang semakin menguatkan aku untuk menyetujui pendapat Ika bahwa ikhwan itu jahat.

Jadi, ceritanya aku mesti berinteraksi dengan seorang ikhwan yang adalah kakak tingkat di kampusku dulu. Karena sebuah sebab, yaitu properti milikku yang tak sengaja rusak saat dipakainya untuk sebuah acara dimana aku juga terlibat di kepanitiaan tersebut.

Awalnya dia minta maaf karena mesti mengembalikan properti milikku tersebut dalam keadaan yang berbeda dari keadaan semula. Dan sudah berkali-kali aku bilang bahwa tidak masalah. Nevermind. Lalu, di sms pun wajar-wajar aja. Tapi lama kelamaan dia jadi aneh. Dia bertanya. Dan tahukah apa yang dia tanyakan? ALAMAT RUMAHKU!

Yang semula dia memanggilku dengan sapaan antum jadi berganti dengan sapaan aku-kamu. Well, aku tetap memberi jarak dengan menggunakan sapaan saya. Tapi apa? Dia seolah tidak mengerti. Dengan gamblang dia bertanya,”boleh tidak, aq minta alamat lengkap rumah kamu?”

Tuing. Ni udah ngga beres nih!

Aku lantas bertanya mengapa. Tapi dia jawab dia tidak bisa menyampaikan maksud inti dari pertanyaannya tersebut. Lalu aku kembali menahannya dengan pertanyaan. Dan dia juga mengulurnya. Sampai akhirnya dia mengaku bahwa dia ingin menyampaikan sebuah pemberian sebagai tanda maaf atas perlakuannya saat itu. Lalu kemudian aku beri opsi. Berikan saja saat di kampus, saat aku kembali kesana sekalian aku memang ada keperluan dengan seorang sahabat. Niatanku adalah agar ada yang mengawasi kami. Mungkin dia jera, dia malah meminta maaf. Bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan, dan mengaku bahwa tidak pantas dia bertanya seperti itu padaku. Nah itu tau! Tapi juga dia bilang, dia punya alasan sehingga tidak bisa memberikannya di dalam kampus. Lalu aku balas kembali,”maaf saya tidak bisa memberikan alamat lengkap rumah saya. Saya menghormati kakak. Lebih baik tidak usah ada pemberian itu sekalian, afwan jiddan.” tutupku.

Tapi kemudian dia me-reply balik,”Apakah itu tidak mungkin??kamu mengira itu hal yang mustahil?? Di belahan bumi mana yang tidak mungkin terjadi jika Allah inginkan itu??”

Lama…aku tidak menjawab. Tapi dia terus menanyakan, mengapa tidak membalas smsnya.

Akhirnya, untuk terakhir kali aku balas.”Tolong jangan buat saya pusing. Saya semakin tidak mengerti!”

Aq tidak ingin membuat ini semakin rumit. Maaf…memang semua ini adalah salahku. Aq yang tak tau diri…jadi..jangan kamu pusingkan lagi!”

….

Haa? Haa? Haa?

Ni orang bener-bener bikin aku jengah. Bikin kesel, marah, sebel. Jadi ingin memaki-maki. Sampai-sampai malam itu aku mengganggu temanku untuk bercerita.

Belum pernah ada ikhwan yang membuat aku sedemikian kesal seperti ikhwan ini.

Aku kesal. Mengapa dia bisa seperti itu?? Aku menghormati dia. Dia di luaran pun adalah orang yang aktif di LDF. Jam terbang kepanitiaannya juga sudah banyak. Tapi mengapa dia berlaku seperti itu?

Yang dia lakukan seolah mencerminkan bahwa dia ‘tidak mengerti’ padahal sudah jelas-jelas dia paham.

Bilakah nanti kebencian yang aku dapati di diriku, lunturkanlah ya Rabb.

Jangan sampai aku merasa kecewa dengan ukhuwah ini, karena sudah banyak yang terkecewakan dan berpaling..

Kembalikan dia, ingatkan dia dengan hidayahMu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s