Jika kau memang bersaudara..

Besarkanlah hati saudaramu dengan memujinya
Kuatkanlah hati saudaramu dengan menerimanya apa adanya

Jangan sakiti hatinya dengan mengungkit-ungkit kesalahannya
Jangan lukai hatinya dengan mengata-ngatainya
Jika ia tengah futur, gembirakanlah ia dengan berita-berita gembira dari Allah
Jika ia bersalah, luruskanlah sebagaimana engkau meluruskan baja
Berikanlah kehangatan agar mudah ditempa
Jangan pukul keras-keras agar tak patah
Jangan terlalu panas agar tak leleh

Jika hatinya sedang panas, berlakulah sebagaimana angin yang sejuk
Bukan angin yg menghembuskan api amarah
Bukan air dingin yg beku
Jika hatinya sedang beku, biarkanlah ia mencair bersama kehangatanmu seiring berlalunya waktu

Jangan menolak permintaannya
Jangan menolak pemberiannya

Saat bekerja bersamanya, tanyakanlah pendapatnya dan kabarkanlah kepadanya
Meskipun ia lemah dalam pertimbangan
Meskipun ia lemah dalam ingatan
Hargailah apa yg bisa dia lakukan
Jika baik, pujilah
Jika kurang, berterimakasihlah atas peranannya
Jika gagal, jangan timpakan padanya

Bersaudaralah dengannya seluruhnya
Jadikan ayah-bundanya paman-bibimu
Jadikan saudara-saudaranya teman-temanmu
Jadikan anak-anaknya keponakanmu

Tanda kau bersaudara dengannya,
Ayahandanya menitipkan penjagaannya kepadamu
Bundanya menelponmu untuknya
Adiknya menganggapmu kakak
Kakaknya menganggapmu adik
Dan akhirnya teman-teman kalian akan menganggap kalian bersaudara

Rois Ibnu Abdul Hakim

Sebuah refleksi. Tentang cinta sahabat. Tentang cinta persaudaraan. Menjadi cermin. Yang secara tiba-tiba memantulkan kekurangan-kekurangan, kewajiban-kewajiban yang belum aku tunaikan terhadap saudaraku. Aku mengingat dia. Seorang saudari yang kini semakin jauh untuk ku jangkau.

Kuatkanlah hati saudaramu dengan menerimanya apa adanya

Menerimamu apa adanya…kewajiban itu sepertinya belum purnama. Mendapatimu seperti sekarang. Tak henti membuatku bertanya. Seolah sulit bagiku, bahwa dirimu sekarang memang dirimu.

Jangan sakiti hatinya dengan mengungkit kesalahan-kesalahannya

Jangan-jangan, saat ku tanya perihal sebab yang melatari perubahanmu menjadi dirimu yang sekarang, tanpa sadar aku telah mengungkit kesalahanmu. Walau itu ku tuju sebagai tanya. Bagaimana jika ku tak tahu? Malah kau sakit dengan pertanyaanku?

Jika ia tengah futur, gembirakanlah ia dengan berita-berita gembira dari Allah

Jika ia bersalah, luruskanlah sebagaimana engkau meluruskan baja

Berikanlah kehangatan agar mudah ditempa

Jangan pukul keras-keras agar tak patah

Jangan terlalu panas agar tak leleh

Aku masih jauh. Adakah aku menyodorkan kabar-kabar janji Allah untuk menguatkan semangatmu? Saat ku tahu kau sedang tak benar dalam sesuatu, adakah aku telah meluruskanmu? Dengan kehangatan, dengan bahasa perhatian, dengan lemah lembut? Ataukah sebaliknya, aku semakin membuatmu urung menggapai yang benar karena tak sengaja aku telah memojokkanmu dengan kesenjangan yang kau rasa ada antara diriku dan dirimu.

Jika hatinya sedang panas, berlakulah sebagaimana angin yang sejuk

Bukan angin yang menghembuskan api amarah

Bukan air dingin yang beku

Jika hatinya sedang beku, biarkanlah ia mencair bersama kehangatanmu seiring berlalunya waktu

Ingatkah? Kau bahkan tak pernah membahasakan suasana hatimu. Kau pendiam. Itu ku tahu. Kau pun bahasakan marahmu dengan semakin berdiam diri. Tapi, adakah aku telah menjadi angin sejuk dengan perangaiku? Untuk mereda kekecewaan yang mungkin menggantung dalam benakmu. Beku atau panasnya kondisi hatimu, aku bahkan pernah tak tepat menebaknya. Sehingga kadang ku salah langkah untuk menyikapi dirimu yang seperti itu. Dan adakah itu malah menambah panas atau bekunya suasana hatimu?

Jangan menolak permintaannya

Jangan menolak pemberiannya

Kau bahkan tak banyak meminta. Sekadar pertolongan, bahkan kau memilih untuk tidak merepotkanku. Lantas, apa yang menjadi ukuranku bahwa aku tidak boleh menolak permintaan atau pemberian darimu?

Hargailah apa yang bisa dia lakukan

Jika baik, pujilah

Jika kurang, berterimakasihlah atas peranannya

Jika gagal, jangan timpakan padanya

Aku takut. Bila kau merasa tak dihargai? Adakah sikapku seperti itu?

Aku tak yakin, apakah laga-ku telah menunjukkan apresiasi terhadap semua jasamu? Aku khawatir tak begitu. Aku khawatir banyak yang terlewatkan.

Bersaudaralah dengan seluruhnya

Jadikan ayah-bundanya paman-bibimu

Jadikan saudara-saudaranya teman-temanmu

Jadikan anak-anaknya keponakanmu

Tanda kau bersaudara dengannya,

Ayahandanya menitipkan penjagaannya padamu

Bundanya meneleponmu untuknya

Adiknya menganggapmu kakak

Kakaknya menganggapmu adik

Dan akhirnya teman=teman kalian akan menganggap kalian bersaudara

Ya…aku mengenal keluargamu. Ayahmu, bundamu, adik dan kakakmu. Adakah itu cukup? Bagaimana jika ternyata aku hanya sekadar mengingat nama dan wajah? Padahal aku sudah berdeklarasi bahwa aku dan kau bersaudara. Lantas apa artinya jika aku bahkan tak berusaha mengenal dan bersaudara dengan seluruh keluargamu?

Jujur, setelah ku baca sepenggal refleksi ini. Aku menjadi teramat merindumu. Menangisi kealpaanku yang menyisakan jarak antara kita. Maafkan aku. Maafkan. Maafkan.

Bagaimana jika aku adalah muara dari perubahanmu sehingga kau jadi seperti sekarang? Menjadi seolah kita telah berbeda? Aku takut dan tak henti didera resah. Ketahuilah aku begitu menyayangimu…

Dan tak hanya aku, kau pun tahu bahwa aku begitu menyayangimu…

Advertisements

2 thoughts on “Jika kau memang bersaudara..

  1. Ita

    Subhanallaah….

    Bgitu sempurna, enkau menafsirkan hati kepada seorang sahabat , kalah ia menjauh ….

    Kata hati yang bgitu menggugah….

    Persahabatan/Persaudaraan memang indah tapi acap kali jg menggoreskan luka….

    Sebuah hubungan yang timbul tenggelam , yang tak lepas dari air mata …. Air mata sedih & bahagia .

    Salam ukhuwah fillah …

  2. Pingback: Memang Karena Kita Bersaudara, « al Faza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s