Menyelarasi dia, dan tempat kita…

Memilih tempat yang aman, apakah menjamin kita juga akan nyaman?

Atau memilih tempat yang tidak terlalu nyaman dan berpotensi tidak menggenapkan kenyamanan yang kita inginkan, menjadi sebuah tantangan untuk pendewasakan diri atau sebaliknya, malah membuat pribadi terwarnai?

Well, tag line-nya aneh gg sih?

Sebenarnya, ini adalah satu lagi bagian dari kehidupan Ziy yang baru 19 tahun ini. Ya, sepenggal episode keseharian Ziy di tempat lain.

Bergabung dalam komunitas ini adalah hal yang mendebarkan. Berbeda landasan, berbeda cara pandang. Awalnya memang tak yakin. Entah aku mampu atau sebaliknya, untuk bertahan. Setidaknya untuk tetap menjadi diriku.

Tapi kenyataannya, keraguan yang timbul terpatahkan oleh dominansi keinginan yang sepertinya dipacu oleh rasa penasaran sehingga akhirnya aku memutuskan menjalani.

Memang ajaib, aku bisa berkumpul bersama mereka. Ya, mereka yang sangat kompetitif dalam bernalar, mereka yang amat kompetitif dalam mendiskusikan banyak hal, mereka yang kompetitif dalam mempersembahkan pencerahan lewat media. [*ketebak nih kayaknya]

Terlibat diskusi dengan kalian yang adalah nasabah atas segudang pengetahuan, membuatku kadang minder. Mudah untuk kalian menggali ide, tapi tidak untukku yang sepertinya selama ini baru mampu mengembangkan ide. Bertemu kalian yang unik. Permikiran yang unik, penampilan yang unik, perilaku yang unik, sampai ‘pandangan’ yang unik. Ya, aku masuk dalam komunitas yang ‘unik’.

Sampai kepada ‘pandangan yang unik’, aku jadi teringat dengan dia. Teman yang baru aku kenal di komunitas ini. Seorang yang cerdas dengan pengetahuan yang mencakrawala. Lalu latar prestasi akademik. Its nice, meetin9 you.

Dia adalah mahasiswa hasil study abroad. Mungkin pertukaran pelajar. Mengait juga jurusannya yang lalu yaitu HI. Aku kagum saat dia banyak bertutur. Menyampaikan kekesalan atau ketidaksukaannya. Menyampaikan keinginannya. Sampai aku bingung, bagaimana menyelarasi ‘pandangan’-nya.

Pernah dia berkata,”kayaknya aku deh yang paling kafir. Selalu yang paling bertolak belakang dengan pandangan kalian ,”

Kontan, kami terkaget. Bagaimana dia bisa berbicara seperti itu. Mungkin dia juga merasa. Memang dalam beberapa diskusi, ada pandangannya yang tersalurkan namun menurut kami itu tak mungkin tercuat atau sebuah ke-tabu-an. Tapi tidak olehnya, karena jadi terungkap. Sampai ada temanku yang lain yang dengan spontan beranggapan bahwa pemikiran dia sudah tersindrom gaya Barat. Ya, dia bilang ‘pandangannya’ mirip dengan Barat karena menurut temanku ini, seorang yang notobene adalah mahasiswa Indonesia tidak mungkin berpikiran luas sepertinya. Atau tidak mungkin mencuatkan hal-hal yang memang tak jadi tabu di dunia Barat.

Pernah juga saat ku salah berbicara. Tepatnya salah bertanya. Saat itu kami sedang membicarakan sebuah subjek [orang] yang kami kenal. Subjek ini, kebetulan ini menguak isu yang menurutku agak nyentrik karena isunya itu akan menyulut perdebatan yang tak usai. Lalu aku bertanya,”apa dia [subjek] ada latar belakang *****naris?”

Spontan, wajahnya agak memerah, mungkin memedam sedikit marah atau tepatnya kecewa terhadapku. Dia berujar,”Ko’ bisa terlintas pikiran kayak gitu. Gimana kalo kamu yang sebagai Muslim, dituduh sebagai teroris yang adalah dominant pandangan negative dunia mereka. Kamu akan marah bukan? Mereka juga seperti itu. Mereka juga kecewa. Coba kalian pernah hidup bersama mereka. Berbicara dengan mereka.”

Aku kaget. Tertampar juga sih. Tidak menyangka akan keluar hal itu darinya. Aku takut ini akan membuat jarak antara aku dan dia. Padahal aku senang berdiskusi atau bercerita dengan dia.

Kami diam. Karena tahu masalah ini akan tidak usai jika dipanjangkan.

Itu mungkin cuma episode yang menimbulkan kekhawatiran di diriku. Tentangnya, tentang aku, tentang nanti di tempat itu.

Ini pekerjaan yang sulit. Yaitu menyelarasi diriku dengan dia. Aku tak yakin bisa, namun aku akan berusaha. Karena tak selamanya tempat kita berpijak, akan nyaman kan? Kecuali kita mampu membuat tempat itu menjadi nyaman dan orang lain di sekitar pun akan nyaman dengan kehadiran kita. Allahua’lam.

Advertisements

2 thoughts on “Menyelarasi dia, dan tempat kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s