Safar dengan kereta api…

Safar dengan Kereta Api..

Minggu, 25 Januari 2009. hari ini telah terjadwalkan hariku, yaitu attend seminar jurnalistik (*well, sebenernya judul yang diangkat adalah ‘sisi lain jurnalistik’. Acara yang diselenggarakan oleh KMPF UNJ dalam rangka 28 tahun KMPF UNJ. Jadi seminar ini mengungkap sisi lain jurnalistik, lebih kepada portrait jurnalistik.

Di kesempatan ini, bukan itu yang ingin aku tuangkan di posting kali ini, melainkan perjalanan menuju kesana, yang sedikit banyak cukup menarik untuk mewarnai hariku ini.

Well, kami (*personil Media Center stan dan magangers) berinisiatif untuk menggapai museum bank Mandiri dengan menggunakan transportasi kereta api dari Pondokranji. Actually, this is my first (feel free to laugh at me, in order my status as ‘orang jakarta’ yang ternyata jarang jalan-jalan dengan kereta). Ya, ini pertama kali aku naik kereta dari stasiun Pondokranji. Dan rasanya ajaib. Tegang dan sempat ‘parno’ juga, inget tabrakan KA yang baru aja terjadi kemarin lalu. Tapi alhamdulillah, keberangkatan aman-aman saja. Secara, kereta yang kami tumpangi adalah ekonomi AC yang setidaknya bersih dan tidak sesak.

Yang kurang berkenan adalah perjalanan pulang. Kereta yang kami tumpangi adalah kereta ekonomi. Well, please imagine yourself. Awalnya memang kosong, tapi lama kelamaan penuh. Dan terlalu beragam. Ya, mulai dari iklan-iklan nyata pedagang asongan dengan variasi darang dagangan. Lalu asap rokokyang mengebul dari mulut-mulut beberapa bapak tua. Rengekan anak kecil, suara-suara pedagang yang saling sahut. Subhanallah, pemandangan ini jarang ku dapati. Dan hampir-hampir aku mual dibuatnya. Secara, ini pertama kalinya. Dan memang kendaraan yang biasa ku pakai adalah Transjakarta, Bus kota, atau motor. Sehingga experience ini lumayan mengejutkan buatku. Terlebih pemandangan yang ku dapati sepanjang jalan-jalan yang di lalui kereta api. Pinggiran kota, pinggiran jalur rel kereta yang disesaki oleh rumah yang tidak permanen yang berdiri hanya dengan kerangka kayu. Lalu pemandangan padatnya pemukiman warga dengan segala akitivitasnya. Aku membayangkan kepayahan-kepayahan yang mereka alami selama tinggal di dekat rel kereta api. Sudah makanan sehari-hari bagi mereka yaitu mendengarkan dengung bising yang diciptakan oleh kereta. Terlebih, bising tersebut adalah polusi suara yang pastinya mengganggu aktivitas mereka. Tai kulihat, mereka tenang-tenang saja. Seolah itu bukan big deal lagi. Ya, memang bagi mereka. Tapi tidak bagiku. Karena aku jarang melihat pemandangan ini. Pemukiman padat yang ditempati oleh keluarga-keluarga yang tidak mampu, anak-anak kecil yang berpakaian belel. Tapi subhanallah, mereka masih tersenyum. Ya, tersenyum. Di antara segala kesempitan itu. Di antara beragam ancaman kejahatan sosial yang mungkin sekali akan mereka alami. Aku jadi teringat novel serial ‘Topan Marabunta’. Apa hubungannya? Novel ini ku baca saat aku di jenjang SMP dulu. Novel ini banyak mengungkap kehidupan jalanan di Jakarta. Mengungkap kemanusiaan yang terzhalimi di banyak sudut-sudut Jakarta. Ya, dengan pendekatan yang sederhana. Dengan menampilkan ‘Topan Marabunta’ itu sendiri sebagai pengelana di jalanan. Kisah-kisah kemanusiaan itu sebenarnya telah tersaji sejak lama. Tapi aku baru tersadar kembali. Apakah memang akan seperti itu, fenomena-fenomena ini akan timbul semusim, lalu tenggelam semusim. Hanya orang yang peka yang mampu melihatnya. Benarkah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s