Terjebak dalam kekaguman akan kisah bunda Khadijah dan Rasulullah,

Terjebak dalam kekaguman akan kisah bunda Khadijah dan Rasulullah,

* Bahwa Khadijah mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari Allah sepanjang hidupnya. Allah yg mengarahkan Khadijah untuk menjadi teman hidup Rasulullah. Allah pula yang memunculkan tekad dihatinya untuk senantiasa membela, membangkitkan tekad, dan mengobarkan semangat suaminya. Allah yang menganugerahkan kepadanya akal yang cerdas dan akhlak yg mulia. Allah pula yang menjaganya dari segala cela, sehingga penduduk Mekkah menjulukinya dengan ‘wanita suci’.

* Khadijah ditakdirkan utk mengelola sendiri urusan-urusan perdagangannya agar ia belajar utk bersabar dan bersikap tegas dalam mengambil keputusan. Pengalaman itu menjadikan Khadijah tdk pernah kehilangan semangat serta tdk pernah ragu mengorbankan harta dan jiwa raganya utk membela agama Islam. Ia tetap tegar dan imannya tidak pernah goyah.

* Dalam membantu Rasulullah, ada kalanya Khadijah menggunakan pikiran yang cerdik, tetapi ada kalanya ia mencurahkan kasih sayang seorang ibu atau cinta seorang istri. Dihadapinya semua tantangan dengan keberanian dan keteguhan hati. Tak pernah ia gentar maupun gusar. Ia selalu tenang dan sabar.

* Bimbingan Allah pulalah yg menjadikannya menolak setiap lamaran dari para Quraisy setelah untuk kedua kalinya menjanda, sebelum akhirnya ia menikah dgn Rasulullah. Allah yg memberinya petunjuk utk memilih Muhammad sebagai pengelola urusan dagangnya ke Syam, sampai kekagumannya kepada integritas moral dan kemuliaan akhlak Muhammad juga bagian dari takdir Allah yg terencana.

* Khadijah menikah dengan Muhammad pada usia 40 tahun. Kemudian melahirkan anak pertama mereka pada saat berumur 43 tahun (Lahirnya Qasim ibnu Muhammad), disusul oleh Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah (pada saat usia Khadijah 56 tahun,……Subhanallah…)

* Pada akhirnya, kekuatan fisik dan kecantikan Khadijah semakin lama semakin pudar dimakan usia. Tetapi yg tdk pernah berubah dlm dirinya adalah: kekuatan spiritual dan kejernihan cinta. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah pada masa hidup Khadijah tidak pernah berpikir untuk menikah dengan perempuan lain atau menjadikan hamba sahaya wanita sebagai istri. Begitu berarti Khadijah bagi beliau hingga tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya.

* Khadijah akhirnya wafat pada usia 65 tahun dan saat itu Rasulullah berusia 50 tahun. Selama 13 tahun berikutnya, baru rasulullah menikah dengan 5 wanita Quraisy, 4 wanita dari kabilah arab lain, serta seorang wanita dari bani Israel.

# ini aku kutip dari sebuah blog yang sedikit banyak mengulas buku “Khadijah : True Love Story of Muhammad SAW”

Entah kapan bermulanya kekaguman ini. Tapi aku amat terbuai dengan kisah cinta bunda Khadijah dengan Rasulullah. Bagaimana tidak, kecintaan Rasulullah teramat kepada bunda Khadijah. Yang menyelimuti beliau kala beliau mendapat wahyu pertama. Yang dengan tanggap, mewakafkan hartanya demi kepentingan dakwah Rasulullah. Yang setia menemani beliau sejak dakwah menjadi hal yang sulit. Tak terbayang sungguh untuk bermimpi memiliki kemuliaan budi seperti bunda Khadijah. Aku teramat mengaguminya. Hingga rasanya juga ingin dicintai oleh sosok Rasulullah sebagaimana beliau mencintai bunda Khadijah. Dan sebagai wanita, aku sering berimaji. Bahwa aku akan menjadi ‘Khadijah’ untuk lelaki yang Allah ciptakan buatku. Aku akan menjadi penyedap mata kala lelakiku penat seusai membumikan dakwah yang gemanya tiada surut. Aku akan menjadi bunda bagi pejuang-pejuang cilik kepunyaan Allah yang lahir dari rahimku sebagai buah cinta dengannya. Aku akan menjadi orang pertama yang menyelimuti kegelisahan lelakiku kala ia menggigil merasakan kebekuan akan jalan yang sedang diperjuangkannya. Aku akan sepenuhnya menjadi penyayang lelakiku. Aku akan terus menemaninya menghadapi jalan juang di bumi Allah.

Allah, aku bermimpi. Untuk hal itu. Adakah Kau mendengarnya? Bersediakah Kau menggenapi asa ini?

Aku ingin dicintai seperti bunda Khadijah dicintai. Aku ingin dihormati seperti bunda Khadijah dihormati. Aku ingin menjadi berarti seperti berartinya bunda Khadijah. Aku ingin memiliki ‘sosok Rasulullah’ juga untukku sebagaimana Kau hadiahkan kepada bunda Khadijah. Aku ingin jadi yang pertama sebagaimana bunda Khadijah jadi yang pertama untuk Rasulullah, dalam mengimani dan dalam segmen apapun.

Kisah cinta bunda Khadijah dan Rasulullah benar-benar menjebakku. Tak apa kan?

* He stepped inside his home, and he overwhelmed with fear
An angel came with words from God, things were still unclear
Saying read – read, but he couldn’t read, then amazing words he heard
A trembling deep inside his heart, confused by what had occurred

There was only one who could comfort him
And help him see the light
To ease his fears, to reassure
It was khadijah, his wife…

Chorus
He said Zamilooni, Zamilooni, Dathirooni, Dathirooni, (Envelop me, Embrace me)
A mighty task has come before me…
I need you here with me…
By my side…

She was a woman of nobility, successful in all her trade
Many wealthy men had asked for her, she had turned them all away
But when she saw Muhammad, a shining moon, may peace be on his soul
He was a light for her – so right for her – her life will now be whole

But she had never seen him so distressed, as he was there that day
She would comfort him, and hold him tight, and chase his doubts away

Chorus

Bridge…
We look for stories of love, in places dark and cold
When we have a guiding light, for the whole world to behold
But were so selfish in our ways, and to the ones we hold so close
Our own pleasure and happiness is what we value most

But she sacrificed all her wealth and everything she had
And he honored her, and gave her faith,
when the times were bad, when times were bad…

Now years have passed, times had changed,
since khadijah breathed her last.
Message of the one true God,
was spreading far and vast

But then he came across some jewelry,
that khadijah once had worn
His eyes began to swell with tears,
his heart again began to mourn

Cause she was there for him, when times were rough,
and his enimies were cruel
She was the first believer, so keen and eager, to comfort al-Rasool

Chorus

Mawlaya salli wa sallim da’iman abada
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
(O my Leader, send your salutations and blessings forever
Upon Your Beloved, the best of the whole of creation)

*belakangan, untuk mengobati imajiku. Aku sering mendengar nasyid dari native deen feat Zain bhikha ini. Hpfh, tentram nian..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s