3rd International Symposium: Dari Jakarta hingga Jalur Gaza

3rd Internasional Symposium :dari Jakarta hingga Jalur Gaza

Well, actually it held in January 10-11, 2009. Tapi aku hanya bisa berpartisipasi dalam simposium hari pertama. Tema besar dalam symposium internasional kali ini adalah ‘Pendidikan untuk Rakyat Palestina’. Mengapa tema itu yang diambil pada symposium kali ini? Karena memang benar, pembangunan kembali infrastruktur pendidikan di Palestina adalah corcern utama dan sejatinya pendidikan adalah asset penting dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

Pagi di 10 Januari 2009, aku bersemangat sekali untuk buru datang ke symposium. Wuih, animonya lumayan besar. Pagi-pagi aja udah ramai. Hupfh..ampe banyak yang ngga dapat tempat duduk. Tapi alhamdulillah, di sesi 1 aku dan sahabatku dapet tempat duduk.

Next, acara dimulai jam 08.30 lewat. Dibuka oleh dua orang pembawa acara.

Jargon untuk symposium tersebut.

Dari Jakarta hingga Jalur Gaza. Save Palestine! Struggle for Freedom! AllahuAkbar!

Menggema di aula utama Pusat studi Jepang FIB UI ada hari itu.

Seperti yang ku tulis di awal, symposium ini mengangkat tema pendidikan..

Narasumber yang dihadirkan pada sesi 1 adalah Bpk. Abdul Rahman (Dosen Ilmu sejarah FIB UI), Ibu Yoyoh Yusroh (Anggota DPR RI), Ust. Ferry Nur (Ketua KISPA) dan Agung Nurwijoyo (Kadept Hub.Luar SALAM UI, Mahasiswa Ilmu HI UI ’06).

Subhanallah, apik sekali diskusi terbuka ini. Berbobot dan valid sekali, info-info yang disajikan oleh para narasumber. Dan aku terjebak kagum pada saat Ibu Yoyoh bercerita. Menceritakan kembali pengalamannya bersama beberapa ummahat di Palestine. Haru..biru..sekaligus gegap. Kontras sekali perbedaan dongeng ibu disana untuk anaknya dengan kenyataan ibu dan anak disini.

Tahukah, kidung pengantar mimpi mereka? Tiap malam, anak-anak palestina di dengungkan keyakinan bahwa syahid adalah cita. Al mautu fii sabilillah, asma’ amaniina. Syahid di jalan Allah, adalah cita kami tertinggi. Subhanallah. Sehingga saat mereka mendengar abi mereka meninggal, dengan sebelumnya sang ummi berkata bahwa abi mereka telah syahid, reaksi mereka adalah spontan berjingkrak girang. Malah mereka bilang,”ummi, kita adakan pesta permen yah. Karena abi syahid.” Dan ini benar, mereka katakan dengan mimik sukacita.

Aku jadi semakin iri. Dan lagi, Ibu Yoyoh terus bercerita dan rasanya tangis ini tak berasa. Tiba-tiba mengalir tanpa menyapa. Allah, selamatkan mereka.

Ada lagi cerita, bahwa disana Ibu Yoyoh ditanya oleh seorang ummahat. Hafizh berapa juz? Dan Ibu Yoyoh berkata bahwa dia baru hafal 21 juz. Dan kembali sang ummahat menanyakan umur Ibu Yoyoh. Dijawabnya bahwa umurnya pada saat itu adalah 41 tahun. Dan sang ummahat langsung berujar, kemana saja 41 tahun kau habiskan. Sedangkan alqur’an belum genap kau hafizkan. Ya, memang disana para ibu memperkenalkan diri mereka, bukan lewat title pendidikan atau pekerjaan terlebih dahulu. Melainkan title hafizhah mereka. Allah, subhanallah, mereka saja mempu menggenapkan hafalan Qur;an mereka bahkan dalam kondisi yang sempit. Sedang kita? Waktu yang luang banyak tersia. Padahal kita lapang. Kita tenang. Ahh, semakin tertampar saja wajah ini. Aku malu. Aku malu teramat. Aku merindu. Aku rindu teramat.

Timbul pertanyaan, bagaimana bisa menggenapkan hafalan dalam kondisi seperti itu?

Dan terjawab, karena mereka lemah akan orientasi dunia.

Lemah akan orientasi dunia…

Astaghfirullah…bagaimana denganku?

Mereka menjual anak-anak mereka dengan jual-beli yang menguntungkan dengan Allah. Wakaf mereka adalah kesyahidan anak-anak mereka.

Aduhai, sejatinya cinta.

Aku ber-azzam. Untuk suatu saat menjadi umm yang mendidik kepada anak-anakku, adalah kesyahidan sebagai cita termanis. Mendongengkan cerita nyata pendahulunya yang telah terlebih dahulu mengecap kesyahidan. Dan ingin, bahwa tak hanya satu, dua, mujahid kecil yang ku punya. Melainkan banyak.

Akankah…?

Teruntuk kemuliaan di sisi-Nya…

*well, sebenarnya tidak hanya cerita ini yang menjadi ibroh bagiku. Namun, biarlah itu menjadi pembelajaran buwatku. Karena aku masih belum cukup lihai membahasakannya. Dan sejatinya aku ingin membuat liputan singkat mengenai acara ini. Namun lagi, aku belum mahir..(khawatir terbawa objektif dari ku sebagai penulis).

Dari Jakarta hingga Jalur Gaza:

Save Palestine! Struggle for freedom! AllahuAkbar!

Advertisements

3 thoughts on “3rd International Symposium: Dari Jakarta hingga Jalur Gaza

  1. Subhanallah. Tanpa sadar sy turut menitiskan airmata ketika membaca tulisan anda. Malu dg diri sendiri apatah lagi dlm situasi kehidupan d Msia yang penuh dg kemewahan dan kesenangan.
    Ternyata bg ibu2 di Palestine dlm keadaan yg sulit dan d zalimi mrk berbahagia dg `jual beli yg menguntungkan dg Allah’.

  2. lemahnya orientasi mereka akan dunia,
    itu yang terpatri dalam benak mereka..

    “Lemahkan orientasimu akan dunia,
    mudahlah kecintaan-Nya kan tergenggam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s