Do’a Fakir

ist2_866927-hands-out

Temani hamba wahai Kekasih berkukuh meladeni

Terbatasnya mata hukum kenyataan hari-hari ini

Sebagian handai tolan tak bisa memandang-Mu

Kecuali sebagai unsur dari gugusan jagat raya kesadaran mereka

Engkau disangka bagian dari kerangka ruang dan waktu, gagasan mereka menganggap-Mu bisa dijerat ke dalam konsep kebudayaan yang pulang pergi dari semu ke yang semu

Kalau hamba menyembah-Mu, kalau hamba menatap kehidupan ini dengan ma’rifat-Mu, kalau hamba mengucapkan kata-kata dengan bahasa-Mu: di mata mereka pekerjaan hamba adalah sebuah dusun kecil di tepian negeri besar yang mereka kuasai

Mereka menamakan hamba lokal dan primordial karena yang bernama universal ialah apabila haba melarutkan diri kepada tuhan yang abstrak, atau apabila hamba menyembah dan memakai bahasa tuhan-tuhan khayalan mereka

Temani hamba wahai Kekasih bergulat melawan tuhan takhayul yang diajarkan oleh kekhilafan sejarah orang-orang seberang

Yakni tuhan-tuhan sihir yang maya, seperti meteor yang puppus di ruang hampa semesta

Yakni badai siklon dan antisiklon peradaban lokal di tengah keagungan kosmos-Mu yang tiada terhingga

Rebut hamba wahai Kekasih dari keterjebakan untuk memilih lingkar jagat alam dan kebudayaan, sebab itu hanya setitik debu dari ’arasy keilahian

Kekasih wahai Kekasih yang sanggup memandang wajah hamba berjuta kali lebih bermakna dibanding pandangan haba sendiri melalui cermin kehidupan, perkenankan hamba mengucapkan kata-kata yang sangat sederhana: bahwa di mata hukum kenyataan dan kesadaran sejarah hari ini, kesalahan hamba dalah bahwa seorang Muslim dan berbicara secara Islam

Demi segala yang mampu hamba pertaruhkan wahai Kekasih, kesalah itu berlaku politik, berlaku budaya, serta telah tersedia pasal-pasal konvensinya di universitas kesenian dan negeri estetika

Di propinsi yang bernama universal, tak diperkenankan hamba menyebut-Mu dengan Allah, atau apalagi dengan Al-Baqi atau Al-Qawi melainkan harus Tuhan saja, sebab Tuhan itu mendunia sedang Al-Qawi hanyalah sebuah kecamatan belaka

Pada propinsi rekayasa baru yang bernama kontekstual, hamba disarankan untuk menentukan sejak semula kepada siapa hamba berbicara serta harus menggunakan bahasa mereka; tetapi apabila yang hamba datangi adalah Jamah Kaum Muslim serta yang hamba tuturkan adalah bahasa mereka, tiba-tiba saja kaum kontekstual menjelmakan diri menjadi kaum universal di dalam menatap hamba

Betapa hina keluhan hamba itu wahai Kekasih, tapi huku apa gerangankah yang berhak merendahkan hamba ketika menangis di pangkuan-Mu

Wahai Kekasih sungguh temanilah hamba dalam kefakiran di tengah sejarah dusta ini, dalam keyatiman di tengah bapak ibu dan umat hamba sendiri

1985

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s