[Ulasan Buku] Serial Cinta

Seorang  saudara berkata bahwa karya Anis Matta yang berjudul ‘Serial Cinta’ ini adalah karyanya yang paling laris dibandingkan dengan karya-karyanya yang lain. Menyoal cinta berarti menyentuh saraf ketertarikan manusia secara umum. Itu fakta. Semua manusia selalu ingin berbicara cinta.

Buku ini, seperti sempat saya katakan, tidak pernah saya niat-prioritaskan untuk saya beli dan jadi koleksi. Ianya berjodoh dengan saya sebagai hadiah langsung dari penerbitnya.

Berbahagialah saya karena membaca ini perasaan saya gegap. Memang ya, disesaki tema cinta -meski klise- selalu punya magnet yang tidak perlu susah-susah kita berlepas atasnya.

Serial Cinta ini kompresehensif, menurut saya. Pembahasan tiap judulnya berkorelasi dan melengkapi satu sama lain. Yang terbersit dalam pikiran saya adalah bahwa buku ini tidak mengantarkan kita (pembaca) kepada tulisan-tulisan berdefinisi dan bertema cinta materiil, tetapi cinta yang benar. Dalam serial ini kita diajak belajar menjadi pencinta dari kisah-kisah mereka yang tenggelam dalam cinta atau yang cemerlang betul karena cinta.

Saya menyukai cerita cinta Muhammad & Khadijah, maka saya menikmati sekali tulisan-tulisan dalam serial ini yang mengangkat pelajaran dari kisah cinta mereka. Saya comot satu per satu dan saya ingat-ingati hikmah dari rajutan cinta Muhammad & Khadijah.

Tapi dari buku ini saya juga disindir, dan dari serial ini saya sempat merasa malu berpredikat sebagai ‘ia yang romantis’ dan ‘ia yang melankolik’. Bagaimana tidak, melankolik dan romantis disini mengandung definisi dan tabiat yang tidak sepenuhnya baik. Seperti saya tersinggung dengan kutipan ini,

Orang-orang romantis selalu begitu: rapuh. Bukan karena romantisme mengharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur: kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama.

Inilah ajakannya, untuk mengelola kembali romantis dan melankolis itu.

Secara pribadi, saya menikmati sekali buku ini. Lepas dari harmonisasi kata yang bahkan kombinasinya saat dibaca mampu membuat wajah memerah seketika, semua sisi serial ini saya menyukainya.

Imbauan saya mungkin, bagi pembaca yang telah atau ingin membacanya: jangan jadikan materi-materi dalam serial cinta ini sebagai sesuatu yang manis-manis saja rasanya. Sebaliknya, kajian tentang cinta yang benar dalam serial cinta ini patut menjadi pelajaran bagi kita mengelola cinta dan melakukan pekerjaan cinta yang bersifat menumbuhkan.

Ya..itu, didorong buku ini, saya (mungkin juga Pembaca lainnya) ingin rasanya bersegera menjadi dan hidup dalam pekerjaan cinta yang benar. Dengan tabiat-tabiat pecinta yang benar. Biar bersemi cinta itu menjadi kekuatan yang mengubah kualitas hidup dan cita rasa peradaban (tagline Serial cinta).

[Ulasan Buku] Allah, Kokohkan Kaki Kami Diatas Jalan-Mu

Buku ini adalah satu dari beberapa buku yang saya beli di stand tarbawi-press tepatnya pada IBF tahun lalu. Jadi buku ini hampir berumur satu tahun dalam tangan saya. Tapi, alhamdulillah kemarin bisa saya selesaikan. Bukan perkara ketebalan buku, tentunya. Karena buku ini hanya setebal 323 halaman. Tapi mungkin lamanya saya membaca buku ini lebih diakibatkan kebiasaan saya yang multi-reading. Dengan kebiasaan multi-reading itu, saya biasa membaca beberapa buku berbeda judul dalam kurun waktu bersamaan.

Selain itu, konten dari buku yang diangkat ini pun tidak merupakan alur-mutlak yang perlu dibaca secara runut. Sehingga dalam membaca buku ini, saya menyesuaikan kondisi dan kebutuhan materi bacaan. Saya membacanya dengan jeda-jeda. (kelihatan banyak beralasan ya? Hee)

Apa kata yang tepat buat saya memberi endorsement kepada buku ini ya? Buat saya buku ini bagus sekali. Reflektif menggugah khas hasil tari-jari ust.Lili nur aulia selalu menjadi favorit saya, selalu pas untuk dimasukkan dalam list buku-buku yang bersifat tazkiyatun-nafs. Nah, memang itu, ust. Lili nur aulia merupakan tokoh penulis yang saya idolakan disamping karya ust.anis matta dan ust. Salim a fillah. Alasan tambahan lagi buat saya menyukai buku ini adalah bahwa buku ini adalah terbitan tarbawi-press. (koleksi buku saya banyak terbitan tarbawi-press)

Nah, bagaimana dengan isinya? Buat sahabat sekalian yang juga langganan membaca majalah tarbawi, maka buku ini saya gambarkan serupa kumpulan tulisan-tulisan ust.lili nur aulia dalam rubrik ruhaniyat. Buku ini terdiri dari 56 tulisan yang dirangkum dalam sembilan bab yang temanya berbeda-beda. Buku ini kaya sekali hikmah dari perjalanan hidup para sahabat-tabi’in-tabi’aat. Banyak menceritakan teladan para penghulu dakwah, membawa kita berpikir bersama dan menyingkap makna.

Bab yang saya suka adalah Bab VI: Masuki Semua Ruang Kebaikan. Mengapa saya suka bab itu? Sebenarnya saya suka hampir keseluruhan tulisan didalam buku tersebut. Tapi timing yang membuat bab ini menjadi berbeda ‘rasa’nya buat saya pribadi. Kebetulan bab ini saya habiskan didetik-detik sama menemani Mama dihari terakhirnya didunia. Dan pas-nya lagi, tulisan didalamnya, yang beberapa diantaranya bernapaskan ‘birrul walidain’ itulah yang seolah bertumbuk-lenting-sempurna dengan kondisi hati saya saat itu. Dan tulisan didalam bab ini pula yang membuat saya, membuat hati saya berusaha terus bersabar. Seolah bacaan saya saat itu memberikan sinyal. Bayangkan saja, dalam perjalanan menuju Sukabumi (mendampingi Mama), bacaan yang saya baca saat itu berjudul “sebelum dua pintu surga tertutup”.

Tentang rekomendasi, rasa-rasanya saya mekomendasikan keseluruhan tulisan dalam buku ini. Apalagi buat sahabat sekalian yang kerap terjangkit kondisi ‘galau’, yang belakangan menjadi populer (entahlah). Setidaknya ini satu dari sekian banyak obat hati (no offense, itu hanya istilah dari saya).

Belum-belum, bagi sahabat sekalian aktivis dakwah, buku ini pas. Untuk meredakan ‘luka-luka’ yang mungkin sesekali (atau banyak-kali) sahabat sekalian alami. Tenang saja, tidak akan banyak kalian temukan tulisan bernapas cinta-napsu-melulu, karena buku ini memang bukan serial cinta (apa deh?) tapi buku ini menyehatkan, buat ruh (tentu saja!).

Yak! Sekian laporan saya tentang buku ini. Sebenarnya saya ingin berpanjang-panjang lagi dalam bercerita disini. Tapi rasa-rasanya, saya lebih memilih untuk meminjami saja buku ini buat kalian yang berminat (dalam rangka berbagi hikmah, tentunya). Sila hubungi saya dibelakang layar :p

 

Bagian Pengantar,

Bagian dari buku, bergenre fiksi maupun nonfiksi, yang tidak boleh terlewatkan adalah bagian pengantar oleh penulis. Bila itu adalah majalah, maka editorialnya tidak bolehterlewatkan.

Kali ini saya akan mengangkat apa-apa yang saya dapat dari ‘bagian pengantar’ produk bacaan yang beberapa hari ini sedang dekat dengan jangkau baca saya.

Pertama, pelajaran yang saya dapat dari kumcer Jendela Cinta. Pengantarnya ditulis oleh Ust. Fauzhil Adhim. Berikut beberapa bagian yang saya kutip dari tutur tulisannya.

Sekaranglah saatnya kita berbuat, Teuku. Atas setiap tetes tinta yang mengalir menjadi kata, berhitunlah akibat apa yang dapat ditimbulkannya. Atas setiap untaian kata yang Ia perkenan bagimu untuk menjelma menjadi cerita, bertanyalah apakah ia menjadi perantara mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya melalui pena. Ataukah justru engkau masih saja sibuk bergenit-genit dengan peramainan kata, yang bagi sebagian manusia menakjubkan, tetapi kering dari kebaikan?

Tidak. Tetapi runcingkanlah ujung penamu. Bangunlah, dan beri manusia peringatan . agungkanlah Tuhanmu agar setiap kata yang engkau tuliskan, menjadi pembuka pntu-pintu berkah yang melimpah dari langit dan dari bumi. Kenalilah tabiat dari tiap kata yang engkau pergunakan untuk merangkai kisah. Sesungguhnya diantara bayan (kata-kata yang tersusun rapi), kata Nabi saw, adalah sihir. Ia bisa lebih tajam dari seribu pedang. Ia dapat menggerakkan manusia dari segenap penjuru untuk saling tenggelam dalam keharuan. Tetapi pada saat yang sama, ia pun dapat membuat kita saling marah. Padahal agama kita sama, keyakinan kita sama, dan yang kita bela pun semestinya sama”

Saya tidak ingin menginterpretasi paragraf yang lihai sekali dibuat oleh Fauzhil Adhim tersebut. Karena memang, menangkap kalimat-kalimat itu pun akan bersifat sangat subjektif. Nah, monggo untuk diresapi lebih lanjut bila anda sepakat menyukainya seperti saya.

Selanjutnya, saya akan berbagi bagian pengantar yang biasa saya nikmati dari majalah Tarbawi. Di majalah tersebut, bagian pengantar diberi nama rubrikKhotorot (editorial). Mengapa? Selain memang karena saya menyukai setiap tema yang dibawakan dengan menggugahnya oleh Tarbawi, biasanya ‘bagian pengantar’ atau editorial yang dibawakan Tarbawi terasa khas sekali.

Bisa jadi memang bahasannya sama seperti media massa lainnya, yakni apa yang sedang terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia, atau isu berpengaruh dari luar. Tetapi Tarbawi selalu berhasil mengangkatnya dengan gaya yang tidak berlebihan tetapi menyadarkan, mencerahkan. Tidak muluk-muluk atau bertujuan untuk membingungkan, tetapi lebih mengajak untuk banyak mengambil pelajaran.

Seperti Khotorot (editorial) untuk edis 245 kali ini. Yang berjudul Politik berbalas pantunmonggo disimak… :-)

“Menuduh bohong seperti berpantun. Menolak tuduhan bohong adalah reaksinya. Kasus-kasus besar yang banyak bermunculan belakangan ini, yang semakin ramai kita saksikan, seolah menyuguhkan panggung untuk berbalas pantun.

Para tokoh agama menuduh pemerintah melakukan kebohongan. Presiden tidak terima disebut berbohong, lalu pertemuan digelar dan klarifikasi disampaikan. Lalu MUI mengimbau agar para tokoh agama tidak membuat kegaduhan bila mengritik pemerintah. Yang lain meminta agar tokoh agama tidak ambisi politik. Para tokoh agama itu pun menolak tuduhan ambisi politik itu. Dan sebagian kita pun bingung. Tidak mau peduli.

Menuduh bohong seperti bergayung. Menolah tuduhan bohong adalah sambutannya. Maka ketika Gayus tiba-tiba menuding Satgas Pemberantasan Mafia Hukum telah melakukan banyak rekayasa atas dirinya, para personil satgas itu pun membantah, menolak keras pernyataan Gayus. Dan kita pun menyaksikan gayung bersambut dalam berbalas pantun.Yang satu menuduh. Yang satu menolak tuduhan.

…kekuasaan diperoleh melalui hajatan politik. Hajatan politik diikuti para kontestan politk. Hajatan politik ada yang yang langsung dan ada yang terselubung. Maka memimpikan semua hiruk pikuk ini bersih dari campur tangan politik adalah mimpi.

Namun begitu, tidak seharusnya mereka yang merasa menjadi tokoh, yang menjadri pejabat, yang punya wewenang, yang punya kuasa, yang punya massa, terus menerus menyuburkan rasa bingung masyarakat. Seharusnya mereka melakukan tindakan-tindakan kuat, dan tidak hanya menikmati panggung berbalas pantun,”

(majalah tarbawi edisi 245, dengan beberapa suntingan untuk keperluan tulisan)

Nah, bagian pengantar yang bisa sangat mendewasakan bukan?

*Selebihnya adalah bahwa pengantar itu merupakan konklusi yang ditujukan untuk memudahkan pembaca dalam menikmai produk bacaan*

(ngelanjutin baca Tarbawi >.<)