Berapapun Usia Kita Dewasan Diri dengan Cerita

*judul Majalah Tarbawi Edisi 270, 8 Maret 2012-Rabiul Tsani 1433H.

Hidup ini adalah kumpulan cerita. Cerita-cerita yang kemudian menghadirkan simpul makna. Jangan khawatir, cerita-bercerita adalah fitrah manusia. Dan dalam penjelasan tersingkatnya, cerita selalu bisa membawa makna dan menjadi tangga yang bisa mempermudah proses pendewasaan kita, dengan syarat: kita ‘awas’ terhadap cerita yang kita alami atau kita dapati dan merengkuhnya juga mengurainya menjadi pelajaran-pelajaran bermakna bagi hidup singkat kita.

Kawan, berikut saya kutipkan beberapa isi dari majalah Tarbawi edisi 270 yang semoga memberi kebermanfaatan.

“Manusia itu menyukai cerita, fitrahnya cenderung kepadanya. Kalau dikisahkan sepotong cerita kepadanya, ia terdorong mengetahuinya hingga selesai.” –Syaikh Faisal bin Saud Al Hulaibi

*

Siapapun kita, berapapun usia kita, kita memerlukan cerita. Bahkan bilapun kita merasa bukan pecinta cerita, pasti ada dalam hidup, yang kita jalani dengan cara belajar dari sepotong peristiwa. Itu bentuk lain dari cerita. Maka cerita bisa berupa apa yang kita dengar dalam bentuk riwayat. Bisa juga apa yang sedang terjadi dan kita saksikan langsung. Itu semua menghasilkan definisi bahwa hidup adalah panggung berbagi cerita. Kita saling berbuat, saling pula menyebar tanda. Karenanya, Asyirbashi mengatakan bahwa segala sesuatu bisa menjadi sumber ibrah dan nasihat bagi manusia. “Yang dengan itu manusia menguatkan sisi kebaikannya, dan mengendalikan sisi buruknya.”

*

Cerita memiliki berbagai pesan, bermacam kesimpulan, sekaligus nilai. Maka pelajaran pun menjadi banyak. Tetapi bila kita ingin memeras semua pelajaran itu, dan mencari satu kata yang menjahit keseluruhannya, kita akan mendapati bahwa satu kata itu adalah harapan. Pada akhirnya kita ingin memiliki sebuah harapan dibalik segala cerita yang kita jadikan asupan. Kita membangun harapan dari balik banyak cerita.

Kita menyemangati diri dengan harapan , sebab kita memasuki hari esok dengan ketidaktahuan kita tentang hari esok itu sendiri. Sebagian harapan itu kita ikatkan pada doa-doa. Sebagin link ita sandarkan pada pelajaran-pelajaran dari berbagai cerita dan peristiwa. Caranya, melalui cerita-cerita itu hati dan pikiran kita secara seksama kita ajak melakukan tafakkur, sebuah proses dimana kita merenungkan dan menghayati kehidupan ini.

Tafakkur itu sendiri, kata Fudhail bin Iyadh, “Adalah cermin, yang memberi tahu kita kebaikan diri kita, dan menunjukkan kepada kita keburukan kita.” Dengan mengetahui baik buruk diri kita, akan mudah pula bagi kita untuk merangkai harapan-harapan yang kita inginkan.

*

Harapan, optimisme, dan kesinambungan, adalah isu utama dibalik kebutuhan kita akan cerita. Semakin kita mampu mengambil manfaat dari sebuah peristiwa dan cerita, semakin kuat pula harapan yang bisa kita bangun. Ada banyak cerita disekitar kita. Yang panjang dan rumit, maupun yang singkat dan sederhana. Semua punya manfaatnya. Dibutuhkan hati yang kuat dan alat penghayatan yang baik untuk itu semua. Seperti dijelaskan Al-Qur’an, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.” –QS. Qaaf: 37

*

Pada fitrah kita, ada kecintaan pada cerita. Sedikit atau banyaknya. Maka memahami fungsi dan manfaat cerita secara benar, tak lain adalah bentuk dari memahami apa yang harus kita lengkapi untuk mengayomi fitrah kita.

Dalam prosesya yang berkelanjutan, saat fitrah itu sendiri tumbuh menemukan apa-apa yang harus diisikan ke dalam relung-relungnya dari berbagai cerita, saat itulah kita akan merasakan betapa kita tumbuh ke arah yang benar. Itu hnya kata lain dari menambah hari demi hari dengan menjadi lebih dewasa melalui cerita.

*

Berkomunikasi dengan cerita, dengan demikian, sejatinya adalah sebentuk persuasi, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Kita bisa belajar dari cerita. Kita bisa merengguk semangat dengan menyimak cerita . sebaliknya pula, kita bisa mendidik, mengajar, atau berbagi semangat dan nilai bersama orang lain dengan cerita. Bila lelah dan putus asa datang menggoda, kita bisa membangkitkan diri dengan cerita.

Cerita inspiratif akan menjadi teman hidup bagi kita, siapapun, sampai kapan pun. Karena, pada dasarnya kita semua suka cerita. Karena, kita adalah makhluk pencerita.

*

Begini memang, membeli majalah Tarbawi memang selalu worthed. Suplemen banget. Untuk lebih lengkapnya, mangga, dibeli majalah Tarbawinya. Meski ini spoiler, semoga saya tidak dimarahi tim Tarbawi biar kebermanfaatannya berkah. Selamat membaca :-)

Kebaruan dan Waktu, Selalu Berputar.

Ayolah..Hidup ini hanya seputaran peristiwa, dan posisimu ada dimana? (autokritik -yurisa)

Lalu, bagaimana dengan kita yang juga selalu mendapatkan hari yang baru, tapi tidak berusaha melakukan sesuatu yang baru untuk menyeimbangkan pemberian Allah yang mahal itu??

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,“Tak ada hari yang datang dari hari-hari dunia kecuali ia berkta,” Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah hari yang baru dan sungguh aku akan menjadi saksi atas setiap perbuatan yang dilakukan didalamku. Aku, kalau matahari telah tenggelam, tidak akan kembali lagi kepada kalian hingga hari kiamat. Jika kamu mengetahui hal ini, maka janganlah sekali-kali kamu tertipu dan terus menerus dalam kemalasan, serta terjebak oleh hawa nafsu. Akan tetapi, bersungguh-sungguhlah untuk menebusnya dan melepaskannya dari belenggu sangkar.”

Umar bin Dzar juga mengingatkan kita untuk selalu mengisi hari dan malam kita, tidak malah tertipu dan terus terlena. Ia berkata, “Berbuatlah dan beramallah untuk diri kalian, semoga Allah merahmati kalian di malam ini dan kegelapannya. Karena sesungguhnya orang yang tertipu itu adalah orang yang tertipu dari kebaikan malam dan siang, dan orang yang dicegah adalah orang yang dicegah dari kebaikan keduanya. Sesungguh keduanya diciptakan hanyalah sebagai jalan bagi orang-orang beriman untuk menaati Rabbnya, dan sebagai ujian bagi yang lain untuk lalai terhadap diri mereka sendiri. Hidupkanlah diri kalian karena Allah dengan dizkir kepada-Nya, karena hati itu hanya akan hidup dengan dzikir kepada Allah. Betapa banyak orang yang bangun untuk Allah di malam ini, kelak ia akan bergembira ketika bangun dikegelapan liangkuburnya, dan betapa banyak orang yang tidur malam ini, kelak akan menyesali tidurnya yang panjang saat ia melihat pemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Maka pergunakanlah setiap detik perjalanan jam, malam dan hari agar Allah merahmati kalian.”

Hari-hari itu bukan sekadar ruang untuk menyambung usia, tapi juga tempat kita menabung amal dan berinvestasi kebaikan.

Realita kita hari ini, adalah seperti ini; nikmat yang beragam dan kebaikan dari Allah yang bermacam-macam selalu ada yang baru, datang bersama hari yang baru. Tapi yang bertambah dari kita, justru sebaliknya.

Kita harus berbuat. Menciptakan kebaruan dalam hari-hari kita. Dalam detik-detik pertambahan usia ita. Dalam detak-detak napas kita. Agar setiap hari yang akan berlalu dari kita, ada kebaruan-kebaruan yang bermakna yang akan menjadi penutupnya, yang menjaga kita dari kegamangan. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada amal yang dilakukan  di suatuhari kecuali ia akan dijadikan sebagai penutupnya.” (HR. Imam Ahmad)

Diambil dari tulisanpertama rubrik Dirosat, Majalah Tarbawi edisi 264

Maafkan kami, Ramadhan..

*Dikutip dari artikel berjudul, “Maafkan kami, Ramadhan. Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka.” (Sulthan Hadi)

Majalah Tarbawi edisi 257, Ramadhan 1432 H

Ramadhan yang agung, dahulu pernah datang kepada kaum yang melakukan persiapan maksimal untuk menyambutnya, yang sangat memahami rahasia bulan suci itu, yang mengenali keistimewaannya. Mereka menantinya dan selalu berjaga untuk mendapatkannya, menyertainya dengan shalat, puasa, membaca Al-qur’an, dan melakukan banyak lagi ibadah yang lain. Mereka berdoa enam bulan sebelumnya agar diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan, demi mendapatkan keberkahan dan keutamaannya, lalu berdoa enam bulan kemudian agar yang mereka lakukan bersama Ramadhan, semua diterima oleh Allah swt. Mereka berdoa,” Ya Allah, selamatkan  kami hingga Ramadhan, selamatkan pula Ramadhan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.”

Dahulu ia datang kepada kaum yang bergadang di malam hari demi bercengkerama bersamanya disetiap detiknya, merasakan dahaga di siang harinya, memahami bahwa Ramadhan adalah hari-hari yang tak tergantikan, lalu memberikan apa saja yang berharga dan bernilai yang mereka miliki. Mereka sangat memahani firman Allah swt, “(yaitu) beberapa hari tertentu,” hari-hari yang berbilang, hari-hari yang terbatas, maka mereka ingin agar tidak kehilangan sedikit pun. Serasa Ramadhan menatap mereka, sedang diantara mereka ada yang menangis, tenggelam dalam rasa takut mereka kepada Allah swt. Ada yang mendirikan shalat, lupa dari kehidupan dunia. Ada yang sujud, meninggalkan dunia dibelakang punggungnya. Ada yang berdoa dan bermunajat, menggantungkan seluruh asanya hanya kepada Allah swt.

Kita membaca dalam sirah mereka, disana ada alim bernama Ibnu Syarahil yang karena sujudnya kepada Allah begitu lama hingga tanah memakan keningnya. Di sana ada Shafwan bin Salim yang berdiri melakukan shalat malam hingga kedua kakinya bengkak, dan urat-uratnya terlihat membiru. Ada pula Abdulllah bin Zubair yang shalat disekitar Ka’bah, tak merasakan batu-batu yang berjatuhan di sekitarnya, yang dilemparkan oleh orang-orang kafir. Ada Umar bin Khattab, yang selalu menangis ketika shalat hingga di kedua belah pipinya terlihat garis hitam oleh sebab airmata yang selalu menetes.

Mereka selalu serius dengan Al-Qur’an, seperti Utsman bin Affan yang mengkhatamkannya setiap hari selama Ramadhan, atau seperti Qatadah yang mengkhatamkannyasetiap tiga hari sekali. Atau seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang sengaja menghentkan segala aktifitasnya agar bisa berkonsentrasi penuh dengan Al-Qur’an.

Mereka begitu menikmati shalat malamnya, berkomunikasi dengan Penciptanya, dan meresapi tilawah Qur’annya. Ini terlihat dari keadaan Abdullah bin Fudhail yang ketika mendengarkan ayat Allah, “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada neraka, lalu mereka berkata ,’Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al An’am:27) tiba-tiba menangis dan kemudian tak sadarkan diri setelah itu.

Sungguh benar firman Allah swt  yang memuji mereka, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan harta apa-apa rezki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi merea, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS As Sajdah: 16-17)

Namun hari ini, Ramadhan datang kepada kita, yang tahu kemuliaannya tapi tak banyak melakukan apa-apa. Mungkin Ramadhan menatap kita dengan tatapan kosong; tak ada aktifitas di waktu malam kecuali hanya senda gurau, berhibur, dan menebar canda tawa. Mungkin Ramadhan melihat kita hanya sekumpulan dungu yang meninggalkan shalat dan hanya asyik menghabiskan waktu dengan chanel-chanel tv yang tak memberi manfaat. Mungkin Ramadhan hanya menatap kita sebagai sekumpulan orang-orang malas, yang merasa telah mengeluarkan segala kesungguhannya usai menunaikan shalat Tarawih sebanyak delapan rakaat dalam beberapa menit, setelah itu pergi dengan penuh rasa bangga, seolah telah melaksanakan dan menunaikan hak untuk ibadahnya dan terbebas dari kewajiban Allah kepadanya.

Mungkin kita harus meminta maaf kepada Ramadhan. Sebab hati kita barangkali telah berubah menjadi keras, membatu, mata kita kering. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya merasakan manisnya ketaatan, tidak pula indahnya ibadah, serta nikmatnya munajat-munajat malam Ramadhan.

Ramadhan mungkin belum menemukan apa yang seharusnya ia temukan pada diri kita . padahal menurut orang-orang yang ditemui Ramadhan dahulu, bahwa Ramadhan adalah bulan bertemunya dua macam jihad; jihad di waktu siang dengan berpuasa, dan jihad di waktu malam dengan memperbanyak shalat malam dan tilawah Qur’an. Dan Imam Ibnul Jauzi telah mengingatkan kita tentang hal itu dalam nasihatnya, “Siapa yang mengumpulkan dua jihad ini, serta melakukan keduanya dengan penuh sabar, pahalanya akan diberikan tanpa hisab.”

Hal yang sama juga telah disampaikan Ka’ab,” Pada hari kiamat akan terdengar seruan, ‘Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya saja para ahli Al-Qur’an dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batas, tanpa perhitungan.”

Sekali lagi, mungkin kita harus minta maaf pada Ramadhan. Karena ia belum menemukan dalam diri kita sesuatu yang sesungguhnya ia harapkan dari kehadirannya bersama kita. Seperti saat ia pernah hadir di tengah-tengah manusia yang memperlakukannya dengan sangat istimewa, yang tidak tunduk dan terpedaya oleh musuh. Ramadhan hadir di tengah mereka, dimana bumi yang dipijak selalu terdengar adzan, syiar Ramadhan selalu diagungkan, selalu ditinggikan.

Jebakan Kecepatan

*serial etika komunikasi, Majalah Tarbawi Edisi 248 – Jumadil Awwal 1432 H

Internet ibarat panggung terbuka. setiap orang bisa tampil diatasnya. Kita tak lagi semata menjadi khalayak, tetapi juga dimungkinkan berperan sebagai pelaku utama dalam komunikasi massa. Tak harus memiliki lembaga media untuk semata menyebarkan warta ke segala penjuru duni dalam waktu yang simultan. Cukuplah dengan akses berbiaya murah, karena berbagai ruang maya disediakan berbiaya murah pada kita secara cuma-cuma.

Sebagai pelaku komunikasi, bisa jadi kita sungguh-sungguh ingin menjadi pewarta warga (citizen journalism), misalnya lewat berbagai blog yang kita sulap menjadi media online. Atau semata meneruskan atau mengutip informasi dari orang lain. Fasilitas forwarding dalam internet atau seluler memudahkan kita untuk meneruskan informasi yang kita terima pada orang lain.

Apapun pilihannya, pekerjaan membagi informasi selalu memiliki jebakan etis. Karena tak ada informasi yang tak bebas nilai. Problem yang paling mendasar sebetulnya euphoria informasi yang menjangkiti kita. Dalam lalu lintas informasi, baik yang berbasis internet maupun seluler, orang merasa berarti ketika bisa turut bebragi. Maka begitu mendapatkan kabar, seseorang dengan spontan berpikir, kepada siapa informasi itu akan diteruskan. Apalagi, jika merasa itu sesuatu yang baru.

Kita bisa menyebutkan sebagai syndrome broadcaster, semacam obsesi untuk terus menjadi sumber dan penyampai informasi. Ini yang harus kita waspadai karena potensinya untuk melanggar etika tinggi. Pertama, karena kita pada umumnya tak memiliki tradisi melakukan verifikasi yang baik. Keengganan melakukan verifikasi informasi akan menjebak kita dalam distribusi kabar yang tidak akurat, atau bahkan tidak benar sama sekali.

Kedua, internet berpotensi disusupi berbagai berita bohong (hoax). Kalau tidak cermat, kita akan menganggapnya sungguhan, apalagi biasanya disajikan secara meyakinkan layaknya kabar dari kalangan professional. Ada narasumber yang dikutip, ada data-data yang disebut. Meneruskan hoax sama artinya kita adalah pembohong. Bayangkan jika ada yang menganggap seirus informasi itu, bisa jadi akan menimbulkan kepanikan atau minimal keresahan. Seperti kabar tentang merek-merek susu yang tercemar enterobacter Sakazakii beberapa waktu lalu yang sempat meresahkan.

Ironisnya, media-media profesional pun kadang termakan hoax juga. Beberapa jam setelah Pembangkit Listrik Tenanga Nuklir Fukushima Jepang meledak, muncul peringatan dari media elektronik bahwa warga Indonesia hendaknya tidak keluar rumah, karena radiasi akan sampai ke negeri ini.

Ketiga, nampaknya, internet akan menjadi rumor terbesar hari-hari ini atau nanti. Logika rumortetap sama, berkembangnya akan paralel dengan seberapa penting isu terkait dan seberapa dianggap penting suatu isu, semakin ramai dibincangkan. Semakin tak jelas sebuah sumber, semakin tinggi potensinya menjadi rumor. Disinilah jebakannya, karena semakin kita merasa sebuah informasi penting, semakin tinggi keinginan kita untuk membaginya pada yang lain.

Internet memungkinkan siapapun untuk menaruh informasi apapun, mulai dari yang  berkelas sampah hingga yang bernilai. Dari yang berpotensi merusak, hingga yang berpotensi membangun. Dari obrolan pinggir jalan hingga omongan serius para pengambil kebijakan. Dan orang yang menaruhnya bisa menjadi siapapun. Internet memungkinkan orang menjadi anonim, tak dikenal. Sumber yang tidak jelas inilah biang informasi yang tak berujung pangkal.

Keempat, meneruskan informasi dari media online, berpotensi kehilangan konteks. Media online selalu terobsesi pada kecepatan, sebagaimana karakternya yang always updated. Namun, kecepatan informasi seringkali merusak konteks. Jika orang tidak membaca keseluruhan update informasi itu, sangat mungkin dia kehilangan konteks. Kabar tanpa konteks sama artinya dengan informasi tanpa kebenaran. Informasi yang bias. Daripada tahu sepotong bisa jadi lebih baik tidak tahu sama sekali.

Ada baiknya kita renungkan kembali kaidah komunikasi yang paling mendasar, yakni irreversible (tak dapat ditarik kembali). Begitu kita salah membagi informasi, pasti ada dampaknya, sekecil apapun. Bayangkan jika ini menyangkut orang-orang yang sejatinya tak bersalah. Betapa mengerikannya, misalnya, ketika kita justru turut dalam proyek fitnah atas seseorang. Sementara, kita bahkan tak mengenal orang yang bersangkutan. Tak ada motif seirus, selain gejala lebay, namun dampaknya teramat serius, apalagi jika menyangkut isu public. Hanya karena jari-jemari kita yang tak terdidik akibatnya bisa sangat fatal.

Pakar telematika Onno Purbo berpesan, selain pandai memilah dan memilih, masyarakat sebaiknya juga berhati-hati dalam menyusun atau meneruskan suatu informasi. Kecepatan memang pentng, tetapi bisa menjebak. Tak ada artinya kecepatan tanpa kebenaran.

(Edi Santoso)

*

dalam sebuah pelatihan jurnalistik, saat sesi diskusi, ada seorang mahasiswa perwakilan Indonesia untuk Libya (dan bersekolah di Libya). ia menyatakan kekecewaannya terhadap pemberitaan di Indonesia. pernah ditayangkan video yang menampilkan adegan bentrokan dan pengeboman yang dikatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di sebuah tempat di Libya. Ia, yang menyaksikan berita tersebut, merasa bingung dan resah. karena peristiwa tersebut terjadi ditempat yang ia kenali bukan tanah Libya.

perhatikan sekali lagi: Begitu kita salah membagi informasi, pasti ada dampaknya, sekecil apapun.

Menghadirkan Kenangan Akan Ayah Tercinta

*sebuah artikel dalam Majalah Tarbawi edisi special: “Ayah Punya Caranya Sendiri dalam Mencintai Kita”

Alangkah pendek waktu ayah kita untuk merasa sebagai ayah dalam pengakuan nyata kita

Setidaknya, untuk suatu waktu tertentu, kita harus mengenang kembali ayah kita. Terlepas ayah kita sudah wafat ataukah masih sehat, sejatinya ayah kita selalu ada, selamanya. Maka menghadirkan kembali kenangan akan ayah tercinta seharusnya bisa dilakukan oleh semua kita. Siapapun kita, seperti apapun ayah kita, dan dimanapun kini ayah kita berada.

Sejak ayah kita mengambil takdirnya untuk menjadi ayah, ia pasti tahu bahwa kewajibannya sebagai ayah jauh lebih banyak dari apa yang mungkin bisa ia harapkan dari anak-anaknya. Kebanyakan dari harapan itu pun bukan suatu pengembalian yang ingin ia minta dari kita. Bukan. Tapi apa-apa yang terbaik untuk kita juga. Maka ibarat bertransaksi, ayah  membelanjakan begitu banyak modal untuk pertumbuhan kita, tapi begitu ada manfaat yang kita dapatkan dari pertumbuhan itu, maka ayah pun menyerahkannya untuk kita lagi. Seperti seseorang yang membeli berbagai barang berharga, setelah dibeli barang itu pun diberikan lagi kepada penjualnya beserta uangnya.

Menjalani semua kewajiban sebagai ayah seperti menyemai tanaman yang tak pernah tahu kapan dan seperti apa berbuahnya. Kita anak-anaknya adalah makhluk yang terus berubah, berkembang tapi juga labil, ranum membanggakan tapi juga sering menjengkelkan. Ibu kita mengandung Sembilan bulan untuk menunggu kelahiran kita dengan bertaruh nyawa, lalu ayah kiita menunggu belasan tahuns ejak kita diberinya nama untuk bisa dilihat sebagai manusia dewasa yang hidup dengan sepenuh kesadaran sebagai orang. Itu pun tak jarang seperti bertepuk sebelah tangan.

Menghadirkan kembali kenangan akan ayah kita, pada sebagian hidup kita, selalu relevan selamanya…

Mengenang ayah dalam garis ketersambungan kita dengan hidup tidaklah mudah. Sebab kita anak-anaknya, sering gagal memahami peran ayah pada keseluruhannya. Kita menghadirkan ayah kita hanya pada beberapa potong dari seri hidup kita yang panjang. Ayah hanya kita hadirkan dalam kesadaran kita di saat memerlukan uang,misalnya. Untuk biaya kuliah, kita dengan lepas memintanya sebagai jatah. Tapi ketika kita harus memulai hidup sendiri, kita tetap meminta uang. Entah untuk menyewa kontrakan, atau menambah modal usaha kecil-kecilan. Kali ini kita bilang ke ayah bahwa kita memijam. Tapi seiring waktu kita tak juga mengembalikan. Setiap kali kita bilang ke ayah bahwa kita belum punya uang untuk membayar hutang, ia pasti hanya tersenyum. Ia pun merelakan begitu saja.

Ayah hanya kita hadirkan ketika kita merasa harus membuat keputusan besar dalam hidup. Meski tak jarang dan tanpa sadar, kita ingin menjadikan ayah pendukung keputusan besar itu, agar kelak bila keputusan itu salah atau gagal, kita bisa membagi rasa bersalah dengan ayah. Dan, lucunya, bila kegagalan itu benar-benar terjadi, ayah kita pun dengan rela menerima pembagian rasa bersalah itu. Lalu kita pun merasakan suasana batin yang lebih ringan. Tidak semua tekanan tersesak di dada kita. Sebab ada ayah kita yang turut mengambil beban.

Ayah kita memberikan seluruh hidupnya untuk kita, tapi kita membagi sangat sedikit untuk ayah kita. Ayah kita mengorbankan seluruh dirinya untuk kita, dan kita memberi penghargaan sangat sedikit untuk dirinya. Kita, anak-anaknya, membebani pikiran ayah kita sepanjang waktu. Tapi pikiran kita hanya sesekali waktu melintaskan kehadiran ayah kita.

Tanpa kita tahu, tanpa kita sadari, sejujurnya begitu pendek saat-saat ayah kita benar-benar merasakan sebagai ayah dalam pengakuan nyata kita. Namun, ayah kita tidak berhenti memberi untuk kita apa-apa saja yang ia bisa beri. Bila situasi semakin berat, ayah kita akan dengan tegar mengkonversi semua keterbatasan dan ketidakpedulian anak-anaknya dengan sikap penerimaan yang tulus.

Sejatinya, ayah kita meletakkan diri kita di dalam hatinya. Tapi bahkan kita pun tak setiap saat menempatkannya pada kenangan kita. Padahal pada baju yang kita kenakan, ada tangan-tangan ayah. Sebagian atau bahkan semuanya. Pada buku yang dulu kita pelajari, dan membuat kita layak menyandang gelar lulusan SMU, lulusan kuliah, lulusan akademis, ada jerih payah ayah. Pada sebagian penopang hidup yang membuat kita terus berlanjut, ada tangan-tangan ayah kita.

Kadang kenangan akan ayah berubah menjadi rindu yang tak kan terobati. Sebab ayah kita sudah pergi untuk selamanya. Mungkin kita telah memastikan bahwa kita tak pernah menyakitinya, apalagi durhaka kepadanya. Tapi percayalah, begitu ayah kita tiada, kita baru merasakan, betapa masih banyak yang belum kita lakukan untuk ayah kita tercinta. Kita pasti menyesal betapa belum banyak yang kita perbuat untuk membahagiakannya, meski secuilpun ia tak pernah meminta kita membahagiakannya.

Seorang lelaki berkisah kepada Tarbawi. Saat ayahnya meninggal, ia berusaha tegar dan tidak menangis. Dalam sakitnya yang berbilang tahun, ia mencoba merawatnya. Ketika teman-temannya berta’ziah, terman itu berkata,”tapi sudah puas kan, berbaktinya?”. Temannya itu melihat bahwa lelaki itu telah mencoba merawat ayahnya hingga akhir hayat. Begitu temannya mengatakan kalimat itu, lelaki itu lari ke kamar dan menangis panjang. Ia bisa tegar untuk kehilangan ayah tercinta. Tapi ia tak akan bisa merasa telah puas berbakti apda ayahnya,”Seberapapun yang telah kita lakukan, tidak ada kata puas untuk berbakti pada orangtua,” kenangnya pada Tarbawi.

“Ayah, sungguh aku rindu padamu. Aku sangat mencintaimu. Aku tahu bahwa hubungan kita sangat baik. Aku tahu bahwa engkau sangat tahu seberapa besar cintaku padamu. Kini aku hanya ingin mengucapkannya lebih sering lagi,” (Ron Kesicki)

Minimal sekali dalam hidupnya, ayah kita pasti pernah menangis untuk kita. Tapi pernahkan kita menitikkan airmata untuk semua kebaikan ayah kepada kita yang tak bisa kita balas?Sampai sejauh ini pun, saat ayah kita semakin tampak lelah dan tua, atau bahkan telah pergi untuk selamanya, mungkin kita masih juga belum menyelami lebih jauh isi hati dan perasaan ayah kita. Dengan jadwal hidup kita yang semakin rutin, kita tak pernah berhasil membuat kunjungan yang berkelas untuk ayah kita. Padahal untuk perjalanan yang lain kita begitu sempurna menyapkan dan menjalaninya.

Waktu selalu pendek. Terlalu sedikit yang kita bagi. Padahal ayah kita ingin banyak mendengar cerita dari kita. Ia mungkin tak mau secara khusus meminta kita. Rasanya terlalu formal, seperti atasan meminta laporan. Seharusnya sesekali secara khusus kita duduk bersama ayah untuk waktu yang lama, khusus untuk menceritakan apa saja tentang diri kita. Atau bertanya tentang apa harapan-harapannya dari kita. Pasti akan kita dapati raut muka dan air wajahnya berbeda. Pasti kenangan kita akan ayah tercinta terasa berbeda.