jump to navigation

Nasihat Ibnul Jauzi March 17, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, Mengutip..cuplikan, SimplyZiyy.
Tags: , ,
add a comment

“Aku pernah tertekan dengan masalah yang menjadikanku selalu dalam kegelisahan. Aku berusaha sekuat tenaga agar terlepas dari jeratan kegelisahan itu. Tapi upaya yang kulakukan itu sia-sia. Lalu aku membaca firman Allah ini: “Dan barang siapa yang bertakwa pada Allah, maka ia akan diberikan jalan keluar dan diberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga.” (QS. Ath Thalaq).

“Aku mengerti bahwa ketaqwaan merupakan jalan keluar dari seluruh kegelisahan. Maka, selama aku ada di jalan memuwujudkan takwa, pasti kudapati jalan keluar dalam menghadapi masalah apapun. Seorang makhluk tidak boleh menyandarkan diri kecuali pada Allah. Allah-lah yang akan mencukupinya. Seseorang bisa melakukan usaha apapun, akan tetapi hatinya tidak boleh tergantung pada usaha itu. Hati-hatilah melanggar batasan Allah, sehingga engkau menjadi hina di hadapan Allah dan kecil di hadapan makhluk-Nya.”

“Aku menemukan orang yang usianya disumbangkan untuk ilmu hingga ia tua. Tapi ia melanggar larangan Allah. Jadilah ia dihinakan oleh Allah dan dikecilkan oleh makhluk Allah. Mereka tidak menoleh padanya meskipun ia orang yang luas ilmunya, kuat argumentasinya dalam berdebat. Aku juga melihat ada orang yang berhati-hati dan merasa diawasi oleh Allah dalam hidupnya. Ia juga mengutamakan tuntunan Allah meski ia tidak sebanding ilmunya dengan orang alim tadi. Tapi Allah meninggikan kehormatannya dalam hati makhluk-Nya sehingga ia dicintai banyak orang karena kebaikannya.”

“Aku pernah mengalami kesulitan dan kepayahan. Kemudian aku perbanyak doa untuk memohon keselamatan dan ketenangan, tapi tampaknya doaku tak kunjung dikabulkan sebagaimana harapanku. Jiwaku gelisah, lalu kukatakan padanya dengan keras: “Celakalah engkau, periksalah keadaanmu. Apakah engkau ini budak atau raja? Tidakkah engkau tahu bahwa dunia adalah tempat ujian? Jika engkau ingin mendapat apa yang kau inginkan kemudian engkau tidak bersabar tatkala engkau belum mencapainya, di manakah ujian hidup itu jadinya? Engkau telah menginginkan sesuatu yang engkau tidak tahu akibatnya. Padahal bisa saja sesuatu itu justru membahayakanmu. Allah berfirman: ‘Bisa saja engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan bisa saja engkau mencintai sesuatu bagimu padahal itu buruk bagimu. Dan Allah yang Maha Mengetahui sedangkan engkau tidak mengetahui.’(QS. Al Baqarah: 216).”

“Aku mengambil manfaat dari pengalaman hidup, bahwa seseorang hendaknya tidak menampakkan permusuhan pada orang lain, sebisa mungkin. Karena seseorang mungkin tidak menyangka bila ia memerlukan orang seperti itu suatu waktu. Jika ternyata kita tidak memerlukan orang itu untuk memberi manfaat bagi kita, setidaknya ia bisa menghindarkan bahaya.”

alhamdulillah. menemukan tulisan ini di blog seorang saudara. rasa-rasanya apa yang dikatakan Ibnul Jauzi itu memang dekat. semakin meng-eksistensi-kan dirinya yang memang hanyalah manusia yang senantiasa berikhtiar menyisir dan memelihara ilmu.

kita sering berbenturan dengan hal demikian. saat asa menemui lini kegelisahannya.

saat ‘amal rasa-rasany harus ditakar ulang dan ditata sedemikian.

semua itu manusia.

dan cara terbaik bagi kita mengantisipasinya atau menyelesaikannya adalah dengan mengembalikan kegelisahan itudenan menceritakannya pada Allah swt dan meminta perlindungan senantiasa atas ketergelinciran yang akan kita hadapi.

dan tengok lah selalu iman yang adalah cermin dalam diri kita. untuk menimbulkan kepekaan danmawas diri serta perasaan selalu rendah dihadapanNya.

Rabb, berilah sebaik-baik cara untuk kami ikhtiarkan perasaan selalu awas terhadapMu dan janganlah Kau izinkan kami meninggikan apa-apa yang rendah dari kami karena sesungguhnya kami tiada berdaya atas keMahaanMu. .

Gomen March 13, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, Mellow side, SimplyZiyy.
Tags: , , ,
add a comment

Bertemu dalam cinta. Itu telah terjadi sekitar empat tahun yang lalu. Aku dalam kesal dengan bergumpal air bening dari sudut mataku. Disambut hangat pelukan persahabatan olehmu.

Lalu berganti bulan sejak kelulusan. Aku menghitungnya. Satu, dua. .sepuluh . .hingga belasan bulan. Kita terpisahkan. Tidak mutlak, karena pada jeda beberapa bulan, kita bertemu dalam satu-dua jam lamanya. Melepas napas rindu yang memendek.

Setelah satu-dua jam itu, kita bertolak ke arah yang berbeda. Dan aku kembali menghitung bulan-bulan kita tidak bertemu, bulan-bulan aku disibukkan dengan waktuku tanpa bersinggungan denganmu.

Kadang satu-dua kata rindu meluncur dalam sebait pesan elektronik. Itu jika napas rinduku sudah memendek dalam bulan-bulan yang kurasa memanjang. Tak kuasa: mungkin itu penggambarannya. Hingga akhirnya aku merindukanmu dalam tangis.

Malam itu, kita berbincang secara maya. Aku menawarimu janji bertemu di satu waktu. Pagi yang secara rutin berganti malam dalam tak genap purnama, mengulang ritmis. Kita dimainkan situasi. Tepatnya aku-lah yang harus disalahkan atas semua ini. Situasi membuatku menemui hambatan, itu semua kekhilafan yang akhirnya mencederai upaya kita bertemu. Tapi, aku salah menyampaikannya hingga kau dengan peka menanggapinya dengan kesensitifan yang tidak ku duga. Kamu membiarkan pikiran bahwa pertemuan kita menguap dan tidak terlaksana pada akhirnya. Padahal aku hanya butuh keyakinan bahwa aku berusaha memadamkan hambatan yang ada dan akan tetap menemuimu. Harusnya kita menyadari itu.

Karena hubungan ini membuncahkan rindu yang mengait jejalinan harap. Hubungan ini selalu membawa kita pada haru. Membawa kita pada menguatkan satu dengan yang lain.

Naas. Di titik ini, aku tidak membuatmu merasa selamat atas lisanku.

Naas. Dan aku merasa betul-betul merugi.

Maafkan aku, saudari yang paling kucinta.

Dengan segenap harap, doa atas penjagaanNya untukmu sudah kulangitkan.

Dan semoga tersisa kedewasaan dan kematangan dalam jalinan ukhuwah kita.

Untukmu keseribukalinya, . . cinta.

*perlu kau ketahui, kasih. Banyak hal terjadi terhadap diriku yang ingin ku jabarkan padamu satu demi satu. Tapi keterbatasan dari diriku dan dari faktor lain, tidak membuatku merasa yakin, waktu yang kita punyai bersama akan sanggup menyederhanakannya. Semata  agar komunikasi kita mengerucut akhirnya pada simpul senyum yang sama.

Menyela Pajak March 1, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, SimplyZiyy, my Life.
Tags: , ,
add a comment

Ini adalah upayaku menyela aktivitas belajar yang sedang ku lakukan. Mempelajari PPN, Bea Meterai, PBB, dan BPHTB. Hpfhh . .sebenarnya menyenangkan. Apalagi bila banyak menemukan bahwa kita seolah bisa memahaminya atau tiba-tiba saja ‘Eureka’ (berteriak sendiri kala bisa menyederhanakan bahasa pajak yang mungkin njelimet pada awalnya ).

Dan pikiranku di sela-sela belajar melayang pada idealism ku yang terluka. Aku ingin menemui kekasihku, sahabatku. Aku merindunya.

Ah, Rabbi. Perasaan ini syahdu.

*melankolis ini menyembul ke permukaan*

Bersama dengan keinginan ku untuk menemuinya, ingatan-ingatan yang sempat ku jalani bersamanya akhirnya kembali menostalgia.

Tentang perasaan dan dialog hati yang akhirnya menjembatani komunikasi kami.

Dialah orang pertama yang membuatku terkesima dengan keajaiban sebuah telepati hati. Hatiku berbicara dengannya, sambutan yang hangat bersambut darinya. Kadang berupa pelukan, kadang berupa senyuman. Dialog hati: akhirnya aku meyakini hal demikian karena dahulu aku pernah begitu jatuh dan terluka dalam sebuah ukhuwah, hingga akhirnya ia membuka dialog dengan hatiku dan tangis beban keluar dan menguap bersama dengan kehangatan pribadi yang terpancar darinya.

Aku pernah membersamainya, itu yang membuatku merasa bersyukur teramat.

#

Berdialog tentang romansa cinta manusia. Itu juga akhirnya muncul dalam perbincangan di sela aktivitas belajar. Awalnya membicarakan cerita dalam sebuah novel, berlanjut dengan cerita-cerita lain. Romansa itu, romansa cinta. Aku tak percaya bahwa aku hanya akan mendengarnya saja melainkan bahwa aku akan mengalaminya. Aku akan mengalaminya dalam fragmen lain di episode kehidupan yang dihadiahi Allah kepadaku.

Karena sebelumnya aku hanya larut dan ahli dalam mendengarkannya, menceritakannya, dan membacanya dari kisah-kisah orang lain. Hingga hampir-hampir aku kurang percaya aku akan memiliki kisah romansa. Berlebihan mungkin ya? Tapi karena sebenarnya aku lupa dengan kenyataan demikian. Sisi itu tersapu atau tersaru dengan fragmen aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari yang aku jalani sejauh ini. Bukan dalam artian aku menganggap bahwa diri ini sibuk dan sebagainya, tapi ya sebegitu saja akhirnya.

#

Aku hanya menyela waktu belajar ini. Cuma berekspresi. Dan akhirnya aku kembali lagi untuk belajar. Ditemani Lays dan ultramilk full-cream. Aku kembali menekuri PPN, PBB, BPHTB dan Bea Meterai.

perihnya, February 26, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, my Life.
Tags: , ,
1 comment so far

aku mulai mengenali kebiasaannya kala sakit.
ia akan duduk diruang tamu.
lurus memandang,
kosong.

kadang matanya berkaca-kaca.
ia menggigit bibirnya.
perih, seolah itu yang ingin dikatakannya.

dan sekali lagi, pandangannya hanya lurus dan kosong.
meski begitu, ia tetap menyahut kala disapa.

hingga akhirnya aku akan mendekatinya untuk bertanya
“kenapa Ma?”

pertanyaan itu tiada langsung ia jawab.
karena yang ia lakukan adalah menatap balik.

ku cecar pertanyaan lain,
“sakit ya Ma? kambuh lagi rasa perihnya?”
“Mama makan apa emangnya? ngga makan yang jadi pantangan kan?”
aku bertanya hati-hati.

baru ia akan menjawab,
“engga. lukanya bertambah..”
lalu ia akan perlihatkan kepadaku.
memang satu dua luka itu makin menghiasi bagian tubuh Mama.

dan setelah melihatnya.
aku diam.
aku tidak bisa memeluk.
aku tidak juga tenang hanya dengan menggenggam tangannya.

karena aku tak tahu rasanya.
aku tidak bisa merasai persis perih luka yan sama,
tapi Rabb . .
aku membayangkan ia mesti tabah membawa luka itu dalam jangka waktu yang ia tahu.
dalam jangka ia menunggu, pengobatan itu berefek baik menyembuhkan lukanya. ia masih menunggu.

aku tahu ia tidak bisa tidur kala perih itu tiba-tiba muncul.
maka ia akan terdiam atau melakukan hal lain.
sayangnya, ia malah lelah kesudahannya.
jadi ia tidak juga bisa beristirahat pun ia tidak bisa terus menghabiskan perihnya dengan melakukan kesibukan ibu rumah tangga. mungkin itu membantu, tapi umurnya sudah terlampau tak mengindah ikhtiarnya itu.

. . .
pada akhirnya, aku menjauh.
aku yang bandel ini tak mungkin terlihat cengeng.
aku gengsi atau apalah itu namanya.
aku tak bisa membahasakan tangisku nanti bila ia menanyakannya.
dan biasanya aku berlari saja.
pamit dari hadapannya.
menyapu tangis yang akhirnya turun.
kemudian kembali.
mungkin duduk disebelahnya,
mungkin menawarinya teh hangat.
mungkin yang lainnya.

Peradaban itu besar January 29, 2010

Posted by faraziyya in Lepas.
Tags: ,
1 comment so far

Berbicara tentang hal-hal besar, memang rasanya capek. Bikin lelah.

Lebih-lebih bila membicarakan peradaban.

Aku menghargai, bahkan menyukai untuk terlibat dalam dialg mengenai peradaban. Inilah mungkin situasi saat pangkal pemikiran dimbang-ambing.

Bisa saja terjerembab, namun bisa lebih indah saat dirimu memiliki pegangan dan kemudian terkendalikan. Fikrah- bisa dibawa ke dalam pintu-pintu yang berbeda yang lebih membuka mata-mu yang menghilangkan silau dari pandangan mata.

Ah, memikirkan manusia dan peradaban. sungguh seperti memangkul gunung. Ini mengait dan erat dengan kemanusiaa. Manusia yang memiliki cipta dan karsa dan memiliki kerajaan pemikiran yang lantas tidak mudah diterabas..

Tapi menyejukkan, bahwa ada sjalinan keinginan untuk membangun sebuah peradaban yang islami.

MasyaAllah

Allah al-Malik. Raja dari segala raja

SDIT Baitul Maal bersemangat!

13 Safar 1431 H

penuh bukan sepenggalan January 23, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, Mengutip..cuplikan.
Tags: , ,
add a comment

keberlangsungan dakwah berlaku hingga kehidupan Islami menjadi aturan hidup sepanjang hayat. .

sampai di titik itu, kita yang mengharapkan diri adalah bagian dari segolongan umat yang menyeru pada kebaikan, akhirnya harus menyadari bahwa konsekuensi kehidupan islami menjadi aturan hidup sepanjang hayat adalah totalitas.

menjemput totalitas, mengupayakan totalitas, serta memelihara diri dalam orbit perjuangan yang diwarnai totalitas.

January 18, 2010

Posted by faraziyya in Lepas, Mengutip..cuplikan.
Tags: ,
add a comment

“Khalifatul Ardh akan diserahkan kembali ke tanganmu. Bersedialah dari sekarang. Tegaklah untuk menetapkan engkau ada. Denganmulah Nur Tauhid akan disempurnakan kembali. Engkaulah minyak Athar itu, meskipun masih tersimpan dalam kuntum yang mekar. Tegaklah dan pikullah amanat ini di atas pundakmu. Hembuskan hangat napasmu di atas kebun ini. Agar harum-haruman narwastu meliputi segala. Dan janganlah dipilih hidup bagai nyanyian ombak, hanya berbunyi ketika terhempas di pantai. Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu. Kipaskan sayapmu diseluruh ufuk. Sinarilah zaman dengan nur imanmu. Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu. Patrikan segala dengan nama Muhammad. Kalau kembang tak mekar dalam kebun, tidaklah unggas malam akan bernyanyi memanggil bulan. Kalau lebah tidak merongong, tidaklah kuntum akan tersenyum. Kalau nama Muhammad tak ada di alam, tidaklah yang maujud merasai hangat hidup…”

Muhammad Iqbal

no reason, October 8, 2009

Posted by faraziyya in Dariku,, Lepas, SimplyZiyy.
Tags: ,
1 comment so far

bingung sebenarnya aku saat ini,

aku melihat aku masa lalu,

rasa-rasanya aku tiada pernah meniatkan diriku untuk menulis.

apalah aku dengan tulisan?

tiada niat menjadi penulis. berniat menulis pun sepertinya pernah belum terlintas hingga umurku 18 tahun.

menulis serius maksudku,

menulis yang dimaksudkan

menulis dengan tujuan,

namun sekarang, sepertinya aku ingin terbang.

terbang dengan tulisan hasil tanganku, hasil pikirku, hasil tujuanku.

dan jelas aku belum puas sama sekali,

karena kepuasan sejauh ini hanya untukku sendiri,

semoga aku bisa terbang dan menerbangkan harapan ini..

Eksklusif, tak disangkal namun dengarlah dahulu,, September 5, 2009

Posted by faraziyya in Lepas.
Tags:
2 comments

Bismillahirrahmanirrahim

Eksklusif itu melekat pada segolongan orang-orang yang eksistensinya jatuh pada ruang lingkup dakwah dan aktivitas syiar. Eksklusif itu tercermin dari sebagian yang menggunakan busana muslim khas, dengan jilbab lebarnya atau dengan janggut yang dipelihara.

Eksklusif itu hadir saat mereka jarang berkomunikasi dengan orang-orang pada umumnya, berjilbab atau tidak, terkecuali yang mereka kenali sebagai jama’ah.

Eksklusif itu hadir saat mereka menundukkan pandangan berinteraksi dengan lawan jenis dalam jama’ahnya namun tidak terlalu risau untuk tidak menundukkan pandangan saat lawan jenis tersebut dari golongan umum atau yang beragama non-Islam.

Eksklusif itu hadir saat perbincangan mereka tak lagi melibatkan orang umum yang mereka anggap awam. Eksklusif juga hadir saat mereka hanya mau bekerjasama dengan jama’ah mereka.

Eksklusif itu amat terasa ketika secara tidak langsung mereka menanggapi orang awam (bagi mereka) dengan cara yang berbeda. Atau istilahnya, ada standar ganda. Dan biasanya, Sang awam akan begitu kecewa mengetahui banyaknya perlakuan yang dikhususkan untuk mereka.

Itu sekelumit eksklusif dari sisi orang umumnya. Yang mengerti keberadaan orang-orang dengan kriteria di atas. Yang kadang merasa terminorkan karena kebanyakan orang-orang eksklusif itu melaksanakan separuh detak kegiatan di kampus atau di lingkungan sekitar mereka.

Nah, bagaimana dari sisi sang eksklusif?

Kami tidak eksklusif. Adapun kami menjadi segolongan manusia dengan tampilan yang mirip dan bisa dihomogenkan, itu semata karena kami satu pikiran. Karena kami satu keyakinan. Adakah itu salah, jika si A mengganggap berjilbab lebar adalah anjuran yang sebenarnya tersirat dari Al-Ahzab:59, layaknya si B yang menganggap berjilbab lebar adalah yang syar’i sesuai dengan ilmu-ilmu dan syariah yang dia tekuni.

Kami tidak eksklusif. Adapun kami merasa nyaman dengan segolongan manusia tertentu karena ada keterpautan hati satu sama lain. Karena ada sebuah tujuan yang sama. Karena keyakinan bahwa kami harus berjamaah, sebagaimana kehati-hatian yang ditanamkan oleh Sang Khalik adalah bahwa serigala mengincar domba yang sendirian. Lantas dengan perumpamaan itu, segolongan orang yang dihomogenkan oleh manusia pada umumnya lantas menjadi satu dan berhulu dalam sebuah struktural baik non struktural dengan ikatan yang kasat tapi biasa disebut dengan ukhuwah islamiyah.

Kami tidak eksklusif. Jika kami memperlakukan oorang lain berbeda halnya dengan kami berlaku terhadap sesama jama’ah, itu adalah sebuah konsekuensi, karena kami memperlakukan orang lain sesuai dengan kapasitas standar lingkungan tempat kami dan orang tersebut berada. Juga sesuai dengan pengetahuan yang melingkup interaksi kami. Jika kami menundukkan pandangan terhadap ikhwan (sebutan laki-laki), semata karena kami mengetahui bahwa ikhwan tersebut juga mengetahui bahwa menundukkan pandangan adalah anjuran yang diberikan Allah langsung dalam kitabNya. Jika kami belum menundukkan pandangan terhadap lawan jenis yang bukan ikhwan menurut kami, itu semata karena faktor fleksibilitas. Kami menyesuaikan diri. Tak bisa dengan sama kami menegaskan sesuatu karena tiap-tiap manusia berbeda dan berhak mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan kapasitas ia berada. Agar terjadi sinkronisasi dan interaksi terjalin dengan penerimaan dari keduabelah pihak.

Kami tidak eksklusif. Jika kami tersalah dalam memperlakukan orang-orang pada umumnya. Itu semata kekhilafan personal yang sama sekali tidak diniatkan.

Astaghfirullahal’adzim.

Kami menyadari banyak hati-hati yang kecewa diluar sana. Baik karena tampilan kami atau pembawaan kami.

Tapi ketahuilah, bukan kami yang menyetting bahwa diri kami eksklusif. Cap itu datang dari penilaian orang lain. Kami tak menganggap ada yang patut disombongkan dari kami. Kami tidak memberlakukan standar bahwa kami lebih dari yang lain. Sungguh tidak.

Orang lain yang banyak menyetting mindset pikirannya sehingga dengan prasangka dari seseorang bahwa kami eksklusif maka secara otomatis perilaku kami dinilai eksklusif. Harusnya orang eksklusif itu seperti ini, seperti itu. Itu yang biasanya orang lain tuntut. Jika sang eksklusif tadi bersalah dalam berkomunikasi atau kekhilafan manusiawi, lantas orang lain akan memperpanjang kekhilafan tersebut dan tidak menerima kami sebagai manusia. Melainkan sebagai eksklusif yang seharusnya begini, begitu.

Banyak hati-hati yang kecewa. Kami tahu hal itu. Meski tak pernah kami niatkan demikian.

Janganlah nila merusak susu sebelanga. Karena sungguh tiap-tiap orang menanggung apa yang diperbuatnya sendiri-sendiri, masing-masing.

Memang pengharapan atau status eksklusif itu demikian besar positifnya sehingga kadang menyampingkan realita bahwa tergelincir dalam kamu kehidupan adalan sebuah keniscayaan.

Jika memang ada yang tersalah, tegurlah.

Jika memang ada yang tersalah, ungkapkanlah.

Jika memang ada yang tersalah, rangkullah.

Bukan dijauhi. Bukan dimaki dari belakang. Bukan diungkit-ungkit di kesudahan.

Melainkan diperbaiki. Bersama. Baik eksklusif atau tidak. Harusnya ada penggeneralan bahwa kita semua adalah manusia. Yang setiap kita mengerti apa-apa yang bisa tercela dari seorang manusia. Setiap kita adalah cermin. Jika kita mungkin berbohong, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa terjebak dalam kebohongan.

Jika kita bermuka masam, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif pun bisa bermuka masam atas sebuah ketidaksesuaian.

Jika kita menangis, ketahuilah jika sebagai manusia, sang eksklusif mampu berbanjir airmata.

Menyengaja Dia membuat kita tidak sempurna. Karena tiada patut kita merasa sebagian sempurna atas sebagian yang lain.

Bukan saudaraku, aku bukan ingin membela diri. Ketahuilah bahwa mungkin saja ini yang dirasakan sang eksklusif sebagai manusia. Allahua’lam.

Yang diperlihatkanNya hari ini. . June 23, 2009

Posted by faraziyya in Lepas.
Tags:
add a comment

23 Juni 2009

Bismillah

Hari ini Dia begitu indah menyiapkan grafik fluktuasi emosiku. Dia beri aku semangat di pagi sebagai hadiah langsung karena berdialog denganNya. Lebih lagi, Dia menyentilkan padaku rindu akan Ramadhan yang rasanya begitu membasuh. Aku jadi bersemangat, untuk awali hari dengan keceriaan baru dan kepositifan laku.

Jangan bayangkan! Sedari shubuh wajahku terlihat sumringah meski mataku bengkak, tapi tetap saja terasa senang.

Hingga saat berangkat kuliah Dia biarkan aku jatuh dari motor karena diserempet motor lain. Membuat tubuhku secara spontan gemetar hebat. Tak ada luka, tapi lemas seketika. .
Ah sudahlah, aku hanya berharap kejadian itu tak merusak hatiku.

Lagi, Dia biarkan aku berhadapan dengan ujian akademis yang benar-benar membuat ‘desperate’

Hhh. . .Bukan itu kawan, yang membuat hariku benar-benar berfluktuasi adalah riak emosi yang benar-benar unpredictable.
Ya. . .Setelah sempat meluapkan isi hati pada seorang saudara, tiba-tiba saja absurdity mampir dihatiku, mengganggu & mengajak bertarung jiwaku.
Argghh. .Aku hanya bisa diam.

Belum lagi endapan-endapan ketakutan yang Dia munculkan lagi ke permukaan hatiku. Membuatku semakin bersedih. .

Inikah yang ingin Kau perlihatkan?

Jika iya, tiada lagi hak jawab yang akan aku gunakan. Melainkan hanya pinta, agar aku senantiasa berada dalam penjagaan terbaikmu. Dalam hikmah-hikmah yang baik. Dalam teguran-teguran nan menambah keimanan.

*yang Kau perlihatkan padaku, apapun itu, kan selalu ku terima. Meski aku bisa jadi terkejut atau mungkin sedih. Asal ini bentuk kasihMu*