[Trip] Cikoredas & Anak-anak Tajir

Ini tentang paruh kedua, perjalanan saya, seminggu kemarin. Bersama 7orang lainnya, mendampingi kegiatan 3hari 2malam PKD (Peduli Kehidupan Desa) & Trip Observasi kelas percepatan belajar SMP PB. Soedirman. Yang membuat saya melompat, bercerita tentang hal ini, adalah tutur tulisan Ust. Fauzil Adhim, yang bunyinya seperti ini:

“Cukuplah orangtua dianggap menyengsarakan anak apabila ia membiasakan anaknya hidup mudah. Betapa kita belajar, bahkan untuk melahirkan seorang pemusik handal saja, perlu kerja-keras, kesungguhan dan kesediaan untuk menempuh jalan yang sulit. Apalagi jika kita menginginkan lahirnya generasi yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah; generasi yang mengikhlaskan kesenangannya demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Sungguh, bukan kemampuan public speaking yang perlu kita tempa pada diri mereka. Tetapi kesediaan untuk berjuang dengan ikhlas. Mereka tak keluh menghadapi yang kaya, tak angkuh menjumpai yang papa.”

Mendapati tulisan ini, dinipagi ini, saya mengingat mereka yang sempat saya dampingi. Program PKD ini, pada dasarnya adalah perwujudan 7values, nilai terakhir. Yang intinya adalah tentang caring to others.

Mereka termasuk anak-anak yang terbiasa hidup mudah. Dalam tiga hari-dua malam, mereka dilepaskan dari kemudahan akses yang tersedia dikota dan lingkungannya. Diminta peduli, kepada kehidupan yang tidak familiar. Meski, sebenarnya tidak seberapa jomplang dengan kehidupan mereka. Toh, desa yang mereka kunjungi, kehidupannya tidak udik amat.

Dalam penutupan PKD ini, beberapa murid ditanya oleh Pak Nur Alam. Seorang Kepala Sekolah yang disegani, dan bahkan oleh kami yang baru menemuinya, Pak Nur begitu kharismatik. Mereka ditanya, apakah mereka mau untuk tinggal lebih lama lagi di desa Cikoredas? Mereka, hampir semua menjawab, mereka ingin pulang. Jawaban yang sangat wajar, jawaban yang sangat polos dari anak-anak berusia rata-rata 12 tahun itu. Jawaban semacam itu, indikasi gagalnya kah PKD ini? Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Yang jelas, ada ingatan yang terukir dalam pikiran mereka, tentang kehidupan yang tidak seinstan kehidupan mereka di kota.

Kami, tujuh orang yang mendampingi 33 peserta dalam acara ini, memiliki cara mendampingi yang berbeda. Dan ini tentang saya, cara yang saya pakai dalam mendampingi mereka.

Diantara tujuh orang mentor, saya adalah yang paling sedikit pengalamannya menjadi mentor. Pun karakteristik bawaan saya yang pleghmatis, sedikit-banyak mempengaruhi cara pendampingan saya. Bukan seorang pendamping yang tegas, sehingga saat ada seorang mentee yang mengeluhkan adanya agenda QL berjamaah, saya balas dia dengan senyum dan menjawab dengan jawaban yang singkat dan tak langsung memaksanya ikut. Meski begitu, saya tetap memberi pengertian dan meminta dia, setidaknya, mendirikan 2rakaat Qiyamul Lail.

Saat kemudian, mentee yang sama mengeluhkan satu-dua konten acara, saya tidak menyanggahnya. Pertama-tama mengiyakan saja keluhannya, sambil tetap mendorongnya bergabung. Semisal saat dia tidak ingin ikut senam pagi, karena kantuk berat yang dibawa oleh pembiasaan bangun lebih awal.

Atau saat, mereka acuh, sibuk dengan aktivitasnya setelah makan siang. Sepertinya memang sedang tidak mendengar ajakan saya untuk membawa makanan-makanan yang masih ada ke meja makan dalam. Akhirnya saya membawa semua piring satu per satu. Ya, sikap yang salah, saya membiarkan mereka tak membantu saya.

Dan saat, ada yang mengeluhkan makanan. Saya menahan sabar, melunakkan bahasa saya, memberi pengertian bahwa tidak baik sikap tidak bersyukur macam itu. Saat mereka mengerjakan presentasi, saya membiarkan mereka memakai gagasan saya. Menyalahi tujuan yang mestinya mengimpuls ide-ide mereka.

Semua sikap yang saya ambil dalam mendampingi mereka, sangat tidak membantu tempaan kemandirian bagi mereka, kecuali sedikiit saja. Saya menyesali hal itu. Apalagi setelah membaca tulisan singkat Ust. Fauzil Adhim diatas. Saya langsung merasa bersalah. Ingin rasanya mengulang trip kemarin, melepas mode pleghmatis dan menggantinya dengan sedikit koleris yang mungkin lebih berfungsi dalam trip tersebut.

Saya memperhatikan mentor-mentor lain, dan saya agak iri. Saya tersudut dengan improvisasi yang sangat seadanya dibandingkan dengan yang lain. Saya merasa bersalah pun, terhadap mereka -para mentor. Karena cara saya, jauh dari mendewasakan anak-anak yang saya dampingi.

Tapi dalam hati, dalam sholat-sholat saya kemarin, saya terus meminta untuk bisa menjalani trip tersebut dengan baik. Berdoa kuat-kuat agar bisa mendampingi mereka dengan baik.Saat sedikit dari yang saya lakukan kemarin, ternyata masih saja tidak cukup, saya tetap berharap ada jejak mendalam dalam diri mereka yang membantu mereka mengarifi kemandirian dan kedewasaan.

Dan saat-saat ini, saya berdoa biar mereka bertumbuh menjadi pribadi luarbiasa. Dan semoga, lewat tangan-tangan lain, mereka mendapat tempaan ketegasan dalam membentuk kedewasaan mereka. Semoga ada tangan-tangan seperti Pak Nur Alam, yang lebih banyak lagi untuk mereka temui, dan menempa mereka untuk berjuang dengan ikhlas. Aamiin

dalam malam yang membawa rindu & rasa bersalah sekaligus.
mengingati kalian: Maryam (Tata, Tika, Aisyah & Intan) juga Al-Ghazali (Ivan, Daffa, Enggar, Wike, Saras, Karin)

dalam pagi dengan matahari yang masih malu, mereka menyimak cara bersawah

anak-anak akselerazel yang menyenangkan

Your 3rd year, Faraziyya

Kamu, faraziyya, lahir atas dorongan Ella. Seorang sahabat yang menganjurkan membuatkan blog. Ini tahun ketiga dan aku telah menyesakimu dengan 243 jurnal. Mestinya aku membuat jurnal ini, 22 Desember lalu. Kali pertama napasmu tertiup dan menghasilkan tulisan tentang Mama. Kamu, faraziyya, moda belajar menulisku yang pertama. Setelahmu, baru aku memiliki multiply dan tumblr. Sehingga bagaimanapun, aku akan kembali padamu. Meski kadang perawatanmu tak lebih baik dari perawatan multiply dan tumblr. Aku tahu, kamu tak pernah cemburu. Tak pernah, karena kamu tak bisa.

Miladuki saa’id. semoga terlimpah keberkahan atas kehadiranmu yang telah memudahkanku meluapkan emosiku. Bersabar terus ya, atas jurnalku yang  mungkin tak memenuhi ekspektasimu. Yang mestinya lebih bagus secara bahasa, ataupun konten. Yang mestinya lebih rutin, lebih hidup dan menghidupkan. Tapi kamu tahu, aku pun berusaha sebisanya.

Menginjak tahun keempat ini, aku belum ingin menjanjikan apa-apa padamu. Setidaknya belum ingin mempublikasi janjiku melalui jurnal ini. Ada janji tersendiri, yang ku buat dalan bertumbuhnya diriku bersama dirimu. Biar aku menyimpannya dulu, mengelola energiku, lalu menghadiahinya untukmu kelak. Bersabar ya.

Sekali lagi, selamat bertumbuh, faraziyya.

[Trip] Jogja Berhati Nyaman

Dalam buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Ustadz Salim bercerita tentang Jogja dan karakter orang-orangnya. Tapi saya tidak bisa mengingatnya persis, pun tidak memiliki bukunya untuk kembali saya buka, mengambil ceritanya dan menaruhnya sebagai prolog jurnal ini.

Senin pagi, 19 Desember 2011, saya kembali menginjakkan diri di tanah Jogja, lebih tepatnya di Yogyakarta karena saya singgah di Kulonprogo yang (kata Novia) tidak masuk daerah kotanya Jogja. Menghirup kesejukan subuh yang lembap dan dingin, langsung dihadapkan dengan wajah-wajah ramah yang memenuhi stasiun wates. Seketika perasaan saya hangat.

Kali pertama, saya ke Jogja demi studiwisata. Dibawa bus besar, bersama rombongan murid SMA, mengunjungi beberapa titik di Jogja. Menginap di penginapan daerah Kaliurang, mampir ke parangtritis, jalan-jalan malam di Malioboro, selebihnya tidak banyak yang bisa saya ingat. Saat itu, waktu perjalanan kami terpaket menjadi empat hari. Dan saya belum seperti ini, masih tidak membuka diri untuk lebih mengenal dan menikmati Jogja.

Kali kedua, saya ke Jogja –dengan waktu singkat- demi menghadiri workshop yang diselenggarakan BPPM Balairung UGM. Bertemu dengan pelaku pers mahasiswa dari banyak PTN, juga PTS. Dan saya lupa, menginap dimana ya waktu itu? Yang masih saya ingat, bertemu dengan banyak pribadi idealis. Mahasiswa-mahasiswa yang santai, suka mengopi dan merokok, menghabiskan malam dengan berdiskusi banyak hal. Lalu bersama-sama menyanyikan lagu heroik –ala mahasiswa idealis.

Dalam waktu singkat kala itu, saya sempat mampir ke Klaten. Dengan bantuan Prameks, mampir ke rumah Ijonk, sesama mabeng. Dan yang paling saya ingat adalah keputusan untuk pulang dengan mendadak. Terdorong sebuah sms ‘perintah’ yang sebenarnya ‘permintaan’ dari ketua kelas dan beberapa classmate, menyuruh saya pulang. Demi presensi kuliah, dimana pada matakuliah itu saya sudah hampir menghabiskan jatah absen. Malam itu juga, dari Klaten, saya pulang dengan kereta ekonomi malam. Sendirian. Dan saat itu, adalah kali pertama saya keluar Jakarta tanpa sesiapa. Kereta ekonomi pun, saat itu belum begitu bersahabat, saya tidak dapat tempat duduk. Dan akhirnya, disilakan sedikit ruang, biar tak lama bergelantungan.

Kali ini pun, singkat. Totalnya hanya tujuh jam, saya menghabiskan waktu di Yogyakarta. Menikmati lingkungan yang membesarkan Novia, mengambil sedikit pagi berjalan menyusuri daerah desa yang sepi. Menikmati ritmisnya anak sungai Progo, kemudian berfoto-foto. Lalu kembali ke rumah yang saya singgahi, menghabiskan waktu dhuha dengan memejamkan mata demi menghilangkan pusing di kepala. Lalu merapikan diri, mengambil janji untuk berkeliling di sebagian Yogyakarta sekali lagi.

Ibunya Novia, yang berwajah dan berhati ramah, mengantarkan saya hingga ke tempat untuk naik bis. Cukup jauh, menurut saya, meski Novia selalu bilang dekat. Dalam boncengannya, saya mendengarkan apa-apa yang disampaikannya tentang Novia, sembari berharap memupuk keakraban dan berdoa dalam hati untuk kembali bersilaturahmi. Lalu menikmati langit dari bis, sebelum dibonceng oleh Bela yang menunggu di perempatan dekat SMA Muhammadiyah.

Saya minta pada Novia, diantarkan ke Masjid Jogokariyan. Entah, saya hanya ingin tahu, seperti apa masjid itu. Sehidup apa lingkungan disekitarnya. Ketika disampaikan, Masjid Jogokariyan mengingatkan saya pada kompleks yayasan Al-Hikmah. Padahal bisa jadi, tidak ada kemiripan. Saya hanya mengandalkan perasaan untuk impresi singkat ini. Saya benar-benar hanya berkunjung, tanpa meninggalkan jejak shalat disana, sayangnya.

Lalu, kami beranjak untuk makan siang. Ditawari gudeg, tapi saya menolak. Saya ingin sesuatu yang lain. Tapi sayang, Bela ataupun Novia bukan seseorang yang sering jalan-jalan kuliner. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan soto. You know what? masakan Jogja, yang selalu manis itu, cocok di lidah saya. Mungkinkah itu cuma perasaan saya, mencari-cari kecocokan dengan Jogja? Entah. Saya tidak menolak, bila kelak bisa beririsan dan memiliki jogja sebagai rumah kedua saya ^^v.

Lalu kami melewati Malioboro, menuju Beringharjo. Fokus! Ingin membeli rok. Didesak oleh persediaan sandang yang ‘agak’ seadanya, saya membawa pulang 2 rok batik. Yang kemudian saya pakai saat menuju semarang.

Terlihat agak maksa ya, pemberhentian di Jogja ini. Tapi saya begitu menikmati perasaan nyaman yang dihadirkan Jogja, menikmati langitnya yang luas, menikmati kepolosan saya yang menyebut huruf jawa sebagai huruf sansekerta, menikmati sensasi manis yang selalu ada dalam masakan Jogja, menikmati lambatnya saya beradaptasi dengan karakter berkomunikasi -berbahasa Jawa dan menikmati rindu untuk Jogja yang begitu cepat hadirnya.

Semoga bisa disampaikan kembali, ke Jogja berhati nyaman. Aamiin.

[Trip] Membuka Diri

Minggu, 18 Desember 2011

Pukul 17.14 dan saya telah berada di stasiun tanah abang. Kereta Bengawan baru akan berangkat sekira 2,5 jam lagi. Saya memutuskan duduk di bangku panjang yang diperuntukkan bagi penumpang. Bersisian dengan sepasang laki-perempuan, di sebelah kiri, yang sedang asyik berbincang, berbagi jajanan, dan berbagi canda-tawa. Diseberang, arah serong kiri, pun ada sepasang laki-perempuan yang tenggelam dalam aktivitasnya menyisihkan sampah gelas plastik. Entah, akan di-apa-kan nantinya, saya tidak berani menyeberang demi bertanya pada mereka.

Menunggu seperti ini, inginnya saya mendengar musik dari pemutar musik yang ada di handphone. Tapi saya urung, demi baterai handphone terjaga. Maka buku ‘Meraba Indonesia’ yang baru saya beli, sore ini juga, membantu saya menyelisihi waktu-waktu menunggu seperti ini.

Tapi kemudian kelebatan dalam pikiran membawa fokus saya melayang. Teringat istilah seorang (mantan) classmate, yang menanggapi racauan saya dalam jejaring sosial, bahwa saya ini sedang galau pra-perjalanan. Dan tanggapannya itu benar, saya akui demikian. Sebelum-sebelum ini, saya cuma tahu betul bahwa saya ingin keluar Jakarta, memikirkan biaya yang perlu saya siapkan, tapi tak menetapkan waktu perjalanan. Hingga akhirnya, mengunjungi ibu seorang teman menjadi alasan. Terkesan tergesa, saya membeli tiket terlebih dahulu dibandingkan meminta izin ayah.

Dan saya bisa saja langsung menuju Blora, tempat sahabat yang ingin saya kunjungi, tapi kemudian tiket yang saya beli adalah tiket menuju Jogja. Entah, mungkin memang dasarnya saya ingin kesana. Ingin disampaikan kesana.

Tak membuat itinerary, dilimpahi kuasa keputusan tujuan, moda transportasi selama perjalanan, saya keder. Hey, i’m not such a pro-traveler. But, can i say that to the one who believe in our journey together? She is willing to accompany me, it should be enough.

Satu hal terakhir, yang memenuhi benak saya sore ini, tentang sebuah bekal yang mesti saya bawa sepanjang perjalanan ini dan (mungkin) perjalanan nanti-nanti: membuka diri, perlu membuka hati. Karena saya bukan tipikal orang yang mudah membuka komunikasi, membuka diri menjadi perlu. Karena saya seringnya merasa cukup dengan apa yang ada dibenak, membuka diri bisa menjadi jalan untuk berbagi pikiran. Karena saya tipikal orang yang cepat merasa cukup, membuka diri menjadi cara untuk tetap haus. Dan dengan membuka diri, meski tak mudah memulainya (bagi saya), perjalanan ini akan lebih menyenangkan dan bermakna. Semoga.

Menjauh untuk Pulang

Pukul 15.53, sekitar empat jam lagi, saya akan berada dalam bis menuju Jakarta. Pulang. Menemui wajah-wajah yang tak asing. Mendapati bahasa percakapan yang tak lagi asing. Meraih tangan Ayah, untuk dicium. Menyisir ingatan tentang Mama, yang hanya bisa dibaui lebih dirumah, di Jakarta.

Tak jarang yang bertanya,” Java Touring-kah?”
Saya malah bingung menjawabnya. Sejatinya saya mengambil jarak 14 Jam, menuju Blora, demi menemui saudari. Menjenguk ibundanya. Tapi dalam 14 Jam perjalanan itu, saya mengambil waktu berisitirahat di Jogja. Mengambil keuntungan dengan menjenguk keluarga saudari yang lain. Menghirup oksigen di Kulon Progo. Menemui wajah-wajah ramah, mengenang Jogja berhati nyaman dalam 6 jam jeda. Lalu membawa ingatan, permintaan, akan langit mereka. Langit yang luas, langit yang membuatku betah memandangnya lama-lama. Langit mereka yang membuatku berkhayal, macam planetarium-kah kelak, saat tiba pertengahan bulan-bulan hijriah. Saat purnama menyembul, tak sendiri. Saat purnama bisa diresapi di langit yang bersih.

Bukan touring, tapi saya membayar rindu. Meminta bertemu dengan seseorang yang lebih dari setahun lalu, meninggalkan saya, meninggalkan kami. Seorang ‘pendamping’, seorang ‘guru’. Lalu merasai lagi kehangatan yang ringan dan tulus, di Semarang ini. Mengenal lagi putri-putrinya yang sempat melupakan nama dan wajah saya. Mengakrabi pertumbuhan mereka. Putri sulungnya, menjadi sulung yang jiwanya matang. Sedang si adik, menjadi lebih aktif. Sangat aktif. Dan saya berada dalam keluarga lain. Keluarga yang membuat Pagi saya tadi, terasa hidup kembali.

Bukan touring, saya hanya menghindar dari Jakarta. Mencari alasan untuk rindu. Mencari cara agar bisa menyisakan ruang lebih, untuk mencintai dan kembali mengasihi apa-apa yang sejenak saya tinggalkan. Dan dalam akhir perjalanan ini, ada hal-hal yang bisa terbayar. Tentu saja. Apalagi saya dihadiahi ujian ukhuwah, yang astaghfirullah, saya menyesal telah meninggikan suara saya terhadapnya, kemarin sore. Dan dia meninggalkan saya dalam kondisi yang aneh. Ujian ini belum selesai. Belum. Setidaknya menurut saya.

Dan jurnal ini, dimulai. Garis mulanya adalah akhir, tempat saya mengingat-ngingat kembali. Hikmah-hikmah yang mengayakan hati. Semoga.